21 ( 이십 일 )

21.8K 1.7K 51
                                        

Hari Sabtu. Hari dimana seluruh murid di SMA Binar Bintang diliburkan, dan rencananya hari ini juga Alfa dkk berniat menjenguk adik dari sahabat kembar mereka. Atha dan Ady sudah sangat heboh dengan barang yang akan mereka berikan sebagai buah tangan untuk Shasa.

"Woy Barra! Lo liat keranjang buah duren gue kaga?" Tanya Atha dan dibalas gelengan oleh Barra. Bahkan Barra pun bingung, untuk apa sahabat abnormalnya itu menanyakan keranjang kepadanya. Ia bahkan tak tau dimana keranjang tersebut berada.

"Yaudahlah bodoamat, mending gue absenin satu-satu dulu ni buah. Ummm... Apel ada, mangga ada, semangka ada, pepaya ada, buah naga ada, cerry ada, anggur ada, jeruk ada, pir ada, strawberry ad-" Ucapan Atha terpotong karena toyoran kepala dari Ady. Pemuda itu 11 12 dengan Atha, mungkin hanya saja otaknya yang sedikit masih normal, Mungkin.

"Gue heran sama lo, Tha! Lo tuh mau jenguk orang apa mau jualan buah sih? Banyak bener bawaan lo!" Ucap Ady sedangkan Atha hanya mendelik kearahnya.

"Masih mending gue bawa buah, daripada lo! Sertifikat kebun buah pun dibawa-bawa, lo mau jual tanah atau mau jenguk orang? Ribet amat bawa berkas!" Balas Atha tak kalah sinis. Ternyata Ady sama saja dengan Atha, Sama-sama abnormal.

"Gue kan mau bikin dede gemes seneng, Tha. Siapa tau dia bakal seneng pas baca ni berkas yang isinya kebun segala jenis buah-buahan." Balas Ady tak ingin kalah. Membuat Alfa yang melihatnya pun harus turun tangan agar tak membuang waktu begitu banyak.

"Bacot lo berdua! Ayo cepetan entar keburu sore!" Ucap Alfa sambil menarik kerah kemeja milik kedua sahabat absurdnya itu.

Lalu keempat pemuda tampan itu pun langsung berangkat menuju Rumah Sakit dengan mobil mereka masing-masing.

✂-----------------------------------------

Sesampainya di Rumah Sakit, keempat pemuda tersebut langsung menuju ruang inap pasien VVIP setelah tau letak ruang inap yang ditempati Shasa dari si kembar. Tanpa permisi mereka berempat pun masuk, tapi disana hanya Shasa tanpa si kembar.

"Hai, Sha? Gimana kondisi lo?" Tanya Alfa, tapi hanya dibalas oleh keheningan. Gadis yang ia tanya nyatanya sedang termenung sendirian.

Tetapi tiba-tiba Rezi datang membuat keempat pemuda tersebut kaget.

"Lho kalian udah dateng ternyata? Yuk duduk dulu." Ucap Rezi, sedangkan Alfa dkk langsung mendudukan diri mereka di sofa yang memang disediakan oleh pihak Rumah Sakit.

"Adek lo, gimana kondisinya? Tadi gue tanya tapi dia cuma diem." Ucap Alfa dengan nada penuh rasa penasaran. Sedangkan Rezi, ia hanya menghela nafas sambil melirik sendu sang adik.

"Adek gue, dia bener-bener lumpuh dan buta permanen. Tapi gue sama Reza tetep bakal cari cara apapun biar adek gue bisa ngeliat lagi." Ucap Rezi membuat keempat pemuda itu terkejut bukan main.

"L-lo serius? Ngeprank ya lo?" Ucap Atha masih tak percaya.

"Gue serius, nyet! Kalo soal adek gue mana bisa gue bohong!" Ucap Rezi dengan menatap Atha sinis.

"Gue turut prihatin buat kejadian yang nimpa adek lo, Zi." Ucap Alfa. Sedangkan Barra, pemuda itu terus saja menatap kearah tubuh mungil Shasa. Ia pun bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri gadis cantik tersebut.

Sedangkan yang lain hanya menatap Barra penasaran, karena yang mereka tahu bahwa Barra itu adalah pemuda paling dingin diantara mereka semua.

Saat sudah berada si sisi gadis tersebut, Barra pun langsung penepuk dengan pelan bahu Shasa. Membuat gadis itu terkejut.

"Siapa? Ini bukan wangi parfum punya bang Ezi, lo siapa?" Tanya Shasa dengan penuh tanda tanya.

"Barra, inget? Gue sahabat abang lo." Ucap Barra, membuat keempat orang disana melongo pasalnya baru kali ini Barra berbicara dengan kalimat yang sepanjang itu.

Dengan lembut Barra menuntun tangan mungil milik Shasa agar menyentuh wajahnya. Karena dari cara itulah Shasa dapat mengenali seseorang.

"Sekarang inget?" Tanya Barra lalu dibalas oleh anggukan dari gadis didepannya ini.

"Kak Barra sendiri? Yang lain kemana?" Tanya Shasa pasalnya yang ia tau kemana pun geng Alfa pergi pasti mereka selalu berenam kecuali abangnya karena mungkin mereka berdua akan terus disampingnya 24jam.

"Gue nggak sendiri, ada yang lain juga disini. Gimana kabar lo?" Tanya Barra sambil terus menggenggam tangan mungil gadis didepannya ini.

"Gue baik-baik aja ko, walaupun keadaan gue kaya gini tapi bukan berarti gue kehilangan jati diri gue juga kan." Ucap Shasa lalu diangguki oleh Barra, hal itu membuat gadis tersebut mendengus.

"Lo lucu, Sha. Dan gue makin jatuh kedalam pesona lo itu" Ucap Barra lalu dilanjutkan didalam hati, pemuda itu masih malu untuk mengungkapkan perasaannya.

"WIH! APAAN NIH SI KULKAS MUJI-MUJI CEWE!" Ucap Atha heboh lalu dibalas anggukan heboh juga oleh Ady.

"Eh ada suara kak Atha juga!?" Ucap Shasa dengan nada girangnya, membuat Barra mendengus dan Atha menatap berbinar kearah Shasa.

"Bos dengarkan, Bos? Dede gemes masih inget sama gue! Astaga senengnya, dede gemes Aa' Atha datangggg~" Ucap Atha dengan alaynya, lalu berjalan dengan begitu dramatis. Tapi tak lama...

Gubrakk!!

Pemuda itu terjatuh dengan tak elitnya. Ia terjatuh dengan wajah yang lebih dulu mencium lantai, membuat pemuda itu meringis. Sedangkan yang ada dirungan itu pun tertawa melihat kesialan yang terjadi pada Atha.

"Mampus!" Ucap Barra sambil menyeringai melihat sahabatnya terjatuh. Siapa suruh pemuda itu ingin mendekati gadis pujaannya jadi kena sialkan! Rasakan!

"Sialan lo Barra!" Ucap Atha yang masih di posisi jatuhnya itu, sungguh ia sangat malu. Ingin rasanya ia mengubur dirinya hidup-hidup.

BERSAMBUNG...

Natya's Second Life [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang