"Ketenangan bukanlah berdiri di bawah payung ketika hujan, tetapi ketika mampu menari di bawah hujan."
.
.
.
Apa makna yang kalian terima dari sebuah hadiah? Sesuatu yang kamu inginkan? Sesuatu yang akan jadi milikmu? Atau sesuatu yang akan membuatmu bahagia karena memilikinya?
Sebagian besar memang seperti itu kan. Menginginkan hadiah karena telah mendambakannya. Chandra juga mau jika seperti itu. Chandra juga mau menerima hadiahnya. Tapi jauh sebelum hadiahnya ia terima, nyatanya ia diberi hadiah pahit lebih dulu. Sosok yang menawarkan sebuah hadiah berupa bahagia untuknya hilang, siapa lagi jika bukan Abangnya, Jenan Seenadra.
Resah, kurang lebih selama tiga bulan terakhir ini yang ia rasakan hanya itu. Disaat ia merasa resahnya menggerogoti tubuh, ia justru tak punya rumah untuk berbagi. Ia memang mengatakan jika rumahnya adalah dirinya sendiri, nyatanya benar ia harus menahannya kembali.
Berbalut pakaian santai, kaos putih, celana panjang hitam, dan leather jacket milik Jenan, Chandra duduk dengan sedikit mengaduh. Ia menjadi ingat apa kata Dokter "Tubuhmu sudah membaik, hanya saja jika kamu memaksakan maka sakit itu mungkin dapat kembali kamu rasakan."
Ucapan itu hanya terlintas sesaat, setelahnya laki-laki tampan itu berjalan sedikit, dan membuka koper miliknya.
"Cari apa?"
Suara itu membuat laki-laki yang tengah asik memeriksa isi dalam koper terpaksa menoleh.
"Duduk." Perintah laki-laki yang tadi sempat bertanya itu.
"Wait. Paspor gua dimana..."
"Ada di gua. Udah duduk sini. Ngapain juga cari paspor? Mau kabur?" Tanya Jemiel singkat.
Chandra menghela nafas kasar. Selama tiga bulan ini, ia benar-benar paham bagaimana sifat Jemiel. Sama... hampir sama seperti Jenan.
"Kenapa bisa di lo?" Tanya Chandra sembari duduk kembali pada bed miliknya.
"Papa kasih gua. You know that... Papa berangkat ke Indonesia subuh tadi."
"Mama?" Tanyanya lagi.
"Banyak tanya. Makan dulu, sejam lagi kita ke Bandara. Papa udah urus semua administrasinya."
Chandra amat bersyukur. Selama tiga bulan ia benar-benar dikelilingi orang baik. Dirga, dan Aura rela pulang pergi untuk memantaunya. Sineera selama tiga bulan ini menetap untuk menjaganya. Jeffan? Jemiel? Mereka sesekali akan datang bersama. Ya, bersama karena Jeffan yang selalu berkata tak bisa berangkat sendiri.
"Kuliah lo gimana?" Tanya Chandra dengan mulut sibuk mengunyah apel yang baru saja Jemiel kupaskan.
"Ya gak gimana-gimana. Bangun, ke kampus, belajar, praktek, pulang, belajar lagi, tidur..."
PLAAAAAK
Satu pukulan mendarat dikepala Jemiel membuat si korban mendelik tak suka. "Gua bilang jangan pukul kepala?! Sia..."
"Lanjut... gua iket mulut lo nyebut gua sialan." Jawab Chandra cepat.
Jemiel menggerutu kesal. Sama halnya seperti Chandra, selama tiga bulan bersama laki-laki tampan nan manis itu jadi tahu Chandra, sosok saudara tirinya ini seperti apa.
"Setelah ini lo ujian, kan?" Tanya Chandra lagi.
Jemiel mengangguk.
"Gua udah tanya Rendra. Lo bisa ambil mata kuliah yang lo tinggal disemester ini nanti disemester depan. Gak diambil sekalian sih. Lebih jelasnya tanya Rendra aja nanti."
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAPFALLEN (CHANDRA)
FanfictionBAGIAN KEDUA FEELING BLUE (CHANDRA) Perihal waktu, mau berjalan secepat atau selambat apapun rasa kehilangan itu masih ada, dan tetap akan ada. "Jangan minta aku mencari rumah. Sejatinya rumah yang aku miliki hanya diriku sendiri. Saat raga ini ingi...
