Happy reading
•
•
•
[Chapter 31 – Know Each Other]
Selama beberapa minggu, tingkah Rere dan Gibran sama sekali tidak tercium oleh Alisa. Mama Rere yang selalu memonitor sang supir itu percaya-percaya saja kalau anaknya tidak pernah mampir kemana-mana selain ke tempat les. Tanpa tahu bahwa sang supir sendiri sudah disogok sedemikian rupa oleh Gibran.
Menghabiskan waktu bersama Gibran di sela jam lesnya menjadi kegiatan favorit bagi Rere. Lelaki itu mampu membuatnya sejenak lupa pada segala keresahan. Lupakan soal tuntutan mamanya, lupakan soal kehamilan Rea, lupakan soal doktrin Angkasa, lupakan soal perubahan papanya.
Satu-satunya yang Rere ingat hanya bagaimana Gibran menjungkir-balikkan hidupnya. Entah lewat sikapnya, leluconnya, pelukannya atau tepukan halus di kepala. Mereka menjadi dekat dalam waktu singkat, lantas saling mengenal dan memahami lebih dalam. Seakan tidak ada lagi sekat, Rere menceritakan banyak hal tentang dirinya, begitupun dengan Gibran.
Akhirnya lelaki itu tahu permasalahan yang dihadapi Rere tanpa harus mendesak Syakira lagi. Sebab Rere memberitahunya dengan suka rela, dan saat itu juga Gibran bertekad untuk selalu ada bagi Rere.
Seperti saat ini, lengan Gibran merengkuh erat tubuh Rere yang bersandar di pundaknya. Mereka sedang berada di balkon kamar Gibran, duduk berdua sambil menatap langit malam. Terkadang lelaki itu masih tidak menyangka bisa menjadi sedekat ini dengan Rere.
Dulu untuk berdiri bersisian saja, Rere juteknya minta ampun, wajahnya langsung keruh, badmood. Bahkan ketika dia tidak sengaja merangkul perempuan itu, Rere seolah bersiap akan membanting tubuhnya ke lantai.
“Menurut gue lo harus kurangin waktu nginep di rumah papa lo, Re.”
Baru saja Rere bercerita habis berselisih dengan mama tirinya yang dia panggil wanita ular. Rea kembali memprovokasi Rere di belakang Alvaro, wanita itu mengidam ingin dibuatkan makanan oleh Rere. Jelas, gadis itu tidak sudi memenuhi keinginan Rea yang seratus persen hanya mengada-ngada. Wanita itu pasti hanya ingin menjadikannya babu saja.
Dan karena permintaannya tidak dipenuhi, Rea mengadu pada Alvaro. Dengan mengatasnamakan bayi, dia menangis dan meminta Alvaro untuk memaksa Rere.
“Sayang tolong ya, bikin makanan sederhana aja untuk mama Rea.”
Rere memang pernah berkata akan mengabulkan apapun perkataan papanya. Tapi ada pengecualian, jika hal itu menyangkut Rea maka dia akan menolak. Walaupun papanya sampai memohon-mohon dan berkata selembut mungkin, Rere tetap tidak akan terbujuk.
Rasa sakit hatinya lebih besar daripada rasa simpati. Papanya begitu sedih karena penolakan Rere akan berpengaruh pada bayi dalam kandungan Rea. Tapi pria itu tampaknya sama sekali tidak sedih mengetahui perasaan Rere yang carut-marut. Satu fakta itu saja cukup untuk membuat Rere pergi dari rumah, menelpon Gibran dan berakhir di kediaman lelaki itu.
Kembali pada saat ini, Gibran mengerutkan alisnya, bingung karena Rere tak menanggapi saran barusan. Lelaki itu menunduk dan mendapati Rere yang tengah memejamkan mata.
“Re, tidur ya?”
“Engga.” Tidak disangka Rere malah menyahut, Gibran pikir Rere betulan tidur.
“Ah okay, lupain aja saran gue tadi. Kita bahas nanti, lo tidur aja kalau ngantuk.”
Mendengar kalimat Gibran, Rere justru membuka matanya dan menghela nafas panjang. “Gue nggak mau jauh sama Papa, Gib. Kalau gue nggak nginep di rumah papa, gue takut papa ngilang.”
KAMU SEDANG MEMBACA
You Are Worth [END]
Teen Fiction- Jika dunia dan seisinya merendahkanmu - *** "Menurut lo, orang yang bisanya ngomong jahat dan kasar masih layak disebut manusia? Masihkah orang kayak gitu berharga?" "Lo tau, lo berharga melebihi ribuan alasan." *** Tinggal bersama Mama yang stric...
![You Are Worth [END]](https://img.wattpad.com/cover/304789875-64-k929476.jpg)