penghapus rindu.

41 19 7
                                        


Dari awal dia sudah tau betapa indah namanya. 'Garra' yang memiliki arti sebuah laut.. Selamat beristirahat, kami sudah merelakan mu.

Happy reading

Fanny dan Aillen mendekat kearah Mara yang sedang terduduk mengusap Nisan Garra. Mereka berusaha untuk menghibur gadis itu, mengusap bahunya pelan. Mereka tau Marra sangat terpuruk sekarang, mereka juga tidak tau ternyata gadis itu begitu sayangnya pada Garra. Walaupun mereka tidak mengetahui apapun tentang anak itu, tapi mereka percaya anak itu sangat sepesial. "Udah ya. Ra? Kita balik, mau hujan" ajak Fanny. Seolah tuli, Mara sama sekali tidak menggubris ucapan Fanny padanya.

"Maafin kakak Garra, kakak nggak bisa jaga kamu" runtuhnya. "Kakak kangen sama kamu"

Garry berdiri dibelakang mereka memberi isyarat agar Fanny dan juga Aillen untuk berdiri, mereka yang peka-pun, lansung berdiri membelakangi Mereka.

"Ra, udah ya?"

"Tapi, Garra gimana?"

"Garra udah ngumpul sama keluarganya disana, dia udah tenang di surga. Tugas kita jagain dia sudah selesai, tugas kita selanjutnya ngasih doa banyak-banyak." Garry berusaha menghibur Mara, pria itu merasa lega saat Mara mendengarkan ucapannya, Gadis itu juga mengangguk.

"Yaudah, yuk. Pergi" Garry menuntun Mara agar segera berdiri. "Garra, kakak pergi dulu ya, kakak janji akan selalu kirim doa banyak-banyak buat Garra ... Garra bahagia ya disana? Kapan-kapan Garra Jangan lupa mampir ke mimpi kakak. ya?"

...

Rifel keluar dari balik pohon saat garry dengan yang lainnya beranjak pergi. Dengan Santi pria itu berjalan kearah makam Garra, sekali-kali matanya memandang bunga yang ada ditangannya yang sengaja dia bawa untuk anak itu. Dengan senyuman tipis, Rifel berjongkok untuk meletakkan bunga itu. "Nama kamu Garra kan? Maafin Abang ya? Seharusnya Abang nggak kabur malam itu" Rifel mengusap batu nisan Garra. "Tapi, Abang nggak maksud buat kabur malam itu, Abang terpaksa, Abang dikejar sama musuh-musuh Abang.. semoga kamu tenang disana."

Setelah tenang, Rifel beranjak dari sana. dia tidak sadar kalau seseorang sedang memperhatikannya dari tadi,

"sorry, ternyata gue salah paham."

Ketukan pintu terdengar beberapa kali, tapi Mara sama sekali tidak menggubrisnya, dia malah menyembunyikan tubuhnya didalam selimutnya. sampai seseorang mulai berbicara dari luar sana. "Mara, ada yang datang nyariin kamu, keluar dulu yuk" ajak Intan-ibunya. "Marra? Kamu dengar ibu kan?"

"Mara capek, Bu. Mara mau tidur" alasannya. dia sama sekali tidak mengantuk, hanya saja, dia tidak mau berbicara sama siapapun untuk saat ini.

"Gimana, Tante? Mara mau keluar?" Tanya gadis itu, ibu Mara menggeleng sebagai jawaban.

"Nggak papa, Tante aku nitip kotak ini aja buat Mara. Kalo begitu, aku pamit dulu, assalamualaikum" pamitnya.

"Waalaikumsalam.. tapi nama kamu siapa?"

"Rani. Tante"

Mara lansung duduk saat mendengar percakapan ibunya dengan Rani, dengan lesunya, Mara membuka pintu kamarnya dan melihat ibunya masih berdiri disana.

"Itu apa Bu?" Tanyanya.

"Ibu juga nggak tau, tadi ada teman kamu, namanya, Rani. Ngasih ini buat kamu" Intan, menyodorkan sebuah kotak berwarna merah maroon untuknya. Dengan senang hati, Mara menerima kotak itu, dan melihat luarnya dengan detail.

GARRA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang