Perlahan-lahan.
Yakinlah akan ada sesuatu yang menantimu. Terlepas banyak kesabaran yang telah dihadapi dan dijalani, suatu saat semua itu akan terbayar dengan sesuatu yang membuatmu terpana dan lupa akan sedih yang sudah dijalani.
Jemiel sangat ingat akan pesan itu. Pesan yang tidak lain berasal dari gadis yang kini tengah menepuk-nepuk pelan punggung Channa.
Dari sudut ini, Jemiel bisa lihat bagaimana lihainya seorang Minda yang dimatanya masihlah seperti anak SMA. Usianya memang sudah dewasa tapi gadisnya tetap terlihat seperti anak SMA baginya.
Rambut panjang itu di ikat satu memperlihatkan leher jenjangnya. Jemiel tak bisa melepas kontak dari Minda, rasanya ia ingin mengurung kekasihnya agar tidak bisa pergi kemana-mana.
Tak terasa sudut bibir Jemiel terangkat, namun di saat bersamaan ingatan itu muncul. Ingatan yang ia coba untuk simpan rapat-rapat. Laki-laki itu lantas melepaskan kacamata yang sejak tadi bertengger dan memijat sedikit bagian hidungnya.
"Greya..."
Flashback on
"Jadi kamu mau kita selesai?"
Tak ada jawaban dari Jemiel. Laki-laki itu hanya diam dengan tubuh yang basah. Membiarkan derasnya hujan mengguyur tubuhnya.
"Masuk dulu. Aku mau kita bicara, Jem."
Jemiel menggeleng.
"Aku sudah tau apa yang kamu rasakan. Sudah cukup kebohongan ini, Grey. Kita tidak bisa melanjutkannya lagi."
Kalimat itu berhasil membuat Greya menangis detik itu juga.
Benar, penyesalan selalu datang terakhir. Apa yang mereka rajut tak pernah berhasil. Selalu salah dan mengulang kembali. Seperti itu dalam waktu lama, dan gadis itu yakin laki-laki dihadapannya sudah muak.
"Jadi aku tidak ada kesempatan?" Tanya Greya.
"Bukan tidak ada. Aku sadar selama ini kita ga pernah jujur. Kamu yang ga pernah jujur dengan perasaanmu yang masih untuk Chandra. Dan aku yang tidak mau menyelesaikan ini dengan alasan ga mau ada pertengkaran di antara kita."
"Dari awal ini sudah salah, Grey. Jadi lebih baik kita sudahi saja."
Greya menunduk menatap jemarinya. Dua lelaki yang sangat mencintainya ia kecewakan. Sudah tidak ada lagi kesempatan bukan? Bahkan selama ini hadirnya mereka tidak pernah ia hargai.
Deras hujan masih membasahi Jemiel, Greya yang awalnya menunduk menegakkan kembali wajahnya. Ia hendak maju untuk sekedar menarik Jemiel untuk masuk hanya saja lanfkahnya ia urungkan saat melihat Jemiel mundur.
Ia tertolak.
"Aku pernah dengar bahwa perpisahan adalah untuk orang-orang yang mencintai hanya dengan mata mereka."
Greya benar-benar merasa sangat bersalah saat ini. Gadis itu meremat jemarinya, menyalurkan rasa sesak pada dadanya setelah mendengar kalimat itu terlontarkan.
"Tapi bagiku ga akan ada perpisahan karena aku mencintaimu bukan hanya karena melihatmu, Grey. Aku mencintaimu karena aku memang benar menaruh sepenuhnya hatiku. Tapi aku tau bahwa aku bukanlah sosok yang kamu butuhkan."
"Jem..."
Jemiel tersenyum kecut. Ia sangat bersyukur hujan membasahinya sehingga air mata yang lolos begitu saja tak terlihat jelas oleh Greya.
"Terima kasih, dan aku harap kamu bahagia setelah ini."
Flashback off
Empat tahun.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAPFALLEN (CHANDRA)
FanfictionBAGIAN KEDUA FEELING BLUE (CHANDRA) Perihal waktu, mau berjalan secepat atau selambat apapun rasa kehilangan itu masih ada, dan tetap akan ada. "Jangan minta aku mencari rumah. Sejatinya rumah yang aku miliki hanya diriku sendiri. Saat raga ini ingi...
