"berubah, Entah itu perasaan atau emosi. Sangat rumit difikirkan tapi lebih sulit untuk dibicarakan."
Entah kenapa akhir-akhir ini Garry begitu beda, setelah pulang dari pantai beberapa hari yang lalu, dia begitu aneh, seperti ada yang di tutup-tutupi.
Belum lagi dia mendengar ada beberapa orang yang membicarakan Garry sering dengan seorang gadis, walaupun Mara tidak tau siapa gadis yang sering mereka maksud, tapi dia berusaha untuk berfikir positif.
Saat ini dia kembali berdiri didepan gerbang untuk menunggu pria itu. Cukup lama, sampai akhirnya dia melihat Garry sedang berjalan bersama teman-teman. Dengan semangatnya Mara melambai kearah Garry. Garry yang melihat itu sedikit berlari untuk menghampiri Mara.
"Pulang sama siapa. Ra?" Tanya Garry saat berada didepan gadis itu.
"Nggak tau.., kamu mau kemana?"
"Maaf. Ra, aku nggak bisa nganterin kamu, aku lagi buru-buru. Kamu pulang naik bus aja. ya? Atau aku pesankan taksi buat kamu?"
"Nggak papa aku pulang naik bus aja. Kamu hati-hati" ucap Mara tanpa bicara banyak.
"Maaf ya. Ra" ucap Garry tiba-tiba.
"Nggak papa, kalau gitu hati-hati ya" ucap Mara, dan lansung melangkah pergi menuju halte. Jujur saja sebenarnya Mara sedikit kecewa dengan Garry, pria itu benar-benar berubah sekarang.
Pitt
Pitttttt
Suara klakson motor membuat Mara terkejut dan berhenti dari lamunannya, gadis itu terdiam beberapa saat untuk menarik nafasnya, dan berbalik melihat siapa orang yang membuatnya terkejut.
"Pulang sama siapa. Ra?"
"Hanif!.., ternyata Lo? bikin jantungan aja."
"Gue tanya Lo pulang sama siapa?" Ulang Hanif.
"Sendiri, ngesot" ucap Mara santai.
"Kasihan banget hidup Mbah Kunti, sini naik mumpung gue lagi berbaik hati, gue anterin."
"Kalo gue Kunti, gue udah terbang kalik!" Kesal Mara.
"Yaudah kalo nggak mau" ucap Hanif dan lansung kembali menghidupkan sepeda motornya.
"Ehh, iya, gue mau" ucap Mara sambil menghentikan Hanif yang ingin memajukan sepeda motornya.
"Yaudah naik" ajak Hanif.
"Helmnya?" Tanya Mara
"Oh iya.., nih." Ucap Hanif sambil memberikan helmnya ke gadis itu. "
Tanpa basa-basi Mara bergegas memasang helmnya dan lansung menaiki sepeda motor Hanif walaupun sedikit sulit.
"Bisa nggak?" Tanya Hanif.
"Bacot!, Udah jalan aja" balas Mara.
Hanif memajukan sepeda motornya, bukannya mengantarkan Mara pulang, dia malah membawa gadis itu berkeliling, seketika Mara teringat saat dia bersama Garry.
"Lo ingat tempat ini nggak. Ra?" Tanya Hanif. Mara tersadar dari lamunannya saat Hanif mulai berbicara. Pandangan Mara mengarah ke depan melihat tempat yang sudah lama tidak dia tempati.
"Ingat nggak. Ra?" Ulang Hanif.
"Ingatlah, Lo kalo ngambek larinya pasti kesini, mana nangis lagi. Susah banget ngebujuk Lo" jawab Mara mengejek.
Hanif menggaruk kepalanya yang tak gatal, merasa malu dengan apa yang Mara ucapkan, padahal tujuan awalnya hanya untuk mengingat masa-masa kecilnya, tapi, berakhir dengan ejekan.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARRA [REVISI]
Fiksi Remaja"Aku nggk sejahat itu buat ambil kamu dari Tuhanmu" "Kita hanya sekadar dipertemukan bukan untuk disatukan" "ini bukan perihal siapa yang kau cintai tapi ini tentang sebesar apa kamu mencintai" "kisah kita bahkan dimulai dari prolog dan diakhiri den...
![GARRA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/285150442-64-k495413.jpg)