Happy reading....
Pulang dari sekolah, Kara tidak melihat Udin dimanapun. Dia berpikir mungkin Udin sedang bersama Ayah atau ibunya. Abimanyu juga belum pulang. Jadi, Kara memutuskan untuk istirahat di kamar saja.
"Kara bosan. Bang Abi belum pulang. Udin juga nggak ada. Ayah dan Bunda belum kembali. Uuuh, Kara bosan! " rengek Kara. Dia berguling kesana kemari menghilangkan kebosanannya. Tetap saja dia bosan.
"Apa Kara kerumah Papi dan Mami aja, ya? Ng, tapi Kara nggak tahu alamat mereka. Duh, Kara gimana dong? " tanyanya frustasi. Kara berdiri. Dia mengintip dari balik pintu.
"Um, sepertinya sepi. Mungkin mereka lagi istirahat. Mending Kara pergi diam- diam, deh. Biarin mereka panik. Siapa suruh ninggalin Kara sendirian, " ucapnya.
Diam-diam Kara berjalan mengendap- endap. Sebelum itu, Dia mengawasi sekitarnya. Siapa tahu ada CCTV atau yang lainnya. Kara cekikikan melihat tidak ada penjaga diluar. Para pelayanan juga tidak ada. Sepertinya mereka sedang istirahat. Kara mengambil sesuatu untuk menutupi seluruh badannya dan berjalan layaknya seorang maling.
"Hihihi, Kara hebat juga, ya. Kara pergi dulu, ya. Nggak lama, kok. Mumu, ayo kita kerumah Papi dan Mami. GO! "
"Meong! "
Kara dan Mumu meninggalkan mansion dengan lolos. Dia berjalan dengan riangnya. Dia nggak peduli dengan apa yang terjadi nanti. Salahkan mereka yang meninggalkannya sendirian dirumah. Tentu saja, Kara pergi membawa uang. Siapa tahu dia lapar atau haus di jalanan.
"Mumu, kita ada dimana sih? Kok, jalannya buntu," tanya Kara bingung.
"Meong- meong, " jawab Mumu.
"Ish, Mumu ngomong apa, sih? Kara nggak ngerti tahu! Mumu bantu Kara dong! "
"Meong, " jawab Mumu.
Karena tidak ada jawaban, Kara memutuskan melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba dia melihat seorang anak berlari ke arahnya dan menabraknya.
"Hei, Kamu tidak apa- apa? " tanya Kara. Dia membantu anak itu berdiri. Wajahnya terkejut melihat rupa anak itu.
'Mirip Udin, ' batinnya.
Anak itu juga ikut terkejut. Dia lalu pergi dengan buru- buru dan meninggalkan Kara yang bingung melihatnya.
Tiba- tiba seseorang menjewer telinga Kara membuat Kara kaget.
"Ternyata kamu disini! Ibu nungguin Kamu daritadi malah bengong disini! Ayo, cepat! Nanti kita terlambat! " Wanita itu menarik tangan Kara membuat Kara spontan menarik kembali tangannya.
"Lepasin! Ibu siapa sih? Kenapa menarik tangan Kara? Ibu penculik, ya? " tuding Kara.
"Dasar anak nakal! Ibu sendiri kamu bilang penculik. Kamu juga darimana dapat pakaian semewah ini? Apa kamu mencuri lagi? "
"Tidak.Kara tidak pernah mencuri, " bantah Kara.
"Terserah kamu. Ayo, pergi! "
"Nggak mau! " tolak Kara.
"Nggak ada penolakan. Ibu tidak akan tertipu lagi! " Wanita itu lalu menggendong Kara. Kara terus memberontak. Dia meminta wanita itu untuk menurunkan, tetapi tidak digubris oleh wanita.
Sementara, bocah yang mirip dengan Kara di bawa oleh seseorang kesuatu tempat. Anak itu tentu bingung, tetapi dia menurut saja karena penampilan orang ini seperti orang kaya.
Mereka membawanya ke sebuah rumah mewah. Bocah itu menatap rumah itu tak berkedip.
'Besar sekali. Aku ingin memilikinya. '
"Baby! " tiba- tiba teriakan seorang wanita mengagetkan nya. Anak itu bingung ketika wanita itu memeluknya.
"Akhirnya Aku menemukanmu, baby, " gumam wanita itu sambil menangis tersedu- sedu.
'Apa maksud tante ini? Baby siapa? Jangan bilang...? Hm, apa ini sebuah keberuntungan bagiku? Mungkin saja mereka mengira aku adalah anak mereka. Pasti anak yang tadi adalah anak mereka. Aku harus manfaatkan ini. Aku sudah capek jadi orang miskin, ' batin anak tersebut.
"Ka- Kamu siapa? " tanyanya takut. Dia harus berakting seperti anak yang polos dan lemah.
"Aku adalah Ibu kandungmu, Sayang. Kau tahu, Mommy dan yang lain percaya kalau kau masih hidup. Mommy nggak menyangka bisa melihatmu lagi. Mommy sangat senang, " ucap wanita itu.
"Mo- mommy, hiks. " Anak itu memeluk wanita itu dan menangis tersedu- sedu.
Keluarga yang lain melihat itu ikut terharu. Mereka lalu memeluk anak itu secara bergantian.
Disisi lain, Abimanyu yang mendapat kabar kalau Kara sudah bertemu keluarga kandungnya merasa sedih. Begitupun dengan keluarga Desmond. Papi barat dan Mami Timur sudah menduga kalau Kara adalah anak kandung dari teman bisnis mereka, keluarga Kim yang terkenal itu. Mereka merelakan kepergianmu Kara bersama keluarga Kim ke Korea dengan ikhlas.
"Aduh, dimana anak itu? Kalau dia hilang lagi, Aku jadi rugi dong! " gerutu wanita itu kesal. Dia lalu pergi tanpa membawa apa- apa.
Seseorang keluar dari tong sampah bersama kucing yang berada dalam gendongannya.
"Mumu, lain kali cari tempat persembunyian itu yang wangi dong. Kara jadi bau, nih, " omel Kara.
"Meong- meong. "
"Hei, bocah! Ngapain Lu di dalam situ?! " tegur seseorang membuat Kara kaget dan hampir jatuh. Untung dia bisa menahan tubuhnya.
"Kara lagi sembunyi dari orang jahat, Om, " jawab Kara.
"Hei, Gue nggak setua itu ya, bocah. Enak aja dipanggil Om. Emang gue Om Lu! " sahut remaja itu dengan kesal.
"Wajah Abang kan dah tua, " ejek Kara.
"Baru kali ini Gue kesal sama anak kecil. Eh, tunggu....! Lo kaya mirip seseorang deh, tapi siapa ya? " tanya remaja berseragam SMP itu.
"Bang, Kara pergi dulu! Daah! " Kara lalu meninggalkan remaja itu sambil menggendong Mumu.
"Hei, tunggu! " teriak remaja itu, tapi dia sudah terlambat. " Gue baru sadar kalau wajah itu ada kemiripan dengan Si kutub, tapi Jun bilang dia udah ketemu adeknya. Masa itu adeknya juga? Memangnya dia punya berapa adek, sih? Kok rasanya ada yang aneh, ya? Ah, sudahlah. Mungkin hanya mirip saja. Mending gue pulang lalu makan dan tidur daripada mikirin yang nggak- nggak, " ucap remaja yang tak lain adalah Rio itu.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Namaku kara
Teen FictionKara itu hitam manis tapi imut. Banyak orang ingin mendekatinya karena merasa gemas dengan tingkah lucunya. Kara yang tidak punya siapa- siapa selain kucing peliharaannya bernama Mumu. Suatu ketika, Kara bertemu dengan seseorang. Orang itu lalu men...
