Bandung dan cerita...

615 61 17
                                        





Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
















Author pov

Anin masuk dengan menggendong kismis. Ariel yang saat itu sedang menonton acara tv memalingkan pandangannya ke arah Anin.

"lho Gracia Nya mana Nin? Jangan bilang tuh anak nyangkut di pohon rambutan terus ga bisa turun" ucap Ariel langsung berlari ke luar, matanya celak-celingung mencari sosok Gracia.

"Dia udah pulang" jawab Anin, terlihat jelas raut kesedihan terpancar dari wajahnya.

"Lah tumbenan amat tuh bocah, biasanya gua di usir kalau dia ngapelin lu Nin"

Anin terdiam menatap kalung berbentuk hati yang tempo lalu di berikan Gracia sebagai hadiah untuknya. Sudah lama sekali dia baru mengenakan kalung itu lagi.

"Apa aku terlambat Riel? tanya Anin pada Ariel, tapi pertanyaan itu tepatnya mengarah kepada dirinya sendiri.

"Gua terlambat Riel, gua terlambat meyakinkan hati gua untuk dia, gua terlalu sibuk mencari tahu tentang perasaan gua ke dia sampai akhirnya... gua lupa menyakinkan dia tentang perasaanya ke gua" saat itu juga tangis Anin tumpah.

Anin terlalu fokus untuk meyakinkan keraguannya sampai dia melupakan ada hati yang juga harus ikut di yakinkan.















* * *









Malam tahun baru....

Uaghhhh.....

Para remaja yang berasal dari kota Jakarta baru saja tiba di salah satu vila di daerah Bandung.

"Ci pake, dingin..." Ucap Gracia, dia menanggalkan jaket denim dari tubuhnya lalu memakainya pada pundak Shani. Tidak lupa memeluk tubuh wanita cantik berlesung pipi itu.

"Masih dingin Ge! Gracia mengurangi pelukannya, akibat ulah Gracia, Shani menoleh ke arah Gracia.

"Kenapa? Tanya Shani, tangannya menyentuh surai hitam milik Gracia lalu menyelipkan nya di belakang telingan Gracia.

"Bentar...."

"Mau kemana? Tanya Shani, tangannya menahan laju gerak Gracia.

"Aku mau ambil selimut, katanya kamu dingin ci" Shani tersenyum, anak ini polos atau...lupakan Gracia selalu punya alasan untuk Shani terus berada disampingnya.

Keduanya pun saling memeluk satu sama lain. Saling memberi kehangatan satu sama lain.

"Ge...,eh Shan...." Reflek Gracia melepaskan pelukannya. Mendadak sikap Gracia membuat sesuatu di hati Shani merasakan perasaan yang selalu seperti ini.

Gracia berjalan ke arah Anin, meraih tangan Anin lalu membawa Anin pergi meninggalkan Shani sendiri di depan balkon Vila.

Di ruang tengah, sudah ada Gaby, Beby dan Sisca yang sedang duduk berleha-leha. Dan di luar sana masih ada Vino, Frieska dan juga Feni yang sedang mengeluarkan bahan persediaan buat barbeque an untuk nanti malam.

Goresan Luka [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang