kenapa takdir kejam padamu [bro]

105 79 4
                                        

Terkadang takdir lah yang membuat seseorang merasakan pedihnya tamparan kenyataan, agar sadar tidak semua hal yang sama untuk diperjuangkan.

Garry memandang langit biru sambil teringat apa yang dia katakan kemarin kepada gadis itu. Sudah hampir lima belas menit tapi dia masih betah terdiam disana sendirian sambil memikirkan hal konyol yang telah dia perbuat.

"Kenapa gue sok bijak kemarin, kalo diingat-ingat memalukan begok"

"Woy, lo ngapain bicara sendiri? Gue kasihan sama lo mana masih muda" mata Garry terbelalak saat mendengar ucap kusuma. Sedangkan Agung, Rafar, Agra dan juga Gema hanya tertawa melihat tingkah aneh temannya itu.

"Nggk usah mulai lo gue lagi malas debat" kusuma berjalan kearah Garry dan memegang dahi pria itu. Keningnya berkerut seperti memikirkan sesuatu.

"Tumben setan lo insyaf, biasanya ngamuk, oh atau setan lo udah mandi wajib?" Garry yang kesal lansung menepis tangan kusuma kasar.

Untuk kedua kalinya semuanya tertawa melihat kelakuan kusuma yang sedikit feak. Tapi itu tidak berlangsung lama saat Garry menatap agung seperti ingin menanyakan sesuatu.

"Agung, gimana keadaan Rezi?" Agung yang ditanya mengangkat bahunya. Sedangkan Garry mengangkat alisnya setelah mendapat jawaban dari agung.

"Bukannya kalian satu tim futsal?"

"Iya, tapikan gue cuman pemain cadangan, lagian gue nggk dekat sama dia bicara aja nggak pernah apalagi dekat." Garry hanya menarik nafas panjang dan kembali terdiam.

"Kasihan banget lo, ggc"  ucap kusuma Semprotan.

"Ggc apaan?" tanya Gema. Rafar dan Agra mengangguk setuju menunggu jawaban dari kusuma.

"Ganteng-ganteng kok cadangan!"  yang lain mendengar jawaban dari kusuma tertawa sedangkan Agung hanya memutar bola matanya malas.

"Gue nggk peduli lagian gue dipaksa, kalo gue mau itu gampang buat gue tapi sorry gue nggk berminat ada banyak hal yang harus gue kerjain dan lebih penting."

"Eleh, lo tau kakek cangkul? Sok yes lo" 
Garry  tertawa melihat Kusuma yang mulai kesal.

"Tau lah ... tuh, kayak mungka lo, jelek" ucapan terakhir Agung berhasil membuat mereka semua tertawa kencang termasuk Garry, kusuma melihat temannya satu persatu dan mulai merasa kesal.

"Ah nggk asik gue cabut"

Kusuma ingin berdiri namun lansung ditahan oleh Rafar, "mau kemana lo?"

"Tau, nih.. lo bercandain kita, semuanya santai masa lo dibercandain balik baperan." kusuma menarik napas pelan  "iya, iya terserah" Agung sedari tadi hanya menahan tawa sebelum kembali berbicara. "Kalo begitu gue minta maaf, tadi cuman bercanda"

"Santai aja brothers" lanjutnya dan berhasil mengundang tawa mereka untuk kesekian kalinya.

.

.

.

Garry menyelusuri rumah sakit untuk melihat keadaan Rezi tapi nihil dia tidak menemukan keberadaan saudaranya itu, Garry juga sempat bertanya ke salah satu suster kayanya Rezi sudah pulang kemarin siang, tapi dimana dia sekarang bukankah seharusnya dia beristirahat dirumah, itulah yang pria itu pikirkan.

Garry kembali ke parkiran dan melajukan sepeda motor nya, sekarang tempat tujuannya hanyalah markas Rezi lebih dari itu dia benar-benar tidak tau.

Suara langkah kaki Garry ternyata mengundang beberapa teman atau bisa disebut anak buahnya Rezi keluar dari markas mereka, Garry yang melihat itu sedikitpun tidak merasa panik dan terus berjalan untuk memasuki markas itu.
Tapi lansung dihadang oleh beberapa orang mungkin itu anak buah- sekaligus temannya Rezi.

GARRA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang