15

1.7K 177 0
                                    


Porchay menatap Pete yang ada di samping Porsche. Porchay sendiri sebagai orang termuda di kelompok mereka selalu menuruti kata kakaknya, tidak membantah atau bahkan meminta alasan atas tindakan yang mereka berikan. Saat Niran mengatakan itu dan Pete yang diam dengan tenang, apa yang dia lewatkan? Apa yang Niran ketahui sejauh ini? Apa.... Apa yang terjadi?

"Apa maksudmu? Adikku dan Pete tidak akan melakukan hal itu, benar kan Pete? Pete!"Porsche bertanya pada Pete yang diam saja. Pete bukannya tidak mau menjawab tapi dia tidak tahu harus apa, Niran dengan mulut besarnya membuat dirinya takut jika Porchay tahu hal itu. Hal kotor yang pernah dia alami, Pete tidak mau dia mengalami sesuatu yang menghambatnya, Pete hanya mau dia benar–benar bebas.

"Lihat, aku benarkan? Aku tidak berbohong karena aku teman Aat dan aku juga kala itu sedang ada di Club. Omong–omong, tubuhmu bagus dan aku masih ingat dengan segar. "Ucapnya. Porchay mengepalkan tangannya dan menatap Pete sebelum dia menghampirinya.

"Phi...katakan dia berbohong, 'kan?"tanya Porchay. Pete menatapnya. Matanya berkaca–kaca dengan harapan Pete tidak akan menggeleng, Porchay memegang lengan Pete dengan memegangnya dengan erat, Pete tidak mengatakan apapun yang selalu Porchay percayai

Diam = iya

"Pete.."

"Kurasa cukup waktu mengulurnya. Dimana Cuang?"tanya Pete. Dia maju menghindari dua saudara yang menatap kesal. Niran menatap dirinya dan kemudian tersenyum.

"Harus? "

"Ah, aku lupa. Bukankah kau anak yang tidak di inginkan? Pantas saja tidak tahu dimana Cuang berada. "

"Jaga bicaramu!!"bentaknya. Pete menatap dia dan kemudian mengidikan bahunya acuh. Ia berbalik menatap Kim yang terdiam sejak fakta yang di beberkan Niran. Bukan merasa menyesal telah memacari anak itu tapi menyesal karena melewatkan sebuah fakta penting dan seharusnya dia ada di sana menemani Porchay.

"Tidak mau memberinya pelajaran, Kim? Minimal....masuk ICU. "Ucap Pete membuat Kim mendongkak dan menatap Niran yang menatap dia dengan tatapan. Pete sendiri menyingkir membiarkan Kim menghajar Niran hingga puas.

Kim tidak suka miliknya di usik

Bugh!

Kim tidak suka kesayangannya bersedih lagi. Kim sudah bilang bukan, kesedihan Porchay adalah sebuah hal yang harus dia hindari.

Bugh!

Kim merasa kesal pada dirinya dan takdir. Kenapa dulu tidak langsung di pertemukan dengan Porchay, kenapa juga dulu Kim tidak berada di sisi Porchay saat anak itu merasa sedih, kenapa, kenapa dan kenapa. Pertanyaan yang membutuhkan jawaban atas masa lalu dari waktu membuat Kim melampiaskan semuanya pada tubuh Niran. Seseorang yang katanya telah turut andil dalam melecehkan kekasihnya. Kim tidak akan membiarkan Niran lolos begitu saja, adik Kinn itu yang selalu mengasah kekuatan bela diri dan berkelahinya dai lampiaskan bagai Niran adalah samsak yang sering ia gunakan untuk tinju.

Niran tidak bisa berbuat banyak. Meski pukulan itu menyakitinya, Niran hanya menutup matanya. Tubuhnya sangat sakit dan tepat saat Kim melayangkan tinju pada pipi Niran, sudut bibirnya robek tanpa di minta. Niran kembali merasakan pening luar biasa, rasa sakit, mual, atau bahkan mati rasa yang mulai menjalar dari perut. Sangat nyeri dan kebas, pandangannya mulai kabur dengan pusing yang menusuk kepalanya tanpa henti.

"Pete, sekali lagi, apa yang di lakukan oleh dia pada adikku?"tanya Porsche pada Pete yang duduk dengan santai di luar sel. Kakinya dia lemaskan dan bersandar pada area tangga belakang tubuhnya, matanya menatap ketiga Theerapanyakul yang mulai mengintrogasi Niran dalam keadaan tidak baik–baik saja. Niran sendiri sudah lemas dan tidak punya banyak kekuatan dalam menjawab, melawan atau bahkan mengalihkan perhatian. Pete menoleh menatap Porsche yang memasang wajah kesal dan seriusnya lalu Porchay yang menatapnya dengan tatapan harapan, Porchay hanya ingin ingatannya kembali agar dia bisa juga mengevaluasi dan menghindari orang yang dia temui saat dalam keadaan itu, walau mustahil.

Triple P (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang