[ Transmigration Series #1 ]
Bercerita tentang seorang gadis yang ber-transmigrasi ke raga seorang figuran cantik yang namanya saja tidak pernah disebutkan dalam novel.
Bingung? Sudah pasti, siapa yang tidak
bingung saat ia seharusnya sudah mati...
Semenjak kejadian kemarin yang membuat Shasa stres, karena kedatangan female lead yang wujudnya seperti badut Ancol itu pun membuat kepala cantik Shasa pusing.
"Adek, rawat 2 hari lagi aja ya. Abang takut kepala kamu pusing lagi." Ucap Rezi, dibalas gelengan oleh sang adik.
"Enggak abang, kepala Shasa udah nggak apa-apa ko. Abang gausah khawatir ya." Ucap Shasa sambil menatap dan tersenyum lembut pada Rezi.
"Beneran nggak apa-apa?" Tanya Rezi tak yakin.
"Ihh iya beneran abang... Yaampun!" Jawab Shasa sambil menatap garang kearah Rezi, membuat pemuda itu terkekeh karena gemas.
"Gausah gitu juga mukanya!" Ucap Rezi sambil meraup wajah sang adik, membuat Shasa bertambah kesal.
"AAAAAA... ABANGGGGG!!!!" Teriak Shasa jengkel.
✂---------------------------------------------
Kini Shasa dan Rezi telah sampai di depan sebuah rumah yang cukup sederhana. Mendiang orang tua mereka bertiga yang menyiapkan segala hal sebelum keduanya tiada, seperti rumah ini contohnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mereka langsung melangkah masuk dengan Rezi yang mejinjing tas berukuran sedang yang berisikan baju-baju kotor Shasa sewaktu Rumah Sakit. Saat sampai diruang keluarga, mereka dapat mencium wangi yang begitu lezat dari arah dapur membuat perut keduanya berbunyi.
Shasa pun menghampiri asal wangi itu berada. Sedangkan Rezi, pemuda itu hanya menggeleng kepalanya lalu memilih untuk menaruh tas berukuran sedang tersebut di ruangan khusus mencuci baju.
Saat sampai didepan pintu dapur, dapat ia lihat Reza sedang serius memasak. Ide jahil muncul dibenak gadis cantik itu, ia berjalan perlahan-lahan dan saat sudah berada dibelakang pemuda itu, ia pun langsung memeluk tubuh Reza. Membuat sang Abang terkejut, Shasa pun tertawa.
"Abang!!" Ucap Shasa yang masih memeluk Reza dari belakang.
"Astaga, dek. Kamu itu bikin abang jantungan, tau nggak?" Ucap Reza saat sudah mematikan kompor, lalu berbalik menjadi berhadapan dengan Shasa.
"Hehehe maafin Shasa ya abang, oh iya! Abang lagi bikin apa? Shasa boleh bantu?" Tanya Shasa yang masih memeluk Reza.
"Yaudah, abang maafin tapi jangan diulangi! Kamu mending duduk aja dikursi meja makan bentar lagi selesai ko, abang buatin menu kesukaan kamu." Ucap Reza sambil mengelus pucuk kepala adiknya itu.
"Wahh beneran? Makasih abanggg!!!" Ucap Shasa kegirangan dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Iya sama-sama. Tolong kamu panggil Rezi buat turun ya. Kita makan bareng." Ucap Reza setelah Shasa melepas pelukannya. Gadis itu pun mengangguk dan segara pergi memanggil abang keduanya, Rezi.
Tak butuh waktu lama Shasa kembali lagi ke meja makan sambil digendong oleh Rezi, Lalu Shasa pun turun gendongan abangnya setelah itu ia pun melangkah mendekati Reza dengan semangat.
"Abang, nih Shasa udah sama bang Ezi. Ayo kita makan! Shasa udah laper banget, tuh liat perut Shasa udah kempesss nggak ada isinya." Ucap Shasa sambil ngelus perut datar miliknya dengan wajah yang memelas. Sedangkan Reza dan Rezi hanya tertawa gemas akan tingkah Adiknya.
"Yaudah, ayo kita mulai makan. Kasian Shasa udah ngiler tuh sampe air liurnya mau netes." Ucap Reza sambil menahan tawa, Shasa sendiri sudah seperti kepiting rebus karena malu.
Percakapan pun berakhir, mereka bertiga memulai acara makan bersama dengan hening hanya suara alat makan yang bersuara.
'Hening banget, gada yang mau buka suara nih? Seriusan dah, gue ga nyaman kalo kaga ngomong tapi gue kaga enak juga. Yaudah lah gue diem bae.' Batin Shasa tak nyaman, demi apapun ia semasa dikehidupan pertamanya merupakan manusia yang terbilang sangat Hyperactive, jadilah kini jiwa-jiwa barbar miliknya mulai keluar karena keheningan yang melanda.
Reza yang sangat peka pun menoleh kearah Shasa yang menurutnya sedang tidak dalam keadaan nyaman.
"Kamu kenapa, dek? Masakannya ada yang kurang?" Ucap Reza mengejutkan Shasa.
"H-hah... Ah! Nggak ko bang, masakan abang enak banget. Cuma lagi mikirin sesuatu aja hehehe." Ucap Shasa sembari menggaruk belakang kepalanya walau tak gatal.
"Yaudah kamu makan yang banyak, kalau kurang nanti dibikinin lagi... Sama Eza." Ucap Rezi yang mendapat tatapan datar dari Reza. Sedangkan pemuda itu hanya menunjukkan cengiran tanpa dosa miliknya.