Part 41: Sudah Menyerah

3.4K 343 7
                                    

***

Hai... Terima kasih sudah membaca SUAMI SUPERIOR. Beberapa part dari cerita ini saya hapus, karena editing dan pindah rumah ke KBM. Bagi kawan-kawan yang tertarik untuk membacanya bisa langsung ke:

 Bagi kawan-kawan yang tertarik untuk membacanya bisa langsung ke:

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

https://kbm.id/book/detail/ba837c36-72aa-4db1-ac02-a069cc59c54e

Regards,

Ms. Ersula

***

Semalam Hydan tidak bisa tidur, dia hanya memandangi Mala yang sudah terlelap di sampingnya. Dia menikmati waktu yang mengejar setiap detik kebersamaannya. Napas lembut wanita itu terlihat jelas. Hydan mendekati wajah Mala dan mengecup pipi wanita yang sudah pulas itu.

"Aku harus pergi," bisik Hydan.

Dengan berat, Hydan harus melepaskan wanita yang paling dia inginkan itu. Hydan sudah cukup menunjukkan sebesar apa rasa keinginannya untuk memiliki Nirmala. Hydan sudah berusaha menjadi sempurna walau pun itu tidak cukup juga untuk Nirmala. Nirmala pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik.

***

"Bu Mala, ada pak Lui..." Luna mendekatinya.

"Oh, apakah pak Lui mau pesan kopi?"

"Kata pak Lui, dia ingin bicara di luar bu."

"... Apa? Kenapa tidak masuk ke toko saja?" Mala bingung. Tapi dia masih sibuk di dapur.

"Saya hanya menyampaikan pesan seperti itu," jawab Luna. Dia pun tidak tahu Pak Lui menunggu Mala di luar.

"Hm, baiklah. Aku minta tolong jaga sebentar, Luna." Mala mengusap bahu Luna. Luna mengangguk.

Mala membuka Apronnya. Dia bingung sambil melihat pak Lui sedang berdiri di samping mobil.

"Kenapa pak Lui tidak masuk saja tidak seperti biasanya?" Mala merapikan ikat rambutnya.

Mala bertambah bingung saat datang menemui pak Lui, ternyata dia membawa rangkaian bunga mawar merah dengan vas putih.

Apa Hydan mengirimkan bunga mawar lagi?

Lui berekspresi datar. Dia ragu, tapi dirinya harus menyampaikan pesan Hydan. Lui langsung menyerahkan vas berisi bunga mawar itu. Mala tersenyum kecil saat menerimanya.

"Pak Lui, mawar ini dari Hydan?"

Mala diam. Dia menatap mawar-mawar merah yang terlihat masih sangat segar itu dan surat dengan amplop biru... Kenapa Hydan memberinya surat?

Mobil Pak Lui meninggalkannya. Mala masih berpikir, bukankah ini sangat aneh? Mala pun hanya menaikkan bahunya. Dia masuk kembali ke dalam tokonya.

"Wah, tuan Hydan mengirimi mawar lagi?" Luna terkagum-kagum. Padahal buket mawar yang kemarin masih segar.

"... Hm... Tapi aku merasa ada yang ganjil. Aku taruh saja di kamar atas saja mawar ini."

Mala mengangkat amplop biru yang dipegangnya. Dia tidak sabar apa isi surat itu. Dia merobeknya, dan mulai membacanya dengan hati yang berdebar-debar...

Senyumnya yang mengembang itu lenyap... Tangan yang memegang surat itu bergetar dan terasa kaku. Dadanya seperti ditembus sesuatu yang menyakitkan.

Mala menutup mulutnya karena terkejut. Dia masih membacanya hingga akhir, sampai Mala mematung dan menjatuhkan surat itu.

Suami Superior Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang