31 ( 삼십일 )

11.1K 849 35
                                        

Sedangkan disebuah tempat yang lebih tepatnya sebuah ruang penyiksaan, terlihat kondisi Seanna yang sangat jauh dari kata baik.

Rambut yang awut-awutan, tubuh yang dipenuhi oleh bercak merah yang ia dapat sewaktu digilir oleh 100 pria, kaki yang terpotong dan melepuh kian hari membusuk, tubuhnya yang berubah menjadi kurus kering, dan lingkar hitam dibawah matanya menambah kesan mengenaskan pada diri wanita tersebut.

"T-tolong... Tolong gue... Hiks... Gue mau pulang... Tolong..." Lirih Seanna dengan tangan yang diikat dengan rantai.

"Papa... Hiks... Mama... Tolongin Sean... Sean ga kuat lagi, Pa, Ma..." Racau Seanna dengan amat lirih. Sungguh demi apapun ia sudah tak kuat menerima siksaan yang begitu menyakitkan seperti ini.

Mahkota yang ia jaga dengan baik, direnggut paksa oleh pria yang ia tak tau siapa, tubuhnya disiksa terus menerus. Ditambah dengan kondisi tubuhnya yang berubah, bahkan setiap pagi ia akan memuntahkan makanan yang ia makan dan hanya cairan bening yang keluar dari lambungnya.

Hanya satu kalimat yang terus ia ulang setiap harinya, yaitu...

"Gue ga mungkin hamil, gue ga mungkin hamil..."

Hanya kalimat itu yang terus ia ucapkan didalam hatinya, tak terasa air mata terus mengalir membasahi pipi yang semula chubby kini berubah menjadi tirus.

Larut dalam lamunan membuatnya tak menyadari kehadiran seseorang. Orang yang menjadi awal ia tersiksa disini, orang yang memerintahkan para pria yang menggilirnya beberapa hari lalu. Orang itu Alisha, atau yang kerap dipanggil Isha oleh orang terdekatnya. Pion terpenting milik Sherianne, kembaran Shaqueena.

"Hai, Seanna! Apa kabar? Gue liat-liat makin kesini lo makin kurus ya, oh dan lihat perut lo udah keliatan banget kalo lo lagi mengandung." Ucap Isha dengan tatapan mata mengejek kearah Seanna.

"I-Isha... Lepasin gue, gue janji bakal menjauh dari kalian... T-tolong lepasin gue..." Ucap Seanna dengan nada penuh permohonan.

"Lo pikir gue bakal bebasin lo semudah itu? Salah besar! Lo ga akan gue lepasin begitu aja, cape-cape anak buah gue bawa lo kesini. Masa mau dilepasin gitu aja!" Ucap Isha sambil menatap jijik kearah Seanna, lalu mata gadis itu berfokus pada perut Seanna yang sudah sedikit membuncit menandakan bahwa telah ada kehidupan makhluk baru disana.

Isha, gadis psychopath itu lantas tersenyum penuh makna membuat Seanna menggigil ketakutan. Lalu tatapan mata Seanna mengikuti arah pandangan milik gadis gila didepannya ini, tersadar akan sesuatu Seanna pun menggeleng cepat.

"J-jangan anak gue... Dia ga bersalah... T-tolong biarin anak ini hidup... Hiks... Tolong Isha, jangan bunuh anak ini... Gue mohon... L-lo boleh siksa gue, T-tapi jangan bunuh anak ini..." Ucap Seanna dengan tatapan memohon.

Walaupun anak yang ada didalam kandungannya ini entah anak siapa dan tak jelas siapa ayahnya. Tetapi hati kecil Seanna sangat menyayangi calon bayi yang berada pada rahimnya ini.

"Lo berisik banget! Tenang aja hidup lo bakal tenang sampe 9 bulan kedepan---"

Ucapan itu membuat Seanna bernafas lega, tetapi itu hanya sementara sebelum kelanjutan kalimat dari bibir Isha membuyarkan segala rasa lega dihatinya.

"Tapi setelah itu, lo bakal gue siksa dengan lebih kejam dan buat anak lo kelak? Dia bakal gue buang ke panti asuhan! Gue ga peduli kalau anak lo bakal hidup susah nantinya, lagian suruh siapa anak lo itu lahir? Hahahaha..." Ucap Isha dengan tawa diakhir ucapannya, lalu gadis itu pun pergi meninggalkan Seanna yang kembali menangis sambil terus menatap perutnya yang mulai buncit itu.

Seanna terus menangis, ia menangisi takdirnya dan anak yang berada didalam rahimnya ini. Bahkan setiap saat ia berdo'a agar Tuhan berkenan untuk memberikan janin yang tak bersalah ini kebahagiaan walaupun Seanna tak berada disisinya nanti.

'Maaf... Mama minta maaf sama kamu, nak. Mama ga bisa jaga atau liat tumbuh kembang kamu ketika kamu lahir kedunia nanti, Mama selalu berharap kamu akan jadi anak yang kuat dan tak pantang menyerah ketika dewasa nanti. Maafin Mama...' Batin Seanna dengan perasaan sedih yang sangat kentara. Wanita itu terus saja menangis hingga keesokan harinya.

Dan nyatanya peran protagonis tetaplah protagonis, sedangkan peran antagonis tetaplah antagonis. Hanya permainan topeng saja yang bisa membuat semua terkecoh akan sifat dan sikap mereka.

BERSAMBUNG...

Natya's Second Life [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang