19 ( 십구 )

23.7K 1.9K 83
                                        

Perkataan anak kecil yang ia temui kemaren terus terngiang didalam kepalanya. Ia termenung kembali saat menyadari bahwa ia belum sepenuhnya menerima takdir yang telah Tuhan tetapkan untuknya.

Bahkan saat seorang Dokter datang bersama kedua abangnya pun ia tetap tak menyadarinya, sampai sebuah tepukan pelan mengejutkan gadis cantik tersebut.

"Shasa? Kamu melamun?" Ucap Rezi membuat Shasa salah tingkah, ia ketahuan bengong kembali. Pasti abangnya itu merasa khawatir dan mengira kalau ia bersedih.

"Hah? Ah! Nggak ko, Shasa ga ngelamun." Ucap Shasa membuat Reza dan Rezi menghela nafas pasrah.
"selamat siang, Nona." Ucap Dokter tersebut dengan nada yang begitu ramah.

"Eh selamat siang dokter, maaf Shasa ga tau... Soalnya umm..." Ucap Shasa merasa tak enak, sedangkan dokter itu hanya memaklumi keadaan pasiennya.

"Baik, tak apa nona. Saya disini ingin menyampaikan hasil pemeriksaan kemarin. Apa nona ingin mendengarkan hasilnya? Jika tid-" Ucapan dokter itu terpotong karena perkataan Shasa.

"Maaf, kalau aku memotong ucapan dokter. Tapi aku ingin mendengar langsung hasil itu, agar tidak terlalu sakit mungkin." Ucap Shasa lalu dilanjutkan didalam hati.

"Baiklah, kalau itu permintaan dari nona sendiri. Tapi sebelum itu saya mohon maaf kalau berita ini berisikan kabar buruk." Ucap dokter tersebut sambil menatap ketiga wajah yang ada disana dan dapat ia lihat juga bahwa wajah si kembar lah yang paling serius. Sedangkan gadis yang menjadi pasiennya, hanya menampilkan ekspresi tak terbaca.

"Kabar buruk, apa?" Ucap Shasa sambil meremat selimut Rumah Sakitnya dengan erat.

"Kami memohon maaf sebesar-besarnya untuk nona Shasa, kami telah meneliti dan membicarakan hal ini dengan dokter ahli dimasing-masing bidang. Tetapi dengan berat hati kami harus memberi tahu nona dan kedua tuan muda, bahwa nona Shasa tidak akan bisa berjalan dan melihat untuk selamanya atau bisa kita sebut kelumpuhan dan kebutaan permanen." Ucap dokter tersebut dengan kepala menunduk, pria berjas putih itu bahkan meremat kertas ditangannya sangat erat. Ia gagal memberi kabar baik untuk pasiennya, ia terus merutuki dirinya sendiri.

"Buta dan lumpuh permanen?" Tanya Shasa sekali lagi, bahkan matanya sudah menumpahkan liquid bening. Gadis itu terisak pelan.

"Iya nona, dan maafkan saya... Saya-"

"Nggak apa-apa, ini bukan salah dokter. Ini udah takdir saya harus buta dan lumpuh seperti ini, jangan salahkan diri dokter. Dokter telah berusaha sekuat tenaga, bukan?" Ucap gadis cantik itu sembari mengusap kasar air matanya, ia berusaha menampilkan senyum terbaik dan setulus yang ia punya. Tapi tetap saja hatinya sakit, ia cacat. Dan itu adalah sebuah fakta yang menyakitkan.

'Queen, maafin kakak ga bisa jaga tubuh ini dengan baik. Maaf... Maafin kakak yang ga becus jaga tubuh kamu.' Batin Shasa yang terus meminta maaf kepada adik kembarnya, ia meremat selimut itu dengan amat erat guna melampiaskan segala amarahnya.

Dokter itu pun pamit untuk undur diri dengan penyesalan yang begitu dalam kepada pasien-nya, sedangkan Reza dan Rezi mulai menghampiri sang adik yang kembali menangis.

"Abang... S-Shasa bener-bener lumpuh dan buta permanen, hiks... Kenapa? Salah Shasa apa sama Seanna hiks... Sampai-sampai dia ambil semua warna dihidup Shasa?! Hiks... Salah Shasa apa bang? Hiks... Salah Shasa apa? Hiks..." Ucap gadis itu sembari meremat kemeja milik Reza. Ia terus menangis, nyatanya ia sama sekali tak mampu menerima hal yang semenyakitkan ini.

"Sayang, hei dengerin abang! Kamu ga salah apa-apa sama dia, adek abang ga salah. Abang janji bakal bales semuanya, abang janji." Ucap Reza sambil memeluk erat sang adik, pemuda itu ikut menitikkan air matanya. Lagi, hatinya kembali sakit bahkan lebih sakit dari apapun.

Rezi, Pemuda itu hanya menatap dingin lantai Rumah Sakit dengan tangan yang mengepal, jelas sekali dimatanya terdapat kilatan penuh dendam dan amarah untuk gadis yang bernama Seanna. Gadis sialan yang dengan lancang merenggut setiap langkah dan pandangan sang adik.

Kini adik cantiknya tidak bisa melakukan hal-hal yang Shasa sukai, dan Rezi benci itu. Ia benci melihat ketidak berdayaan sang adik, ia benci melihat air mata adiknya yang terus mengalir, dan ia benci ketidak bergunaannya sebagai abang.

Sedangkan diambang pintu, terdapat Jessna dan Isha. Kedua gadis itu berniat untuk mengajak Shasa untuk berkeliling taman, tapi yang mereka dengar mampu membuat kedua lutut mereka lemas.

Isha pun segala berjalan mendekati Shasa, gadis itu menatap sang sahabat yang begitu kacau. Tangannya terkepal, ia benci saat sahabatnya ini merasakan sakit. Ia benci melihat orang yang ia sayangi menangis.

"Shasa..." Ucap Isha, lalu Shasa pun menoleh kesana kemari untuk mencari letak suara yang memanggilnya.

"I-isha? L-lo dimana?" Ucap Shasa sambil meraba sekitar, Isha yang melihatnya pun dengan cepat meraih tangan sahabatnya.

"Aku disini, udah jangan nangis. Aku yakin kamu itu kuat, kamu itu hero dihidup Isha maka dari itu kamu juga harus jadi hero didalam diri kamu sendiri. Jadilah kuat, jangan jadi lemah hanya karena kekurangan kamu. Jangan pernah dengerin gunjingan orang, karena hidup kamu ya milik kamu sendiri, bukan mereka." Ucap Isha, bahkan ia tak tau apakah ucapannya ini tepat atau tidak. Tapi yang pasti ia hanya ingin membuat sahabatnya lebih baik.

"T-tapi gue bakalan lumpuh dan buta selamanya, g-gue pasti bakal bikin kalian semua malu. Hiks..." Ucap Shasa sambil terbata-bata lalu menangis, ia kini berada dipelukan erat Isha. Dan telinganya dapat mendengar gumaman yang gadis itu ucapkan.

"Aku bakal bikin dia lebih menderita karena udah bikin kamu kaya gini, aku janji. Dia harus menderita bahkan mungkin lebih dari apa yang kamu rasain. Itu janji Isha buat kamu, Sha" Gumam Isha dengan mata yang berkilat tajam.

BERSAMBUNG...

Natya's Second Life [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang