Chapter 22 - Tears For Fears

89 5 4
                                        

Happy reading^^


[Chapter 22 – Tears For Fears]

Ternyata hujan begitu awet sampai sore hari, memang sempat berhenti sejenak tapi kemudian kembali turun dengan deras. Rere menghela napas panjang di bangku samping kemudi, gadis itu melirik malas Angkasa yang tengah menyetir. Kalau bukan karena takut menimbulkan drama, dan takut ada yang memergokinya bertengkar dengan Angkasa lagi, Rere tidak mau semobil dengan lelaki gila itu.

Perjalanan menuju rumah sang ayah diisi dengan keheningan. Udara dingin sore hari seakan menembus mobil, membuat atmosfer diantara mereka terasa semakin berat.

Melewati jalan yang sepi, Angkasa dengan sengaja menaikkan kecepatan mobilnya seolah sedang berada di arena balap. Rere masih dengan raut tenangnya menatap keluar jendela, meski dalam hati ketar-ketir sendiri. Jalanan basah, genangan air dimana-mana, rintik hujan juga membatasi jarak pandang, tapi Angkasa dengan bodohnya malah menaikkan kecepatan mobil. Angkasa niat sekali mengajaknya mati bersama.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di halaman rumah Alfaro, Angkasa turun dengan santai, meninggalkan Rere yang tengah menahan mual. Bahkan setelah kegilaan itu, Angkasa tidak menunjukkan raut bersalahnya. Rere mengutuk dalam hati, memang benar-benar iblis tuh orang.

Setelah menenangkan diri selama dua menit, Rere akhirnya keluar dari mobil, sambil bersumpah tidak akan menaiki mobil laknat itu lagi. Titik-titik hujan sedikit membasahi rambut dan pakaiannya begitu dia turun, tapi hal itu tidak menghentikannya untuk memasuki rumah. Rere tidak peduli kalau dia sudah membasahi lantai rumah papanya.

Pemandangan pertama yang Rere lihat saat sampai di ruang keluarga langsung menyayat hati. Napasnya tercekat seakan ada yang tengah meremas paru-parunya. Dengan mata kepalanya sendiri, Rere melihat bagaimana Alfaro bersikap hangat pada Rea dan Angkasa. Mereka bertiga duduk di sofa, Alfaro berada di tengah, sebelah tangannya merangkul bahu Rea, sebelah tangannya lagi mengusap rambut Angkasa yang tengah menyeringai menatap Rere.

Seringaian itu seolah alarm peringatan, bahwa tidak ada lagi tempat untuk Rere berada di samping papanya. Dua orang asing yang memaksa masuk jadi keluarga tiri Rere itu seperti menegaskan kalau Alfaro hanya milik mereka saja.

Rere menepis perasaan sesak yang menggerogoti hatinya, dia berdehem kemudian ikut duduk di salah satu sofa. Papahnya menyapa sambil tersenyum, Rere balas seadanya. Ketika giliran Rea yang membuka suara, Rere sengaja menulikan pendengaran, pura-pura sibuk membuka ponsel.

“Baju kamu basah, Re, mending ke kamar dulu aja. Mama takut kamu masuk angin.”

Mendengar kata ‘mama’ keluar dari mulut Rea membuat Rere ingin muntah. Gadis itu mendelik pada Rea. “Bacot!” desisnya, memasang wajah galak bagai kucing garong.

Sontak Alfaro membulatkan matanya kaget, pria itu terlihat tidak senang dengan kalimat Rere. “Astaga, Re! Baru kemarin papa maafin kamu soal masalah chat kasar itu, kamu bukannya introspeksi malah buat ulah lagi.”

Rere terdiam sesaat, dia sebenarnya sangat menghindari berdebat dengan sang papa. Karena gadis itu tidak mau membuat ayahnya semakin marah dan membencinya. Tapi, Rere juga tidak bisa terus-terusan diam menghadapi tingkah laku Rea yang penuh kepura-puraan.

“Papa, kan, tau, aku masih belum nerima dia. Papa juga dulu janji nggak akan maksa aku buat suka dan manggil dia mama.”

“Tapi bukan berarti kamu bisa kasar juga, kan? Kamu seharusnya tau bagaimana memperlakukan orang yang lebih tua.”

“Udah, aku nggak mau debat sama papa.” Rere menahan air matanya agar tidak tumpah. Selalu saja begini, terkadang Rere begitu membenci Alfaro dan menyayangkan keputusan pria itu yang menikahi Rea. Tapi dia juga selalu lemah dihadapan sang papa, Rere sering kesusahan untuk membantah ataupun berbicara keras.

You Are Worth [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang