Part 25

4.3K 401 11
                                        

Happy reading ya, All. Jangan lupa vote dan komen, ya teman-teman 🥰😉🥰.
.
.
.
.
.

Kara mendengar keluh kesah dari mulut Satria. Sahabatnya tak berhenti menangis. Mereka sampai ketinggalan jam pelajaran pertama dan kedua karena Satria menariknya ke rooftop. Kara hanya bisa menghibur Satria yang masih sesenggukan. Bahkan dia tidak marah saat Satria menjadikan baju lengannya untuk mengilap ingus.

"Pantas mereka nggak peduli sama aku. Tapi, tapi..., setidaknya mereka memberikan kasih sayang padaku. Aku nggak bisa benci mereka, karena dulu mereka pernah merawatku sejak kecil. Walaupun cuma sementara sebelum mereka menjadi orang kaya. Aku hanya kecewa pada mereka. Kenapa mereka baru menceritakannya sekarang? " curhat Satria.

"Boleh Kara kerumah Satria? " tanya Kara hati- hati.

"Untuk apa, Dek? " tanya Satria.

"Um, Aku cuma mau menemui orang tuanya abang. Apa tidak boleh? " tanyanya lagi dengan puppy eyes. Tujuannya adalah mendekatkan Satria dan orang tuanya. Dia yakin orang tua Kara pasti menyesal dan ingin berubah.

Satria diam. Tak lama dia mengangguk. " Boleh, kok, " jawab Satria.

Kara tersenyum cerah. " Makasih, abangnya Kara. "

"Hm, " jawab Satria dengan pipi bersemu. Dia sudah menganggap Kara seperti adik kandungnya sendiri.

Pulang sekolah, Satria membawa Kara ke istana Pramjaya. Sudah lama dia tidak singgah ke tempat yang pernah menjadi kenangan pahit untuknya. Lagipula dia juga datang kesini karena sebuah alasan. Dia ingin pak tua itu menceritakan keberadaan orang tua kandungnya. Dia pasti mengetahui sesuatu.

Para penjaga membungkuk sedikit ketika Tuan Muda datang. Mereka memberi jalan untuk di lewati oleh Tuan Muda. Sedangkan Kara, dia memegang ujung kemeja Satria. Entah kenapa dia merasa takut melihat para penjaga berseragam hitam itu. Padahal dirumahnya sudah biasa dia lihat, tetapi saat kesini perasaannya jauh berbeda.

Pintu besar bergambar kepala ular itu terbuka dengan otomatis. Seorang pria setengah baya duduk di sofa. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.

Degh!

Jantung Kara berdebar kencang. Wajahnya pucat entah kenapa. Badannya gemetar dan tangannya mencengkeram lengan Satria dengan kuat. Satria sampai meringis, tetapi ia tahan. Dia pikir sahabatnya ketakutan karena melihat wajah sanggar ayahnya.

"Putraku, akhirnya kamu mau pulang juga! " pria itu memeluk Satria, tetapi di tepis kasar oleh Satria. Dia menatap tajam Sakti. Sakti terkekeh melihat ekspresi tidak sabar dari wajah putra angkatnya.

"Oh, siapa anak ini? Apa dia sahabatmu? " tanya Sakti. Dia menelisik penampilan Kara.

"Ya. Dia kesini mau bertemu kalian berdua, " jawab Satria canggung. Mungkin sudah lama tidak berjumpa, dia jadi sedikit susah memanggil mereka Daddy dan Mommy.

"Oh, anak yang manis. Halo, Nak! " seorang wanita muncul dan menghampiri Kara. Kara tidak berani menatap. Tubuhnya masih gemetar.

"Jangan takut. Ada aku disini, ' bisik Satria.

Kara mendongak perlahan. Dia tersenyum pada perempuan itu. " Ha- Halo, tante, " jawabnya.

"Aduh imutnya. Darimana kamu dapatkan anak seimut ini, Satria? " tanya Lista, istri Sakti.

"Di sekolah, " jawab Satria tak acuh. " Pak tua, Aku ingin bicara padamu! " Satria memandang Sakti dengan serius.

"Baiklah, " jawab Sakti.

"Kara, kamu disini sebentar sama Mommy, ya, " kata Satria. Kara mengangguk. Dia menatap ayah dan anak itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

Perubahan wajah Lista terlihat oleh Kara. Dia memandang Kara dengan sinis.

"Tampangmu lumayan. Berapa banyak uang anak saya yang kamu habiskan?Sudah berapa banyak orang yang kau tipu dengan wajahmu polosmu ini? " tanya Lista sinis.

"Maksud Tante apa, ya? Kara nggak mengerti, " jawab Kara polos.

"Berhenti memasang muka polos. Dari kecil putraku tidak memiliki teman. Dia hanya mau berteman dengan anak orang kaya, tidak anak gembel kaya kamu! " tunjuk Lista dengan nyalang.

Degh!

Kara teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Dia tidak akan pernah lupa dengan kejadian tersebut. Sebelum neneknya meninggalkannya, Kara melihat mobil yang menabrak neneknya parkir di rumah sakit. Kara langsung menemui pria itu. Dia memarahi mereka karena sudah menabrak neneknya tanpa bertanggung jawab.

"Kamu jahat! Kalau nenekku meninggalkanku, Aku tidak akan melepaskanmu! "

Plak!

Seorang wanita tiba- tiba menampar nya hingga Kara kecil tersungkur dengan bibir darah. Mungkin wanita itu adalah istri dari pemilik mobil itu.

"Dasar anak gembel! Tiba-tiba marah pada suamiku! Apa kau sudah gila? Caramu memeras orang kaya sangat murahan! "

Tanpa perasaan, wanita melempar beberapa uang ke wajah Kara. Tidak hanya itu, dia menginjak kaki Kara sampai anak itu memekik kesakitan. Sedangkan pria di samping wanita menatap Kara sinis. Mereka meninggalkan Kara begitu saja.

Mengingat itu membuat darah Kara mendesis. Dia mengeratkan kepalan tangannya hingga buku- buku jarinya memutih.

"Kau pikir Aku lupa. Wajahmu sangat mudah kuingat. Anak gembel sepertimu tidak pantas menjadi teman anakku. Lebih baik kau menjauh dari anakku agar tidak membawa virus, " kata wanita itu dengan hina.

Kara menyeringai tipis. Dia menatap wanita itu tajam. Entah mengapa tatapan anak itu membuat Lista takut. Dia merasa dejavu. Dia pernah melihat tatapan yang mirip dengan anak ini.

"Kau bukan ibu kandungnya. Untuk apa aku mematuhimu, " ucap Kara remeh.

Skakmat.

"Darimana kau tahu kalau aku bukan ibu kandungnya? " tanya Lista dingin.

"Anakmu sangat jujur padaku. Dia menceritakan keluh kesahnya. Kurasa kalau dia memilih antara aku dan kau, mungkin dia akan memilihku. Jangan percaya diri kalau dia mulai menyanyangimu, wanita tua! "

"Satria tidak mungkin menceritakan itu pada orang lain. Kau pasti sudah mencuci otak anakku sehingga dia mau menceritakannya, ya kan?!! "

"Hahaha!" Kara tertawa menyeramkan.

"untuk apa aku melakukan itu? Dengan wajah polos saja sudah membuat orang lain tertarik padaku, " ucapnya dengan senyum remeh.

"Dasar rubah licik. Aku akan memberitahu Satria kalau kau bukan sepolos yang dia kira! "

"Coba saja. Maka, kupastikan kepalamu lepas dari tubuhmu. Lagipula dia tidak akan percaya padamu. Rasa sayangnya hanya 1% padamu dibandingkan rasa sayangnya padaku, " beber Kara.

Jangan salahkan dia melakukan hal yang lebih kejam. Banyak orang tertipu dengan wajah polosnya. Semua itu berkat ajaran sang nenek. Dia sudah melakukan ini sejak kecil. Dari dulu sampai sekarang hanya nenek yang dia sayangi. Mereka semua hanya pion agar dia bisa bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Selain itu, dia memiliki gen keluarga Kim yang tersembunyi.

Tbc.

Namaku karaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang