Jika bertanya bagaimana hidup membentuk sosok Chandra, jawabannya sederhana Chandra hanya akan melakukan apa yang ingin dilakukan, dan menerima apapun yang orang lakukan padanya semasa itu tak diluar batas. Misal ada yang menyakitinya dengan perkataan maupun perbuatan, dia akan menganggap itu ujian baginya dan berpikir bahwa orang itu tengah khilaf. Terlihat mudah tapi jika diterapkan sangat sulit bukan?
Nyatanya sulit menyamaratakan manusia. Alasannya karena kita dibentuk oleh latar belakang yang berbeda. Maka dari itu Chandra berusaha untuk tak memasukkan hati, dan memaafkan tanpa adanya dendam. Rasa maaf mengajarkan Chandra akan arti ikhlas, karena pada dasarnya apapun yang telah terjadi memang harus diikhlaskan mau hasilnya buruk sekalipun.
Seperti saat ini, Chandra mengikhlaskan kembali raganya sakit. Semalam ia kehausan dan pergi ke dapur untuk meneguk air dingin. Belum lagi ia merasa kepanasan saat kembaki ke kamar jadi ia berinisiatif untuk melepas bajunya dan tidur tanpa baju dengan kondisi AC hidup.
"Kalau sesak gini nanti Agra gak kenapa kan, ya?" Gumamnya sembari mengelus bagian dadanya.
TOK
TOK
TOK
Chandra menoleh kemudian menurunkan kaca mobilnya.
"Chan? Tolong buka bagasi ya?" Ujar Sineera yang baru saja keluar dari supermarket.
Tak ada yang Chandra lakukan selain mengelus dadanya sembari mendongak. Dadanya benar-benar sesak, belum lagi ia merasakan mual.
"Mau muntah, Chan?" Tanya Sineera yang baru saja masuk ke dalam mobil.
"Mama aja yang nyetir, ya?"
Chandra menggeleng.
"Rumah Om Dirga gak jauh, biar Chandra aja."
"Mama beli apa aja?" Tanya laki-laki itu dengan fokus pada spion. Tangan laki-laki itu sibuk memutar stir sementara kakinya menginjak gas guna melajukan mobilnya.
"Beli cemilan untuk Aura, buah, sama beli botol bayi. Tadi Aura titip soalnya Dirga gak sempat keluar."
"Loh Agra minum susu?"
Sineera menggeleng.
"Botolnya buat tempat Asi. Dirga sama Aura belum mau kasih susu formula, katanya nantian aja."
Hanya beberapa menit saja kini mereka sudah tiba di rumah besar keluarga Dirgantara. Chandra hanya turun kemudian masuk ke dalam mengingat barang yang dibeli tadi dibawa sendiri oleh Sineera.
"OM DIRGA?!"
"Kamu teriak lagi Om usir dari sini." Jawab Dirga yang baru saja datang dari arah belakang rumah.
"Om habis ngapain?"
"Ngasih makan bayi ayam yang kamu bawa kemarin."
Chandra tak bisa menahan tawanya kala melihat Dirga menjawab dengan ketus ditambah raut wajahnya yang terlihat menahan marah.
"Kan itu ayam buat Agra."
"Bayi itu dikasihnya boneka biar bisa ditaruh disampingnya kalau lagi tidur. Kamu doang kasih Agra anak ayam."
Melihat Aura yang baru saja keluar dari kamar dengan Agra digendongannya membuat Chandra segera melepas masker dan topinya. Sebelumnya ia mencuci tangan dahulu sebelum akan menggendong Agra. Kalau kata Dirga kebersihan yang utama.
"Aduuuh adeknya Abang makin tembem aja nih. Perasaan baru kemarin ketemu."
Aura hanya terkekeh kemudian menyerahkan bayinya pada Chandra.
"Makin bulet, ya? Pipinya udah ngalahin pipinya Bang Jem ini mah."
Agra hanya tertawa kecil membuat Sineera terkekeh. Ia ingat betul jika dalam gendongannya dan Jemiel, Agra sering diam. Tapi jika sudah bersama Chandra, bayi mungil itu seolah mengerti dan senang.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAPFALLEN (CHANDRA)
FanfictionBAGIAN KEDUA FEELING BLUE (CHANDRA) Perihal waktu, mau berjalan secepat atau selambat apapun rasa kehilangan itu masih ada, dan tetap akan ada. "Jangan minta aku mencari rumah. Sejatinya rumah yang aku miliki hanya diriku sendiri. Saat raga ini ingi...
