Happy reading:)
•
•
•
[Chapter 26 – Traveling Cat]
Selepas berbicara dengan Angkasa, Rere berjalan keluar gerbang. Tadi pagi dia berangkat menggunakan motor Aeera, tapi kuncinya sudah dikembalikan karena Rere malas mengendarai motor. Hal itu tentu saja membuat Aeera ngamuk, dia ingin semobil dengan Reza, tapi tidak terlaksana gara-gara harus membawa motornya. Aeera sempat menolak dan memaksa Rere untuk membawa motornya lagi, tapi Rere dengan mulut tajamnya langsung membalas.
“Lo tuh jangan nempel terus sama cowok, meskipun dia juga bucin sama lo, tapi waras dikit, kek. Jangan ganjen!”
Seperti biasa, Aeera langsung kicep dan menahan diri untuk tidak meledak di tempat.
Rere duduk di halte, sore ini dia memilih pulang menggunakan bus. Ponselnya masih dimatikan sehingga tidak bisa memesan ojek online. Selagi menunggu Rere menyandarkan kepalanya, memejamkan mata sejenak sebelum menatap langit senja yang kata orang sangat indah.
Entahlah, bagi Rere langit itu terlihat biasa saja, tidak ada bedanya dengan langit siang atau pagi. Dia nyaris tidak tahu dan tidak bisa merasakan keindahan itu. Rasanya Rere seperti baru saja disiram oleh air dingin saat tidur, dengan kata lain disadarkan kalau kehidupan dan hari-harinya begitu sunyi dan suram.
Selama ini, dia seakan terjebak dalam dunianya sendiri, dunia yang hanya berisi nilai, prestasi, dan ambisi. Hingga gadis itu lupa cara menikmati kesehariannya.
Meong
Suara kecil itu menarik atensi Rere, dia menunduk dan menemukan seekor kucing dengan bulu putih yang lebat. Penampilan kucing itu terlalu bagus untuk dibilang kucing jalanan yang liar. Mungkin dia sudah memiliki tuan. Namun tidak ada kalung penanda di leher si kucing. Mungkin hilang saat kucing itu jalan-jalan.
Rere tidak tahu kenapa dia harus sebegitunya menganalisis si kucing putih itu.
Mendadak Rere teringat dengan novel The Traveling Cat Chronicle yang belum selesai dia baca. Rere sebenarnya tidak menaruh minat lebih pada kucing, sama seperti kepada hewan lainnya. Tapi semenjak membaca novel itu, dia jadi sedikit lebih menyukai kucing.
Tanpa sadar, Rere berjongkok dan mengelus kepala kucing itu. “Lo punya nama nggak?”
Untuk pertama kalinya sejak memasuki usia remaja, Rere melakukan hal konyol ini. Kucing itu tentunya tidak akan menjawab selain seruan meong, membuat Rere terkekeh geli, menyadari kebodohannya.
“Wah, kayaknya ini pertama kalinya gue liat lo ketawa, Re.”
Suara yang datang tiba-tiba itu membuat Rere terlonjak kaget, dia menoleh untuk melihat siapa pelakunya. Sang pelaku tengah berdiri menatap Rere dengan speechless.
“Lo … ngapain di sini?” tanya Rere.
Gibran tersadar setelah terkesima selama beberapa saat, lelaki itu tersenyum lebar lantas menjawab. “Nyamperin lo dong pastinya. Gue lagi jalan pulang, terus nggak sengaja liat lo duduk sendirian.”
“Oh.”
Meski respon Rere pendek, tapi Gibran merasa kali ini sedikit berbeda. Biasanya Rere cuma berdehem dan tampak tidak minat pada ocehannya. Kali ini Rere seakan mendengarkan perkataan Gibran dan meresponnya dengan tulus.
Kemajuan nih, huhuu terharu gue, batin Gibran.
“Lo suka kucing, ya, Re?” Gibran bertanya sambil menunduk, meraih kucing putih itu dan menggendongnya seperti sedang menggendong bayi.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Are Worth [END]
Teen Fiction- Jika dunia dan seisinya merendahkanmu - *** "Menurut lo, orang yang bisanya ngomong jahat dan kasar masih layak disebut manusia? Masihkah orang kayak gitu berharga?" "Lo tau, lo berharga melebihi ribuan alasan." *** Tinggal bersama Mama yang stric...
![You Are Worth [END]](https://img.wattpad.com/cover/304789875-64-k929476.jpg)