Part 37

2.1K 197 2
                                        

Happy reading...!

Daritadi Abimanyu membolak- balik buku majalah. Kara memperhatikan abangnya itu. Dia melihat dahi abangnya mengerut. Kara mengintip, ingin tahu apa yang dibaca oleh Abimanyu.

Perusahaan Pramjaya mengalami kebangkrutan. Diduga pemilik perusahaan melakukan korupsi besar- besaran. Dia dituduh memasukkan istrinya ke rumah sakit jiwa untuk menutupi aibnya.

Waw...!

Kara sangat takjub dengan berita yang ditampilkan dalam majalah itu.

Sudah sejauh itu, ya? Paman Sakti tidak bersalah, kenapa Paman Jeno melibatkan orang itu? Kara bertanya keheranan dalam hati.

"Sudah puas lihatnya, hm? "

Suara Abimanyu mengagetkan Kara. Kara langsung menyengir sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

"Hehehe, udah, " jawabnya malu karena kepergok oleh Abimanyu.

"Anak kecil dilarang mengintip majalah dewasa. Sana main sama Bang Etan! " suruh Abimanyu.

"Adek bukan anak kecil lagi, Bang. Adek udah besar, nih, " protes Kara.

"Bagi abang, Kamu masih bayi, " jawab Abimanyu.

"Terserah abang deh. Adek ngambek pokoknya! " Kara melengos dengan membuang wajah ke samping asal tidak ke arah Abimanyu.

Kara pergi ke tempat Selatan. Dia melihat Selatan sedang menulis sesuatu dibuku.

Kayanya Bang Etan sibuk, deh. Kara urung dan berbalik. Tiba-tiba Selatan memanggilnya.

"Adek ngapain? " tanya Selatan.

Kara berhenti. Kepalanya tertoleh. Senyumnya terbit dan langsung berjalan menghampiri Selatan.

"Adek Kangen, Bang! " dengernya.

Selatan geleng- geleng kepala. Dia menepuk lembut kepala adiknya. " Jangan kangen, " ucap Selatan membuat Kara bingung.

"Kenapa Bang? " tanya Kara.

"Itu sangat berat. Kamu nggak akan kuat. Biar abang saja yang kangen sama kamu, " jelas Selatan.

Kara mangut- mangut, walau dalam hati tidak mengerti. Dia melirik buku yang digenggam oleh Selatan. " Abang lagi nulis apa? " tanyanya penasaran.

"Oh, ini jadwal pekerjaan abang. Abang mencatatnya biar tidak lupa, " jawab Selatan.

"Bukannya itu tugas Bang Rio, ya? " pikir Kara. Soalnya dia pernah melihat semua pekerjaan dilimpahkan ke Rio. Dia jarang bertemu sahabat dari abangnya ini.

"Iya, tapi tidak mungkin dia semua yang menghandlenya. Kamu sudah sarapan? " tanya Selatan, Dia mengganti topik.

"Sudah, " jawab Kara. "Bang Jun yang buatkan adek sarapan, " ucapnya antusias.

"Yang lain kemana? Bukannya Daddy dan Mommymu sudah kembali? " tanya Selatan.

"Mereka lagi ada urusan. Bang Wowo, Adek nggak tahu kemana. Jadi, Adek kesini saja daripada sendirian dirumah. Abang sendiri ngapain dirumah Bang Abi? Bukannya abang punya rumah sendiri? "

"Ini juga rumah abang. Lagipula kita sudah menjadi satu keluarga, " jawab Selatan. "Mau jalan-jalan? " tawarnya.

"Abang nggak sibuk?"

"Nggak. Ini lagi senggang. Yuk! " ajak Selatan.

"Enak jadi abang, ya. Nanti besar Adek pengen jadi abang. Kerjanya cuma nyuruh orang aja, " sindir Kara.

"Jangan jadi abang. Mending jadi diri sendiri saja, " ucap Selatan yang tidak peka.

"Oke! Nanti besar Adek jadi Superman! Eh, Adek kan udah besar. " Kara merutuki dirinya.

"Kamu masih kecil dimata abang, " sahut Selatan sambil mengacak- acak rambut adiknya membuat Kara mengerucutkan bibir, kesal.

"Abang, jangan berantakin rambut adek dong! Abang sama Bang Abi sama saja. Adek kesal! " Dia menghentakkan satu kaki dan pergi meninggalkan Selatan. Selatan hanya tersenyum gemas.

*****

Di toko "Kamu manis", Jun berniat membeli kue kesukaan Kara. Dia keluar dari mobil dan masuk kedalamnya.

"Mbak, pesan kue cokelat campur strawberry satu ya! "

"Oke, Mas. Silahkan menunggu lima menit lagi. "

"Apa bisa dipercepat, Mbak? Soalnya saya lagi buru- buru nih. "

"Mohon maaf, Mas. Waktunya sudah pas. Jadi, tidak bisa dipercepat. Mohon menunggu sesuai nomor antrian, " ujar Mbak Kasir.

Jun hanya menghela kasar. Dia duduk di bangku yang kosong. Pandangannya terfokus pada salah seorang pemuda yang sedang bermain ponsel.

"Kaya kenal? " gumam Jun. Dia meneliti pemuda bertopi hitam itu dari atas sampai bawah.

"Lucas? " panggilnya ragu.

Pemuda itu menoleh. Matanya membelalak. Dia menunjuk Jun. " Kau...! "

"Astaga! " Jun menutup mulut tidak percaya. " Apa kabar, bray?" tanya Jun. Dia melakukan tos pertemanan ala pria dengan pemuda bernama Lucas itu.

"Gue nggak nyangka bertemu Lo disini. Gue pikir Lo masih di Seoul, " ujar Lucas.

"Nggaklah. Gue pindah kesini karena adek gue tinggal di kota ini, " jawab Jun. " Btw, Lo sudah lama disini? Bahasa gaul Lo fasih bener, " ucap Jun sambil bertanya.

"Gue kan memang lahir disini. Cuma Ibu gue asli dari Korea. Gue kesana karena ikut ayah gue, " jawab Lucas. " Lo beli kue juga? Buat siapa? " tanya Lucas.

"Adek, " jawab Jun singkat. " Kapan- kapan mampir ke rumah gue ya! "

"Dimana rumah Lo?" tanya Lucas.

"Entar Gue share lock ke WA Lo. Nomor Lo masih yang lama, ' kan? "

"Iya. Gue masih setia sama satu nomor, " jawab Lucas. " Gue penasaran dengan adek Lo, " gumam Lucas.

"Nanti Lo bakalan tahu orangnya. Gue duluan ya! " Jun menghampiri kasir dan membayar kue pesanannya. Dia meninggalkan toko kue tersebut.

Lucas mengernyit saat melihat sebuah mobil lain mengikuti mobil Jun. Apa dia salah lihat? Atau mungkin hanya dugaannya saja.

"Ah, mungkin itu mobil orang lain, " gumam Lucas mencoba berpikir positif. Meski, tidak dapat dimungkiri bahwa hatinya sedang gelisah.

Tbc.

Namaku karaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang