Tak ada yang salah kan dari Teddyan? Banyak orang mengira Teddyan adalah kekasih Sineera saat orang belum mengetahui perihal silsilah keluarganya. Sineera? Tak ambil pusing akan itu karena satu yang ia tahu betul, Teddyan sayang padanya benar-benar tulus layaknya seorang Kakak.
Dahulu saat ia remaja, ia pernah menonton salah satu film yang mana antara saudara memiliki hubungan kekasih. Alasan mereka mau menjalaninya hanya satu, mereka tak sedarah. Setelah menonton itu Sineera benar-benar mencercahi Teddyan dengan banyak pertanyaan. Ia takut Masnya mungkin saja jatuh cinta padanya. Lalu Jeffan mau dia kemanakan begitu pikirnya.
"Kamu itu seorang istri dan juga Ibu. Mana bisa kamu pergi sepagi ini dari rumah bahkan belum jam tujuh." Ucap Teddyan kala ia mendapati saudarinya sudah duduk diteras rumahnya. Dan itu sukses membuat lamunan wanita itu buyar.
"Ayah sama Ibu mana?" Tanya Teddyan.
"Lagi jalan seputran komplek. Kata Ibu, Ayah harus banyak jalan-jalan biar kakinya gak sakit."
Teddyan mengangguk, dan berlalu menuju meja makan.
"Anak-anak dan suamimu sudah kamu buatkan sarapan?"
Sineera mengangguk sembari ikut duduk disamping Teddyan.
"Chandra jelas aku sudah masakkan, dia gak boleh makan sembarangan dulu. Jemiel juga udah, dia tipikal yang gak suka sarapan berat."
"Suamimu yang tampan itu gimana?"
Sineera mendelik ke arah kirinya, dan mendapati Teddyan tertawa terbahak-bahak.
"Sisi lucunya dimana sih, Mas? Receh banget jadi manusia."
"Mulutmu mau Mas iket? Bicara yang sopan sama yang lebih tua."
Sineera mengangguk
"Sadar diri ya anda tua. Sudah tahu tua cari istri makanya, nanti siapa yang mau urus Mas kalau sudah gak bisa jalan?"
"Kamu doakan Mas pincang?"
"Ya gak gitu. Cuma kan gak ada yang tahu, kali aja entar Mas keselo terus gak bisa jalan."
Teddyan menghela nafas kasar. Ia jadi tahu kenapa Chandra kadang suka bertindak random, gen dari Mamanya rupanya.
"Kamu disini menguras emosi. Sana pulang aja, kamu boleh kesini kalau kamu diusir Jeffan."
"MAS DOAIN AKU DIUSIR DIA?!"
Lagi, Teddyan menghela nafas.
"Pelan-pelan kalau bicara, kamu sudah dewasa Sin. Jangan begini."
"Ya kan aku bicaranya sama Mas. Kalau sama Jeffan mana pernah begini."
"Kenapa? Takut?" Tanya Teddyan sembari mencomot satu tempe goreng.
Sineera menggeleng.
"Jaga image."
Teddyan membuang muka kala mendengar jawaban saudarinya. "Sudah jaga image aja bisa diselingkuhi."
Jika sudah begini, Sineera menyerah. Ia malah kepikiran kedua anaknya. Tadi sebelum ia berangkat, Jemiel lebih dulu bangun karena harus ke kampus pagi sekali karena ujian. Dan setelah ijin pada Jemiel, ia pamit pada Chandra yang masih setengah sadar.
"Chandra ijinin kamu kesini?"
"Awalnya gak, tapi setelah aku bilang mau ajak Kakeknya kontrol, dia bilang boleh."
"Terus jeffan?"
Sineera mengedikkan bahunya.
"Waktu aku berangkat dia kejar aku, untungnya komplek lagi sepi. Lagi pula aku mau buat Jeffan jera, Mas. Bukan untuk aku tapi untuk anak-anak."
"Apa yang dia lakukan lagi?"
Sineera menggeleng cepat. Untung saja ia tak keceplosan.
"Gak ada, cuma kadang ya dia suka kecapekan terus marah." Bohong Sineera. Ia paham akan resiko jika ia berkata sesungguhnya. Mungkin detik ini juga Jeffan, dan Jemiel akan menjadi sasaran empuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAPFALLEN (CHANDRA)
FanfictionBAGIAN KEDUA FEELING BLUE (CHANDRA) Perihal waktu, mau berjalan secepat atau selambat apapun rasa kehilangan itu masih ada, dan tetap akan ada. "Jangan minta aku mencari rumah. Sejatinya rumah yang aku miliki hanya diriku sendiri. Saat raga ini ingi...
