Holla balik lagi dengan cerita YAW🤣
Ada yang masih nunggu?
Haruslahh, cerita ini makin seru tauuu ke depannya wkwkwk🤭😂
Ya udah langsung ajaa bacaa
Happy reading^^
•
•
•
Alunan musik mengisi keheningan di dalam mobil, menemani dua perempuan yang saling berdiam diri. Naswa sesekali bergumam, mengimbangi irama lagu. Sedangkan Rere fokus menyetir dan melihat jalanan.
“Ree,” panggil Naswa.
“Hm?”
“Lo bisa kan, kurangi ngomong kasarnya?” Masih jelas dalam ingatan Naswa mengenai kejadian di parkiran tadi. Sebuah perseteruan yang sebenarnya tidak asing lagi dengan Rere yang menjadi antagonisnya.
“Gak!”
Naswa menghela napas panjang, sudah dapat menebak jawaban Rere yang seperti itu. Tidak ingin menyerah, Naswa membujuk sekali lagi. “Ayolah Re, seenggaknya sama temen sekelas dulu deh. Kalau sama orang asing ya terserah. Gue kasian tau liat muka Gibran tadi.”
“Bodo amat.”
Kalau saja Naswa tidak memiliki kesabaran tingkat tinggi, mungkin sedari tadi gadis itu sudah menendang Rere dari mobil miliknya.
“Huh, terserah lo deh. Tapi tunggu, ini bukan jalan ke rumah lo kan? Mau kemana nih?”
“Tempat les balet,” jawab Rere yang sontak membuat Naswa membulatkan matanya.
Gadis itu memutar badan menghadap Rere. “Re, lo seriusan mau ikut kelas balet?”
“Lebih tepatnya, ikut kata mama gue.”
Mulut Naswa terbuka, tapi terkatup beberapa detik kemudian sebab tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Dia sungguh tidak mengerti mengapa Rere sepatuh itu pada mamanya. Memang itu hal yang bagus, tapi tentu gadis itu punya hak untuk menolak jika tidak mau. Coba bayangkan jika mama Rere menyuruh gadis itu bunuh diri, apa Rere serta merta akan mengikutinya?
Naswa menggeleng, mengusir pikirannya. “Kenapa gak lo tolak aja, Re? Pasti nggak nyaman, belajar hal yang nggak kita sukai.”
“Siapa bilang gue nggak nyaman?”
“Gue nebak aja.”
“Gue fine aja, toh dengan ini skill gue bertambah.”
Naswa menganga, dia baru kali ini melihat manusia seambis Rere yang terobsesi untuk memiliki banyak bakat. Naswa takjub sekaligus getir. Menurutnya Rere terlalu memaksakan diri. Tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginannya, tidak semua bidang harus dia kuasai. Gadis itu bingung bagaimana cara menasehati Rere dengan serius agar keteguhan Rere dapat goyah. Larut dalam pikiran, Naswa mengerjap ketika tau-tau mobil sudah berhenti di salah satu gedung.
Rere melepas seatbelt, kemudian membuka pintu dan hendak turun. Belum sempat kakinya berpijak, Naswa lebih dulu menahan lengan Rere.
“Gue harap apapun yang lo kejar sampe seambis ini, nggak lebih berharga dari kebahagiaan lo sendiri, Re.”
Setelahnya, Naswa mendorong pelan bahu Rere agar turun dari mobil. Baru kemudian dia pindah ke kursi kemudi. Naswa menjalankan mobilnya, meninggalkan Rere yang termangu dengan ekspresi kosong.
Tertawa getir, Rere tidak menyangka kenaifan seorang Naswa mampu menggores hatinya. Sahabatnya sendiri menyuruh dia untuk merubah sikap, apa selama ini Naswa tidak mengerti bahwa begini lah sikap Rere. Apa Naswa tidak bisa menerima dirinya dengan sikap yang amburadul ini?
Drrt drrt
Dering ponsel mengalihkan pikiran Rere yang penuh. Terdapat notifikasi pesan dari mamanya, sebuah pesan yang meminta bukti foto Rere.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Are Worth [END]
Novela Juvenil- Jika dunia dan seisinya merendahkanmu - *** "Menurut lo, orang yang bisanya ngomong jahat dan kasar masih layak disebut manusia? Masihkah orang kayak gitu berharga?" "Lo tau, lo berharga melebihi ribuan alasan." *** Tinggal bersama Mama yang stric...
![You Are Worth [END]](https://img.wattpad.com/cover/304789875-64-k929476.jpg)