38 ( 서른 여덟 )

7.9K 489 4
                                        

Malam ini terasa sangat panjang. Kediaman Demelza yang tadinya bersih dan rapih, kini berubah menjadi berantakan dan penuh darah yang menyiprat kemana-mana.

Banyak tubuh yang sudah tak utuh, banyak kepala yang terpisah dari pemiliknya, dan darah yang menghiasi lantai serta dinding menghasilkan pola abstrak disana.

Dilantai atas terlihat seorang pemuda dengan raut wajah penuh lelah, keringat berjatuhan dari pori-pori tubuhnya. Nafas yang tak beraturan, genggaman tangannya pada Katana sedikit gemetar. Ia lelah, bahkan sangat lelah.

Telinganya tak henti mendengar berbagai suara tembakan diberbagai sudut rumah.

'Gue harus bertahan sampai bala bantuan datang, sedikit lagi semua bakal selesai.' Ucapnya dalam hati sembari terus membabat habis para musuh yang menyerang Kediaman keluarganya.

"DEK!! LO HARUS TETEP DIDALAM, JANGAN PERNAH KELUAR!" Teriaknya sembari terus mengayunkan Katana kearah musuh.

Tenaganya sudah hampir habis, tetapi ia harus melampaui batas maksimal dari energi yang ia punya.

DORR!!

DORR!!

Tubuhnya terjatuh dengan dua peluru yang bersarang dikedua betisnya. Menggigit bibir bawahnya untuk menghalau suara erangan penuh kesakitan, betis adalah kelemahannya.

Brukk!

Suara tubuh yang membentur lantai, matanya membulat. Tubuh itu, tubuh kakak kembarnya dengan luka tembakan di kepala. Mata pemuda itu berkaca-kaca, kembaran yang selalu kompak dan menyebalkannya kini sudah tiada dengan tubuh tanpa jiwa di hadapannya.

"R-Reza..." Lirihnya, setetes air mata dengan lancang membasahi pipinya. Matanya mendongak, lalu membulat melihat siapa orang yang sudah membunuh dan melempar tubuh sang kembaran kehadapannya.

"Kejutan~"

"S-Sherianne... Kamu..." Ucapnya dengan terbata, ia masih belum percaya akan sosok yang dihadapannya.

"Iya, ini aku... Kenapa? Abang kaget ya, astaga... Berhubung ini hari ulang tahun kalian, jadi aku kasih hadiah deh. Gimana? Aku baik banget, kan?" Ucap Sherianne dengan riang, lalu sedetik kemudian raut wajah riangnya terganti dengan raut wajah datar.

"P-Penghianat!" Ucap Rezi dengan terbata, ia sudah hampir kehabisan darah karena dua luka tembak dibetis nya.

"Ga tau diuntung! Udah baik gue kasih lo hadiah ulang tahun sebagus ini!" Ucap Sherianne sembari menginjak tangan Rezi yang sedang memegang Katana.

"L-lo penghianat Sherianne!" Ucap Rezi sembari menahan rasa sakit. Pemuda itu sudah tak memiliki tenaga lagi untuk membalas serangan Sherianne, sang adik.

"Gue lebih baik berkhianat dan membalaskan dendam akan kematian saudari kembar gue! JACK, IKAT DIA DIRUANG TENGAH BERSAMA PARA ANGGOTA KELUARGA YANG LAIN!" Perintah Sherianne kepada Jack yang berada sepuluh langkah darinya.

Jack yang mendengar perintah dari Queen nya hanya mengangguk dan menyeret kasar tubuh Rezi dengan kejam.

"Sedikit lagi, balas dendam gue selesai. Dan ini akan menjadi akhir dari semuanya." Ucap Sherianne sembari memejamkan mata lalu berbalik untuk menghukum mati orang-orang menjijikan dibawah sana.

Setiap langkahnya digenangi oleh darah dan dikelilingi oleh mayat-mayat tanpa kepala. Tak ada keraguan dimata gadis 17 tahun itu, hatinya sudah mati saat ia dilahirkan sebagai Natya oleh Nandhini.

"Ma, hari ini akan menjadi akhir dari segalanya. Pertempuran akan segera berakhir sebentar lagi, maaf karena harus pergi dan meninggalkan segala trauma untuk Mama. Natya menyayangi Mama, sangat!" Ucap Sherianne sembari mengepalkan tangannya.

Sherianne menuruni tangga dengan setiap kata yang ia ucapkan untuk Nandhini. Wanita satu-satunya yang ia anggap ibu entah dikehidupan ini atau kehidupan masa lalunya.

Dianak tangga terakhir, terlihat 20 kursi disusun secara melingkar. Disana sudah ada kedua orang tua, paman, bibi, kakek dan neneknya ditambah dengan Rezi diantara mereka.

"Akhirnya kita bisa berjumpa lagi, setelah 17 tahun lamanya. Benar bukan?" Ucap Sherianne membuat semua orang menoleh.

"Lepaskan kami! Kau... Dasar penghianat!" Ucap Sang paman Geoffry Demelza.

"Lepaskan kalian? Baiklah, tapi setelah nyawa kalian meninggal raganya, Setuju?" Ucap Sherianne sembari menyeringai.

Meidina yang melihat kelakuan sang putri hanya menangis, Zeus yang melihatnya dengan tatapan kecewa dan amarah. Kedua orang tuanya menyesal memanggil jiwa Sherianne untuk kembali kepelukan mereka.

"Apa yang kau inginkan!?" Tanya Zeus yang terikat dikursi.  Sherianne menoleh ia tersenyum manis kearah ayah kandungnya.

"Kau ingin tau keinginan terbesar ku, Dad?" Tanya balik Sherianne, Zeus tetap bungkam dan itu dihartikan sebagai kata 'iya' oleh Sherianne.

Gadis itu berdiri dari duduknya, ia berjalan kearah Zeus. Mencengkram rahang tegas sang ayah dengan kuat sampai kuku-kuku panjang milik Sherianne menancap dikulit Zeus.

"Yang aku inginkan... Aku menginginkan kematian kalian semua! Kematian dari orang-orang yang sudah berani melenyapkan saudari kembarku dengan berkedok kecelakaan!" Desis Sherianne didekat wajah Zeus, lalu gadis itu menghempaskan wajah sang ayah dengan kasar membuat kepala Zeus tertoleh kesamping.

"Kau..." Desis Zeus menatap tajam putri kandungnya itu.

"JACK! BUAT MEREKA MEMINUM CAIRAN YANG SUDAH KU BERIKAN KEPADAMU BEBERAPA JAM YANG LALU SEKARANG!" Perintah Sherianne sembari berteriak, gadis itu sudah diselimuti oleh amarah dan dendam yang sangat kental.

Jack mengangguk lalu menyuruh anak buahnya untuk memaksa keluarga Demelza agar meminum cairan bening yang Queen nya serahkan beberapa waktu lalu kepadanya.

"Rencana ku ubah, karena waktu yang ku miliki akan habis sebentar lagi." lirih Sherianne, gadis itu memandang sosok sang adik yang sedang diam melayang dikegelapan.

NEXT...

Natya's Second Life [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang