Greya kini duduk berselahan dengan gadis yang tadi ia lihat tengah memeluk Chandra. Iya, jadi tadi saat dia dan Jemiel naik ke lantai 2 berniat untuk melihat keadaan Chandra, ia mendapati Rina tengah memeluk laki-laki itu dengan erat. Dan saat ini ia bingung harus bersikap bagaimana, bahkan setaunya sosok disampingnya ini sebelumnya tak sedekat itu dengan Chandra.
"Aku gak tahu kalau Kakak dekat dengan Chandra."
Rina menoleh ke sisi kirinya, dan menatap lekat-lekat wajah Greya yang kini tengah menatapnya.
"Apa pertanyaan itu penting saat ini?"
"Bagiku penting, Kak."
Rina tertawa hambar kala mendengar jawaban Greya.
"Kamu bukan lagi pacar Chandra jadi jangan bersikap seolah kamu masih menjalin hubungan dengannya."
"Lagi, penting kamu bilang? Lebih penting mana Chandra atau Jemiel?"
Pertanyaan Rina membuat Greya bungkam seketika. Gadis itu menutup mulutnya rapat.
"Dari dulu aku pikir aku yang gagal paham akan masalahmu dengan Alisya, dan Chandra. Nyatanya memang benar, jika kamu yang bermasalah."
Pandangan Rina kini menatap tembok dihadapannya. Ia bukannya malas membahas perihal masalah tiga orang itu, nyatanya memang tak ada kaitannya dengannya jadi untuk apa buang tenaga, kan?
"Jangan karena Kakak lebih besar dari aku, Kakak jadi bicara bebas. Bahkan sekarang Kakak udah gak ada hubungannya lagi dengan keluarga ini. Bang Jenan udah..." Belum kelar dengan ucapannya, Greya justru menghentikannya tanpa aba-aba.
"Tell me again..." Ujar Rina dengan menatap lagi wajah Greya.
"Ayo selesaiin kalimatmu."
Greya justru diam.
"Kenapa? Kamu mau bilang Jenan sudah pergi, kan? Lalu jika Jenan sudah pergi, aku gak boleh kesini? Aku gak boleh perhatian dengan keluarga ini? Aku dengan Jenan bahkan gak putus. Dan jika kamu tahu, hubungan kami satu tingkat lebih tinggi daripada hubunganmu dengan Jemiel."
"Grey, aku hanya ingin beri tahu. Bukan bermaksud menceramahi atau sok tahu. Tapi tutur katamu mencerminkan dirimu. Jika kamu terus seperti ini maka gak akan ada yang bisa menaruh kepercayaan padamu."
"Kamu masuk Kedokteran? Mau jadi Dokter, kan? Paling tidak jaga ucapanmu kalau kamu gak mau suatu saat dimana karirmu sudah tinggi, kamu justru ditikam oleh orang yang pernah kamu sakiti hatinya oleh perkataanmu."
Rina kemudian tersenyum kecil.
"Pikiran, hati, dan ucapan, kamu harus bisa menyelaraskannya."
"Dan juga..." Rina menatap jemari kakinya yang berbalut sendal.
"Kamu punya segalanya jadi jangan bersikap seolah kamu akan mendapatkan apapun."
"Aku bukan Alisya yang bisa diam kamu perlakukan gak baik. Bukan aku berkata Alisya lemah, nyatanya dia hebat bisa sabar menghadapi orang sepetimu."
"Maksud Kakak apa? Kenapa malah ngelantur..."
"Aku dari keluarga biasa. Aku yakin kamu tahu jika keluargaku jauh dari keluarga Jenan. Dan saat ini dimana kamu merasa aku dekat dengan Chandra, kamu akan mencari cara untuk menindasku kan?"
Greya mengernyit.
"Bukankah seperti itu biasanya?"
"Kalau bicara pikirkan dulu Kak." Jawab Greya cepat.
"Aku bahkan gak berpikir sampai kesana. Wah... seburuk itu ternyata aku dimata Kakak?"
"Bagaimana gak buruk jika kamu aja melakukan manipulasi hati? Paham gak?" Tanya Rina yang diakhiri senyum kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAPFALLEN (CHANDRA)
Fiksi PenggemarBAGIAN KEDUA FEELING BLUE (CHANDRA) Perihal waktu, mau berjalan secepat atau selambat apapun rasa kehilangan itu masih ada, dan tetap akan ada. "Jangan minta aku mencari rumah. Sejatinya rumah yang aku miliki hanya diriku sendiri. Saat raga ini ingi...
