35. Hal Yang Belum Tercapai

1.7K 187 37
                                        

Flashback on

Chandra menatap obat dihadapannya sembari menggigit bibir bawahnya. Rasanya ia bimbang. Sakitnya semakin lama membuatnya semakin sulit, belum lagi Teddyan yang berprasangka jika dirinya masih dalam keadaan tak baik di dekapan Jeffan.

"Kalau lo lihat doang, yang ada lo gak akan sembuh." Kata Rendra sembari menutup pintu. Tapi setelahnya Mahendra datang dengan sepiring semangka potong. Ini adalah hari dimana ia terakhir menikmati libur sebelum besok kembali menuntut ilmu di bangku kuliah.

"Minum obatnya, Chan." Kata Mahendra.

Tapi Chandra bukannya menjalankan perintah sahabatnya, ia justru menunduk dan mengusap pipinya. Tubuhnya bergetar membuat Mahendra panik.

"Chan? Are you okay? Hey?"

"Gua tanya, kalau lo begini apa yang akan lo dapatkan?" Tanya Rendra yang duduk dikursi dekat meja belajar Chandra berbanding terbalik dengan Mahendra yang sudah mengusap-usap punggung sahabatnya.

"Chan? Don't cry again. Lo bisa sesak." Kata Mahendra.

"Lo gak mau minum obat? Ya udah buang." Kata Rendra. Laki-laki itu beranjak dan merampas obat yang jumlahnya lumayan banyak.

"Lo gila?!" Pekik Mahendra.

"Tanya sahabat lo. Bukannya dia gak mau minum obat? Jadi daripada tergeletak, gua mending buang."

"REN?!" Bentak Mahendra.

"Apa?! Gua suruh lo tanya Chandra kenapa lo malah bentak gua?!"

"Kalaupun Chandra gak mau minum obatnya, lo gak ada hak untuk buang. Memangnya lo yang bayarin semua pengobatannya sampai lo seenaknya bertindak kayak gini?" Tanya Mahendra kemudian merampas kembali obat yang hendak Rendra buang.

"Lo gila, Ren. Lo harusnya bantu dia supaya mau minum obat..."

Rendra bersimpuh membuat Chandra terlonjak.
"Ko? Bangun..."

"Gua tahu gua bukan sahabat yang ada saat lo butuh bantuan, Chan. Tapi apa lo gak bisa turuti apa kata gua?"

"Ko? Bangun, lo ngapain..."

"Apa gua harus memohon? A-atau gua harus mengorbankan s-sesuatu?" Tanya Rendra terbata-bata.

"Gua gak masalah kalau lo suruh ini itu. Gua juga gak masalah kalau lo suruh antar jemput tiap hari. Hiksss... tolong Chandra, jangan posisikan gua seperti orang yang gak berguna..."

Mendengar penuturan Rendra membuat Mahendra menatap arah lain. Rupanya Mahendra menahan diri untuk tak menjatuhkan air matanya. Tapi gagal, setiap kalimat yang terlontar dari mulut Rendra adalah apa yang ia pikirkan juga.

"Ko?" Panggil Chandra kemudian meminta Rendra untuk bangun dan duduk disampingnya.

"Lo gak perlu ngelakuin apapun, karena itu bukan kewajiban lo."

Rendra menggeleng.
"Minum obat, dan jangan pernah punya pikiran untuk berhenti. Chan... lo ingat kan apa yang kita bertiga pernah katakan?"

"Lo bilang lo mau bangun usaha, lo bilang mau penuhin apa yang Bang Jen gak bisa lakukan. Kalau lo menyerah, lalu siapa yang akan menjalankan semua yang lo rencanakan?"

Rendra menggeleng kecil. Matanya memerah efek menangis dan ini adalah kali sekian Chandra melihat Rendra seperti ini. Seorang Rendra hanya akan menangis jika itu menyangkut keluarganya.

"Lo gak bisa limpahin semuanya ke Jemiel. Lo tahu alasannya, kan?"

Simple, jawaban itu sudah diketahui oleh ketiganya. Jemiel bukanlah anak Ekonomi sepertinya dan Chandra sudah tahu bahwa Jeffan akan menumpahkan segala pekerjaannya hanya padanya. Disamping Jemiel yang menolak, Jeffan memberi semuanya pada Chandra karena ia merasa selain Jenan hanya Chandra yang mampu.

CHAPFALLEN (CHANDRA)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang