Tuhan Biarkan Sebentar saja...

757 76 20
                                        

•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•

•

•




































* * *






















Shani POV

Waktu perlahan menuntut ku merasakan rasa sakit ini lebih dalam lagi. Perlahan ku sesali lisan yang tak kunjung berucap hingga akhirnya pertemuan dengan rasa sakit menyatukan aku ke dalam luka terdalam yang aku sendiri tidak tahu jalan untuk pulang.

Harus kah aku berucap dan menjelaskan bagaimana hatiku telah lancang mencintaimu, atau harus kah aku terus menunggumu menoleh ke arahku dan melihatku?

Melihatku dengan semestinya, melihatku sebagaimana aku melihatmu, bisa kah?

Debaran di dada ini terus menggebu tak bisa lagi ku jelaskan bagaimana aku terluka karena menahan semua rasa ini sendiri...

Tak terhitung berapa banyak air mata yang jatuh membasahi pipi, tak mampu ku menahan rasa sakit ini, rasa sakit yang mengkhianati rasaku sendiri...

Berkali-kali aku menatapnya, hanya kamu yang hanya ingin ku tatap. Berkali-kali iris mataku menangkap senyuman yang selalu menghiasi wajahmu. Tak terasa awan mendung mendera hari-hariku. Bukan karena melihatmu terluka saat ini melainkan aku semakin dekat dengan sebuah kata perpisahan dan tak mungkin ada aku yang menggantikannya.

Shani POV end























***
























Peranan malam datang dengan sempurna, membungkus luka dalam keterpaksaan. Kedua manusia yang mencintai seseorang di waktu yang salah sedang memaksa kan diri mereka untuk menikmati rasa sakit yang mulai jelas terasa menyakitkan di setiap waktunya.

Gracia memeluk tubuh Shani dengan posesif. Dia paling suka posisi seperti saat ini, memeluk Shani dari belakang lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher jenjang Shani. Mencium dalam-dalam aroma tubuh Shani, menikmati nada yang indah dari degupan jantung Shani yang berirama menenangkan baginya itu. Shani hanya bisa pasrah, pasrah yang sangat ia nikmati. Tangannya yang panjang mengelus-elus tengkuk Gracia membawa tubuh itu lebih erat ke dalam pelukannya. Tidak di pungkiri Shani lah sandarannya sajak dulu sampai saat ini tidak ada yang dapat merubah itu tapi ketika Shani lemah kepada siapa dia bersandar walau inginnya selalu tertuju pada Gracia tapi logikanya menahan inginnya.

Goresan Luka [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang