31. Biarkan Berjalan Semestinya

1.2K 156 24
                                        


Banyak orang yang merasa insecure pada diri sendiri. Entah karena malu atau tak percaya diri, maupun takut. Merasa diri tak pantas bersanding dengan siapapun. Hingga mampu diam dan menyalahkan diri.

Menyalahkan diri karena takdir tak berjalan sesuai dengan keinginan. Merasa semua tak adil dan berimbas melukai hati. Pada kenyataannya tak ada istilah tak adil, tak ada istilah takdir yang salah. Semua adalah perihal waktu. Karena sekeras apa meminta keadilan atau sekeras apa berharap takdir berubah tak akan bisa. Dan seharusnya kita percaya bahwa dibalik takdir yang tak kita harapkan ada hal positif yang bisa dipetik.

Seperti dua anak yang kini terkapar diatas ranjang besar. Posisi yang satu memutar tak sesuai dengan letak ranjang, kaki berada dibantal dan kepala yang berada dikaki. Satunya lagi tidur terlentang dengan posisi baik tapi ia harus menahan diri untuk tak marah karena kaki saudaranya yang berada tepat disamping wajahnya. Bayangkan saja, sekali Jemiel bergerak Chandra yakin wajahnya akan ditampar oleh kaki panjang Jemiel.

Chandra menghela nafas pasrah, kepalanya kepalang sakit, tubuhnya serasa lemas, jadi ia lebih baik tiduran lagi.

"Harusnya gua gak minum semalam."

Ya, karena itu adalah alasan mengapa kedua anak ini terkapar seperti tak berdaya. Sebenarnya kadar alkohol pada minuman semalam tak tinggi seperti minuman alkohol lain tapi memang mereka yang toleransi alkoholnya rendah menjadikan dua saudara itu kepalang pusing.

"Euggggghhhh..." Lenguh Jemiel dan benar kaki panjang itu menampar wajah Chandra membuat laki-laki manis itu meringis kecil dan sedikit kesal.

"Sialan."

"Gua aduin Oma lo mengumpat pagi-pagi." Kata Jemiel dengan suara serak. Laki-laki itu justru kembali tidur tengkurap.

"Kaki lo, Jeman. Wajah ganteng gua kena tabok."

"Gantengan Agra." Sahut Jemiel membuat Chandra kesal. Putra kedua Jeffan itu justru memukul kepala Jemiel dengan bantal. Biarlah ia kena omel, daripada emosinya tertahan.

"OMAAAAAAA?!"

Chandra melotot kemudian membenarkan tidurnya dan kembali memejamkan mata.

TOK
TOK
TOK

Ibu Jeffan masuk dan mendapati Jemiel yang duduk dengan wajah ditekuk.
"Jangan teriak ah, Opa lagi ada tamu."

"Chandra nih..." Adu Jemiel membuat Ibu Jeffan menggeleng. Rasanya cucu dihadapannya seperti anak kecil lima tahun bukannya laki-laki dewasa dua puluh tahun.

"Mandi, ya? Setelah itu makan. Oma sudah masak banyak." Ucapnya lalu menutup pintu kembali.

"HEH?!" Pekik Jemiel pada Chandra tapi tak kunjung mendapat respon membuatnya kesal. Tanpa aba-aba Jemiel mendekat ke tubuh saudaranya lalu membuka selimut Chandra dan memeluk saudaranya.

"S-SAAAKITTT..." Ucap Chandra. Bagaimqna tidak jika Jemiel tidur tepat diatasnya.

"Bangunnnn Abaaaang..." Kata Jemiel. Laki-laki itu bahkan sudah mendekatkan wajahnya pada leher Chandra. Sengaja, ia ingin balas dendam.

"JEMAAAAAAN?!"

"BANGUUUUUNN?!" Pekik Jemiel lagi yang kini sudah berpindah ke sisi Chandra.

"SHIT?!"

"Ckckck, tidak ramah. Bintang satu untuk lo." Kata Jemiel sembari memeluk gulingnya.

"Gak ada yang nyuruh lo kasih gua rating." Jawab Chandra kesal. Tapi bukan Chandra namanya jika membiarkan Jemiel bisa tersenyum puas. Kini giliran Chandra yang menarik Jemiel untuk ia peluk. Bahkan tangan Chandra sudah menutup mulut saudaranya menghindari teriakan yang akan dialunkan Jemiel.

CHAPFALLEN (CHANDRA)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang