31. Eksekusi part 1

3.9K 300 2
                                        

Happy Reading
*
*
*

***

***

"Tuan, nona. Apa yang anda minta sudah saya laksanakan"

"Baiklah, terimakasih om Mikael" Mikael beranjak pergi dari sana.

"Kau benar benar ingin melakukannya sayang?" tanya Arthur sedikit khawatir.

"Ya, tentu saja dad. Anggap saja ini hadiah karna menelantarkan ku" ucap Ella dengan dingin dan tersirat rasa kebencian yang sangat besar di matanya. "Kau yakin? tidak akan menyesalinya?" tanya Arthur sekali lagi.

"Tidak. Tidak akan pernah sedikit pun!!" jawab Ella dengan penuh keyakinan.

'Yahh ternyata meskipun Ella bukan anak kandungku tapi kenapa jalan hidupnya hampir sama dengan ku?? Semoga saja saat dia dewasa kelak, sifatnya tak akan lagi sama denganku'

"Baiklah mari kita ke Red Room" ajak Arthur. Mereka berdua lalu beranjak pergi menuju Red Room yang tak lain adalah ruang penyiksaan.

Saat mereka berdua masuk ke dalam Red Room, bau anyir darah langsung tercium bersamaan dengan suara tangisan korban korban yang tergeletak tak berdaya.

Arthur lalu membuka pintu berwarna putih dengan sedikit noda darah. Di mana itu adalah tempat eksekusi para korban sekaligus tempat hembusan nafas terakhir mereka.

Saat memasuki tempat eksekusi, terdapat seorang wanita berpakaian minim diikat di kursi dengan mulut yang terlakban. Ya, wanita itu adalah ibu kandung dari Ella, orang yang telah menelantarkan Ella bertahun tahun dan namanya adalah Rosa.

"Siram dia" perintah Ella kepada bodyguard yang berada di sana.

"Baik nona" ucap salah satu bodyguard itu lalu pergi untuk mengambil seember air dingin.

Byurr

Bodyguard itu menyiramkan air yang dibawanya membuat Rosa terbangun karna kaget namun ia masih sedikit linglung karna efek obat bius.

"Buka lakbannya" perintah Arthur yang dilaksanakan oleh bodyguard di sana.

Sret

"Argh bedeb*h sial*n!!" umpat Rosa karna bodyguard itu menarik lakban di mulutnya dengan keras.

Rosa masih belum menyadari keberadaan Arthur dan Ella karna dirinya masih melihat keadaan sekitarnya. Saat sudah sadar bahwa dirinya diikat di sebuah kursi, ia lalu memberontak mencoba melepaskan diri.

"Hiks lepaskan!! Lepaskan aku!! hiks tolooongg!!" Rosa masih memberontak namun seketika ia berhenti saat melihat keberadaan Arthur, orang yang sangat ia kagumi berada di sana. "Tuan Arthur!! Tolong hiks tolong akuu!!" ucapnya di dramatiskan berharap Arthur akan menolongnya.

Arthur lalu berjalan menghampiri Rosa dan mengangkat dagu Rosa agar menatapnya. "Kau ingin ku selamatkan?" tanya Arthur dingin, Rosa mengangguk cepat menyetujui perkataan Arthur.

"Apa imbalanku jika menyelamatkanmu?"

"Ahh, aku akan memberikan seluruh tubuhku untukmu Tuan" ucap Rosa dengan sedikit mendes*h berharap Arthur akan terangsang padanya.

'Cih menjijikkan' batin Ella berdecih.

Ella mengeluarkan cutter andalannya dan mengendap endap berjalan di antara mereka berdua, Rosa yang berfokus pada Arthur membuatnya tak menyadari keberadaan Ella sedikit pun. Ella lalu menancapkan cutternya itu di paha Rosa dan menariknya hingga ke lutut, membuat Rosa langsung berteriak kesakitan tak lupa kaki kanan Rosa seketika berlumuran darah.

'Cih, darahmu ini terasa menjijikkan'

"Sudah berteriaknya?" tanya Ella santai namun dengan nada dingin dan wajah datar.

"S-siapa k-kau?!!" Rosa panik bukan main karna melihat anak kecil di depannya ini membawa sebuah cutter, namun ada hal lain yang membuatnya panik sekaligus bingung. Mengapa anak kecil ini wajahnya hampir mirip dengannya??

"Kau terkejut melihatku?? Ibu?"

'H-hah ibu? siapa anak ini?? T-tunggu jangan jangan dia?"

"Ibu? kau benar benar tak mengingatku?? hei biar ku ingatkan. Ingat dengan bayi yang kau buang tujuh tahun lalu di sebuah panti asuhan? Yaa, ini adalah aku ibu. Aku sangat merindukanmu, tapi itu hanya bercanda haha" ucap Ella dengan senyum miringnya.

'E-ella?'

"Iya ibu, ini aku Ella putrimu. Dan karna kita sudah bertemu jadiii, cepatlah bertemu ajalmu!!"

**
*
*
*
Tbc

Daddy? END [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang