Home
ADBM1
ADBM2
ADBM3
ADBM4
Logo ADBM Group
ADBM lanjutan
API DI BUKIT MENOREH
Entries RSS | Comments RSS
Kalender
February 2022MTWTFSS 12345678910111213141516171819202122232425262728 « Jan
Statistik Blog
7,883,049 kunjungan
Tulisan Terakhir
SEJENGKAL TANAH SETETES DARAH January 5, 2017
PEMBUKA October 20, 2011
Komentar
P. Satpam on KLMM-03P. Satpam on KLMM-03Ryan oke on STSD-34Ryan oke on STSD-32nugrohoyudi on KLMM-03Roys Suroyo on KLMM-03Ridwan34 on KLMM-03P. Satpam on KLMM-03P. Satpam on KLMM-03Ridwan34 on KLMM-03
Archives
January 2017
October 2011
STSD-30
kembali ke STSD-29 | lanjut ke STSD-31
Bagian 1
BUKAN orang yang berdiri tepat di depan pintu yang terbuka sejengkal itu yang membuat dada Ki Patih berdesir tajam, namun seseorang yang berdiri di belakangnya yang membuat Ki Patih terkejut bagaikan tersengat seekor Kalajengking.
“Ki Tumenggung Singaranu,” desis Ki Patih tanpa sadar sambil mengerutkan keningnya dalam dalam.
Kanjeng Ratu yag mendengar desis Ki Patih ikut terkejut. Tumenggung Singaranu adalah tangan kanan Pangeran Purbaya, Pangeran yang membawahi seluruh prajurit Mataram yang berkedudukkan di kotaraja.
“Permainan apalagi yang akan ditunjukkan oleh Pangeran Purbaya setelah pengerahan pasukan kemarin pagi di alun alun?” bertanya Kanjeng Ratu dalam hati sambil pandangan matanya tak lepas dari wajah di belakang pelayan dalam istana itu.
“Masuklah!” berkata Ki Patih kemudian mempersilahkan pelayan dalam itu. Pelayan dalam itu pun kemudian membuka pintu yang menghubungkan pringgitan dengan ruang tengah. Setelah menyembah dalam dalam, pelayan dalam itu pun undur diri. Tinggallah Tumenggung Singaranu yang berdiri termangu mangu.
“Masuklah Ki Tumenggung,” berkata Ki Patih kemudian mempersilahkan. Ki Tumenggung Singaranu pun menghaturkan sembah terlebih dahulu baru kemudian melangkahkan kakinya memasuki ruang dalam.
Sesampainya di hadapan Ki Patih dan Kanjeng Ratu, kembali Ki Tumenggung menghaturkan sembah kemudian mengambil duduk bersila beberapa langkah di samping Ki Patih.
Sejenak suasana menjadi agak tegang. Kanjeng Ratu yang masih belum berkenan dengan pengerahan pasukan di alun alun kemarin pagi telah memandang tajam Ki Tumenggung. Sedangkan Ki Patih tampak menarik nafas dalam dalam untuk mengatasi jantungnya yang terasa sedikit melonjak lonjak.
Setelah terlebih dahulu menanyakan keselamatan masing masing, barulah Ki Patih menanyakan kepentingan Ki Tumenggung Singaranu menghadap ke istana Kanjeng Ratu Lungayu.
“Ki Tumenggung,” bertanya Ki Patih kemudian, “Apakah ada sesuatu yang sangat penting dan mendesak sehingga Ki Tumenggung sendiri yang memerlukan menghadap ke istana ini?”
