Hai Cintah!!! Gimana kabarnya? Lama banget ya aku nggak nyapa kalian. Sebenernya aku ingin nyapa kalian lebih banyak tapi aku bener-bener lagi nggak ada waktu. Kepala ku rasanya mau pecah :(
Sejujurnya aku kangen banget sama vote dan komen kalian, aku nggak tau sih chapter ini akan buat aku semangat dan ngobatin rasa rindu aku atau nggak nantinya.
Yang perlu kalian tau, aku bela-belain nulis chapter ini di tengah kesibukan yang membuat kepalaku rasanya ingin pecah. Semoga kalian suka ya sama Chapter ini.
Gitu aja, selamat membaca Cintah❤
------------
Ada kalanya tidak mengetahui apapun akan terasa lebih menyenangkan.
.
.
.
Raga sampai di sekolah sekitar lima belas menit sebelum rapat di mulai. Sambil menunggu, Raga memilih untuk duduk dan bersantai di kantin seraya menghindari pertemuannya dengan guru yang nantinya pasti akan menanyakan kenapa Raga absen hari ini.
Dengan hoodie hitam dan jeans pendek, Raga berjalan menyusuri lorong sekolah menuju kantin. Suasananya masih sepi mengingat ini masih jam pelajaran.
Di jaraknya yang masih berada tiga meter dari kantin, ia melihat dua sosok yang sangat familiar di netra hitam legam miliknya. Dengan segera ia masuk ke dalam kantin seraya mempercepat langkahnya.
"Nggak belajar lo?" tanyanya, menyentuh bahu Danias yang tengah duduk membelakanginya.
Danias yang tengah menyantap mie instan pun langsung tersedak akibat ulah sahabatnya ini. Buru-buru ia mengambil es rasa jeruk yang ada di depannya dan meminumnya.
Raga terkekeh pelan, mengambil duduk di samping Danias seraya menatap Ken yang tengah membaca satu buku tebal yang terletak di atas meja.
"Oh... tau gue. Kelas lo berdua lagi jamkos terus si kunyuk ini laper dan maksa lo buat ke kantin, gue bener kan?" tanyanya. Namun laki-laki dengan wajah dingin di depannya tak merespon sama sekali.
Dia diam tak berkutik dengan mata yang terus tertuju pada apa yang tengah dia baca, tangannya tergerak hanya pada saat ia membalik halaman untuk ia baca kembali seperti halaman berikutnya.
"Gue bener-bener nggak bisa bayangin gimana selama hampir empat tahun ini lo sahabat sama ni orang. Ngobrol sama angin?" tanya Raga pada Danias.
Danias berdecak pelan, menaruh kembali es jeruknya, "Lah lo selama tujuh belas tahun ngapain aja?"
Raga menggeleng pelan, "Nggak tau. Bahkan gue sampai lupa kapan terakhir gue denger suaranya."
Ken tak peduli, dia masih terus fokus dengan aktivitasnya dan mengabaikan dua orang yang dengan terang-terangan sengaja mengejeknya.
"Lo kenapa nggak sekolah?" tanya Danias, "Nggak sekolah tapi datang ke sekolah. Mana di menit-menit akhir lagi. Mau ngapelin mang Mamat?" celetuk Danias, tidak habis pikir dengan siswa teladan di sampingnya.
"Ye... enak aja. Daripada ngapelin mang Mamat mah mending ngapelin mbak kunti. Enak di ajak terbang," jawabnya.
Danias berdecak pelan, kembali memakan mie instan miliknya.
"Terus kenapa?" tanyanya lagi.
"Biasalah. Tugas negara," jawab Raga, mencomot kentang goreng yang ada di hadapan Ken.
"Rere?" tebak Danias.
Mendengar itu, pergerakan tangan Ken yang tengah membalik buku halamannya jadi terhenti. Kedua netranya langsung menatap pada Raga yang ternyata juga sedang menatapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TITIK SATU
Fiksi RemajaRere, seorang gadis yang mentalnya telah di rusak habis-habisan oleh keluarga. Memiliki tekad kuat untuk membuat sang Papa menyayanginya. Dalam perjalanannya menuju angan bahagia, ada Raga yang selalu berusaha ada untuknya. Membiarkan sang pacar, Ze...
