Satu minggu kemudian
Pedro menggeram gusar di depan lemari walk in closetnya, menggeser hanger pakaiannya satu persatu, tampak mencari sesuatu.
"Sial!" Pedro memencet bel di dekat pintu walk in closet.
Butuh waktu sekitar satu menit sebelum terdengar ketukan halus di pintu kamar dan Emma melangkah masuk.
"Tuan memanggil saya?" Emma bergumam di sela nafasnya yang terdengar sedikit terengah engah, melirik ke arah Pedro masih tampak shirtless.
"Emma, mana kemeja hugo boss dan executive ku? Bukankah aku memakainya minggu lalu? Seharusnya kemeja kemeja itu sudah selesai dicuci dan sudah berada kembali di dalam lemari."
"Kemeja?" Kening Emma tampak berkerut.
"Pakaian kerjaku, Emma!" Pedro berdesis gusar. "Apakah bergaul dengan bunnyku membuatmu juga jadi ikutan lalod? Cukup bunnyku saja yang lalod, kau jangan ikutan tertular."
Emma menunduk menahan bibirnya yang hendak membentuk lengkungan senyum "Tapi selama seminggu ini, saya tidak pernah mencuci kemeja tuan."
"Apa?" Pedro menaikkan nada suaranya.
"Sumpah tuan. Di laundry box hanya ada celana dan jeans, serta pakaian dalam. Itu saja, tuan. No kemeja." Suara Emma mulai memelan, terdengar ragu "Tidak mungkin jika pakaian di mansion ini hilang. Masa ada pencuri...."
"Sialllll!" Pedro menggeram kesal. Kembali berdiri di depan lemari, tampak berpikir sebelum dengan kasar menarik sebuah kemeja Ralph Lauren dan mulai memakainya.
"Mana Aya?"
"Masih tidur, tuan."
"Dasar pemalas." Pedro tampak bergumam tapi sudut bibirnya tanpa tertarik tipis.
"Kau ingat tugasmu, Emma?" Pedro merapikan kemejanya dan meraih tas laptopnya.
"Tentu, tuan."
"Ingat, tetap perhatikan kebutuhan nutrisinya. Pastikan semua kebutuhannya terpenuhi. Walaupun dia bebas makan apa saja tapi tidak semua makanan boleh di makan terutama no mie instan."
"Siap, tuan."
Pedro berjalan cepat, keluar dari kamar, berhenti sejenak di depan kamar Freya sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya menuruni tangga
"Emma, bangunkan bunny pemalasku, dia tidak boleh melewatkan makan siangnya." Pedro berbicara tanpa menoleh ke belakang.
"Baik, tuan." Emma mengangguk, menghentikan langkah kakinya di depan pintu kamar Freya. Ia memang berjalan di belakang Pedro, menjaga jarak dengan tuan besarnya.
Emma berdehem pelan, mengulas senyum, membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Freya.
***********
"Kemeja merah maron di siang hari?" Clay menahan senyum melihat penampilan Pedro. Pedro nyaris tidak pernah mengenakan kemeja atasan berwarna terang saat bekerja, ia lebih menyukai atasan berwarna soft.
"Kurasa aku harus memeriksa CCTV kamarku. Satu persatu kemeja warna soft yang biasa kugunakan hilang tanpa jejak." Pedro bergumam gusar, menggeser kursor laptop, membuka menu CCTV mansion.
"Pencuri di mansion snake head? Really? Dan hanya mencuri kemeja?" Clay tergelak.
"Tutup mulutmu." Pedro mendesis dingin dan mulai mengamati kamera rahasia yang ia pasang di kamarnya dan hanya bisa diakses oleh dirinya.
Pedro mempercepat rekaman CCTV, berpindah jam, kembali mengamati rekaman yang diputar di layar laptopnya.
"What the hell....." Pedro berdesis, menegakkan duduknya, menatap serius layar laptopnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
No Escape (Tamat)
RomanceSemua orang mengenal Pedro Ramiro, pengusaha drone dan pemilik real estate dengan wajah tampan dan tubuh kekar. Tapi tidak banyak yang tau, siapa sebenarnya sosok Pedro, bagaimana masa lalunya, termasuk bisnis gelap yang dijalankannya. Freya Damaris...
