Holla:)
Ga banyak basa-basi karena saiaa lagi capek😭 bukan capek fisik, capek batin:(
Happy reading yaa😤
•
•
•
[Chapter 20 – Something You Shouldn’t See]
“Re, are you okay?”
“Hm, I’m fine.”
Gibran sadar, mungkin sebenarnya Rere sedang tidak baik-baik saja. Apalagi pipi cewek itu masih tampak memerah, bekas tamparan cowok yang tidak dikenalnya. Ingin sekali Gibran mengelus pipi cewek itu dengan lembut, berharap dapat sedikit meredakan rasa nyerinya. Akan tetapi, karena takut membuat Rere tidak nyaman, cowok itu akhirnya hanya mengepalkan tangannya saja.
“Baguslah kalau lo nggak apa-apa,” ujar Gibran, menanggapi jawaban Rere barusan. “Tapi, siapa cowok tadi?” lanjutnya, bertanya penasaran.
“Cuma orang gila,” jawab Rere sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dia berniat membuka aplikasi ojek online agar segera berangkat ke tempat les renang.
Gibran mengerjap, lantas berdehem. Dia paham kalau mulut Rere memang setajam silet. “Maksud gue, namanya, barangkali orang gila itu punya nama?”
Rere menatap Gibran sejenak, kemudian menghela napas panjang. “Lo nggak perlu tau. Gue nggak peduli sejauh apa lo liat gue dan cowok tadi berantem, yang pasti jangan ember dan bocorin kejadian tadi ke temen-temen gue.”
Gibran tidak langsung menjawab, lelaki itu terdiam sambil menatap balik tepat ke mata Rere. “Oke, kalau itu yang lo mau,” putusnya. “Sekarang lo mau pulang kan? Mau bareng gue?”
“Engga.”
“Engga buat yang mana nih? Gue tadi nanya dua pertanyaan, loh.” Gibran terkekeh atas keusilannya.
“Dua-duanya.” Rere tetap menanggapi.
“Jadi kalau nggak langsung pulang mau kemana dulu?”
“Les,” jawab Rere sambil melihat jam tangannya. Sepertinya dia akan terlambat ke tempat les renang. Driver ojek online-nya pun belum muncul sampai sekarang.
“Wah, jangan-jangan lo les tiap hari, ya?” tanya Gibran yang hanya dihadiahi delikan mata oleh Rere, karena cewek itu merasa Gibran mulai banyak bertanya.
“Serius, Re? Lo les tiap hari? Apa nggak bosen, tuh?”
Bosan?
Hah, Rere sudah membuang rasa bosannya sejak mendapat bentakan dan amukan yang paling parah dari Alisa. Mungkin dari situ juga Rere mulai melepaskan semua keinginannya dan memilih untuk menuruti keinginan Alisa. Kendali hidupnya sudah ia serahkan pada mamanya sendiri.
Melihat Rere yang malah melamun, Gibran tiba-tiba memikirkan sesuatu. “Mau pergi sama gue nggak? Bolos les sekali nggak apa-apa, kan?”
Demi mendengar kalimat itu, Rere menoleh dengan cepat. Jujur saja, tawaran itu sangat menggiurkan, dia juga sudah tidak mood untuk berenang karena Angkasa. Namun, apa yang akan dikatakan mamanya nanti?
Bolos les sekali nggak apa-apa, kan?
Yah, mungkin tidak apa-apa. Entah karena Gibran yang pandai menghasut, atau Rere yang memang sedang goyah, yang pasti saat ini keduanya tengah berada di motor Gibran, berkendara di jalanan dengan naungan langit senja yang mempesona.
Tak lama kemudian, Gibran menghentikan laju motornya. Rere sontak mengedarkan pandangan ke sekeliling, bola matanya membulat ketika mengetahui tempat ini. Mereka sekarang berada di danau tempat rahasia Rere dan mama Naswa, juga tempat Gibran memergokinya yang tengah merokok.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Are Worth [END]
Teen Fiction- Jika dunia dan seisinya merendahkanmu - *** "Menurut lo, orang yang bisanya ngomong jahat dan kasar masih layak disebut manusia? Masihkah orang kayak gitu berharga?" "Lo tau, lo berharga melebihi ribuan alasan." *** Tinggal bersama Mama yang stric...
![You Are Worth [END]](https://img.wattpad.com/cover/304789875-64-k929476.jpg)