Garra yang usai sebelum pamit

43 17 1
                                        


"Kakak, Garra nggak mau operasi" mohonnya.

"Garra dengarin kakak ya? Kalo Garra operasi, Garra nggak akan sakit lagi, Garra pasti sembuh." Jelas Mara.

Namun Garra, tetap gigih tidak mau dioperasi, dia tidak ingin merepotkan siapapun, kalaupun dia hidup, dia merasa tidak ada gunanya, dia akan menjadi beban untuk semuanya, dia selalu ingat, sebaik apapun orang kepadanya, mereka tetaplah orang lain. Disaat keadaan seperti ini, seharusnya dia juga tidak merepotkan orang lain. Itulah yang selalu terlintas dipikirannya.

Walaupun dia masih kecil, tapi Garra sangat cerdas  dengan kecerdasan dan kelebihannya, dia bahkan bisa berfikir seperti itu.

"Kakak, ibu, dan ayah, kalian tidak perlu buang-buang uang, untuk operasi ini... Aku nggak papa kok"

"Garra! Dengarin kakak.., kamu nggak mau kan? Bikin kakak sedih." Garra menggeleng pelan sebagai jawaban.

"Tapi Garra pengen ketemu ayah sama ibu. kak" rilihnya.

"Ibu, sama ayah disini kok. Nanti kalo Garra sembuh, Garra tinggal sama ayah, sama ibu dan sama kakak Mara juga biar Garra nggak kesepian tinggal sendirian" jelas Intan.

"Ibu, dan semua yang ada disini, Garra boleh tidur dulu?"

"Boleh sayang" jawab Intan.

Garra mencoba memejamkan matanya dan mulai tertidur, melihat Garra yang sudah tertidur dengan pulas-nya, Mara pamit keluar sebentar ke orang tuanya untuk membeli makanan untuk Garra. Mara tau, pada saat bangun nanti Garra pasti lapar, dia juga tau, Garra tidak terlalu suka makanan rumah sakit.

"Ayah, ibu, Mara pamit sebentar. ya? Mau beli makanan buat Garra."

"Hati-hati.., nanti mampir ke rumah, mandi, solat" ujar Intan.

"Siap buk boss" hormat Mara, tidak lupa tangannya berada samping keningnya. Intan tertawa kecil melihat tingkah laku Mara.

"Sudah bercandanya"

ucap intan. Setelah itu Mara benar-benar beranjak dari rumah sakit. Dia menghentikan langkahnya sambil mengotak-atik handphonenya untuk menelfon Garry.

"Garry kemana si!" Sudah beberapa kali Mara menelfon pria itu, tetap saja, Garry tidak mengangkatnya.

"Kemana si? Padahal akt—"

"Nyariin aku ya?"

Ucapan Mara terpotong lantaran seseorang yang dia cari sedang berada dibelakangnya. Garry melambai kearah Mara dan lansung berlari kecil menghampiri gadis itu.

"Mau jalan-jalan?" Tawar Garry.

"Sekarang bukan waktunya untuk jalan-jalan, disaat Garra sedang dirawat seperti ini."

Garry menyelipkan rambut Mara kebelakang telinganya sambil menatap kantong mata Mara yang sudah menghitam. Mara terpana, dia membalas tatapan pria itu.

"Kamu nggak bisa terus-terusan kaya gini. Ra. Bagaimanapun juga, kamu cuman manusia biasa, aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu" omel Garry.

"Aku nggak papa, Garry!" Jawab Mara.

"Kalaupun kamu nggak mau jalan-jalan buat nenanggin pikiran kamu, seenggaknya, kamu tidur, istirahat" Garry mengusap kantong mata Mara lembut. "Mata ini juga butuh istirahat, Ra" lanjut Garry.

Mara mengusap tangan Garry yang ada di matanya yang perlahan turun ke pipinya.

"Aku nggak papa kok, kamu nggak usah khawatir" Garry menarik nafas pelan, menggenggam tangan Mara lembut,

"gimana aku nggak khawatir, kamu nggak bisa jaga kesehatan kaya gini, aku cinta sama kamu, Ra. Aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu" jelas Garry. Bukannya serius, Mara malah tersenyum melihat ekspresi Garry yang begitu peduli padanya.

GARRA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang