Happy Reading
"Mama mana?" Cowok itu terbangun dan melihat wanita yang dicarinya tidak ada ditempat itu. Disana hanya ada Pria yang selalu menunggunya walaupun di waktunya harus dibagi dengan pekerjaannya, sementara di sampingnya sudah duduk cewek yang lebih tua dibanding dirinya, dan ada Sahabatnya juga yang sejak tadi duduk di sofa di temani dengan cewek yang selalu memainkan ponselnya.
"Mama lagi balik ke rumah anterin pakaian kamu yang kotor, udah ah gak usah banyak cincong" ujarnya setelah melihat adiknya sudah siuman.
"Niat gue belum kebaca udah main sambar aja, parah"
"Lah terus ngapain nyari Mama? Disini juga ada Papa"
Rayhan mengedipkan matanya itu pertanda ada kode khusus yang harus di pahami oleh Yaya Kakaknya.
"Gak mempan, kali ini gue gak mau ikuttin mau lu" ujarnya setelah melihat adiknya memainkan matanya
"Apaan sih Kak, gak bisa di ajak kompromi kalau gini"
"Gak usah banyak ngomong lu, banyakin istirahat!!" Titah Sandi dari tempatnya duduk.
Pria paru baya itu meninggalkan ruangan itu, dan yang tersisa hanyalah beberapa orang di dalamnya termasuk Rayhan sendiri. Walaupun wajah itu masih kelihatan pucat, Rayhan sudah diperbolehkan untuk balik ke rumah dan melanjutkan perawatan di rumah saja.
"Ngab, bentar lagi lu bakal keluar dari zona angker ini"
"Akhirnya yang gue nanti-nanti tiba juga"
"Jangan senang dulu, lepas dari sini elu bakalan jalani masa karantina seminggu" sambung Yaya
"What? Gue kan gak kena covid Kak"
"Gak usah nge bantah, udah peraturan dari rumah sakit" ucapnya, "Tapi kalau lu mau terus-terusan disini lu bisa aja gak usah ikut aturan yang ada" sambungnya
"Dan lebih tepatnya lu gak bakalan ketemu ama Liandra" sambung Sandi yang berusaha menahan tawanya.
Rayhan diam, matanya hanya melihat ke arah Sandi namun mulutnya seperti terkunci rapih.
"Kenapa lu natap gue kek gitu bangke?"
"Ray, lu gak papa kan?" Raut wajah Gina langsung menegang.
Sementara Yaya terus memukul kedua pipi adiknya itu, benar!! Mata itu masih terus menatap ke arah Sandi.
"Gue salah ngomong atau gimana? Ucapnya terbata-bata"
"Pukul kak sampe puas" ucap Rayhan menepis tangan Yaya
Mereka yang ada diruangan itu sontak saja tertawa bersama.
"Selamat siang Tuan Rayhan, sebentar pukul 15.00 sudah bisa balik ke rumah ya" ucap salah satu perawat yang barusan masuk ke ruangan dimana Rayhan dirawat.
"Akhirnya penderitaan gue berakhir" ucapnya dengan sumbringa.
"Tapi Tuan Rayhan harus jalani karantina mandiri dirumah" sambung Perawat itu
"Oh God, gak jadi gue bebas" decaknya kesal
"Udah dibilangin malah ngeyel" sambung Sandi

KAMU SEDANG MEMBACA
LDR (?) ---- Siapa Takut !!
Teen Fiction"Gak bakal terulang, gue janji!!" tegas Rayhan didepan Cewek itu. mata itu sembap, mata itu terus berkaca-kaca menatap Rayhan yang terus meyakinkan bahwa dirinya tidak akan mengulangi kesalahannya. "kenapa diam? gak percaya?" Rayhan terus memaksa...