"Emang dasar gak ada otak?!"
PLAAAAK
Rendra mengaduh sakit kala kepalanya dipukul menggunakan bantal oleh Chandra.
"Mulut lo gua plester mau? Dia cewek, gak seharusnya lo ngomong gitu."
"Kalau dia cowok berarti Rendra bisa bilang gitu?" Tanya Mahendra membuat Chandra memijat pelipisnya.
"Y-ya gak gitu konsepnya, Hen. Ya Tuhan kalian udah pada umur segini gak mungkin gak ngerti maksud gua." Ucap Chandra frustasi.
"Ya kalian pikir aja kalian bicara kayak gitu apa dia gak sakit hati? Ya mending kalau ingetnya cuma sebentar, kalau dia dendam sama kalian sampai dibawa mati gimana?"
"Ikhlas gua mah. Ngeselin soalnya." Jawab Rendra acuh tak acuh membuat Chandra menggeram kesal.
Laki-laki itu beranjak dari acara duduknya kemudian berjalan menuju balkon. Sepasang maniknya menatap ke bawah, Jeffan sudah datang dari kantor rupanya. Ia melirik jam ternyata sudah sore. Benar-benar tak terasa.
"Papa gua udah datang."
Rendra mengangguk kemudian ikut beranjak mengikuti Mahendra.
"Kita balik kalau gitu. Ingat, kuliah tinggal seminggu lagi Chan. Jangan sampai drop. Okay?"
Chandra hanya mengangguk kemudian mengikuti langkah kedua sahabatnya. Saat menuruni anak tangga, ketiga pemuda itu berpapasan dengan Jeffan. Tak ada obrolan yang terjadi, Rendra dan Mahendra hanya mengangguk sebentar kemudian membiarkan Jeffan menaiki anak tangga.
"Sekalinya keluar cuma makan." Canda Rendra pada sosok yang tengah menikmati nasi dimeja makan.
"Sewot banget lo." Jawab Jemiel ketus dan itu berhasil membuat Rendra mengernyit heran.
"Pulang aja, ya?" Pinta Chandra. Ia paham akan mood Jemiel dan ia tak ingin ada perdebatan hanya karena hal sepele.
Selepas mengantarkan kedua sahabatnya menuju parkiran, Chandra kembali masuk ke dalam dan mendapati Jemiel yang masih mengupas jeruk. Laki-laki dua bulan lebih besar dari Jemiel itu menarik kursi yang ada tepat disaming saudaranya. Kepalanya kemudian menoleh ke sisi kiri, dan menatap wajah Jemiel yang datar.
"Lo marah?"
Jemiel menggeleng. Marah yang dimaksud Chandra adalah perihal tamparan kemarin. Untuk masalah Greya, Chandra benar-benar tak mau ikut campur. Karena dirinya dan gadis itu sudah selesai, dan Jemiel sekarang kekasihnya. Sudah jelas Jemiel punya hak atas hubungannya jadi sudah selayaknya Chandra tak ikut campur.
"Kenapa baru makan jam segini? Padahal Bibi udah masak masakan kesukaan lo dari pagi tadi."
Ya, setelah Jemiel bangun sekitar pukul tujuh pagi, laki-laki itu bergegas masuk ke dalam kamarnya mengabaikan Chandra begitu saja. Bahkan pintu kamarnya sudah diketuk beberapa kali dan Sineera juga sudah masuk meminta Jemiel untuk makan tapi saudaranya itu terus berkata nanti.
"I'm so sorry."
"For?" Tanya Jemiel dengan mulut sibuk mengunyah jeruk.
"Semuanya. Sorry juga karena gua nampar lo kemarin."
Lagi-lagi Jemiel mengangguk dan membuat Chandra menaikkan satu alisnya tanda ia bingung.
"Lo yakin gak marah? Kalau lo mau balas..."
"Kan lo sendiri yang bilang kalau balas dendam itu gak baik. Terus kenapa sekarang lo malah nyuruh gua buat balas?" Tanya Jemiel.
"Gua akan ikuti semua ucapan lo, karena gua gak mau kehilangan siapa-siapa lagi." Lanjutnya membuat Chandra kembali tertegun.
Jemiel kembali mengunyah jeruknya, namun matanya justru terlihat jelas berlinang akan air mata. Tidak, air mata itu tidak menetes hanya diam dipelupuk mata. Tanpa aba-aba Chandra mengusap surai legam saudaranya. Mengusap dari rambut sampai leher berulang-ulang kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAPFALLEN (CHANDRA)
FanfictionBAGIAN KEDUA FEELING BLUE (CHANDRA) Perihal waktu, mau berjalan secepat atau selambat apapun rasa kehilangan itu masih ada, dan tetap akan ada. "Jangan minta aku mencari rumah. Sejatinya rumah yang aku miliki hanya diriku sendiri. Saat raga ini ingi...
