Part 33

2K 208 6
                                        

Happy reading ya, guys!
.............................................

Sedari tadi Raka menempel terus pada Satria seperti cicak. Dia menjulurkan lidah pada Kara dan tersenyum pongah seakan- akan menunjukkan pada Kara bahwa dia adalah pemenangnya.

Raka tak pernah berhenti memprovokasi Kara dengan terus berada didekat Satria. Dia berpikir kalau Satria adalah orang yang paling Kara sayangi. Dia tidak berani mendekati Eun Woo. Baru dekat saja, sudah disuguhi wajah jutek milik Eun Woo. Sedangkan Andre, pemuda itu sudah menunjukkan rasa tidak suka dari awal. Untuk Satria, mungkin dia lelah meladeni Raka, jadi dia membiarkannya selama masih sebatas hal yang wajar.

"Bang Satria, suapin Raka dong! " pintanya manja.

"Manja banget Lo, Alien! Tangan Lo kan ada. Nggak usah punya tangan kalau tidak berfungsi! " ucap Andre sarkas.

"Bang Andre kenapa sih? Daritadi selalu ngomong kasar sama Raka. Raka kan cuma minta sama Bang Satria bukan Bang Andre, " rungut Raka kesal dengan bibir dimanyunkan biar terlihat imut.

"Eh Udik! Satria itu keluarga Gue. Lo tuh bukan siapa-siapa Satria, nggak usah sok merasa paling dekat. Kara saja yang paling dekat tidak pernah tuh manja sama Satria, " jawab Andre sangat pedas. Pedasnya melebihi cabe rawit.

"Berarti salah Kara dong. Bang Satria aja nggak keberatan kalau aku manja sama dia. Ya kan, Bang? Lho, Bang Satria mana? " tanya Raka ketika tidak melihat Satria di sampingnya.

Andre langsung tertawa keras. " Dia udah pergi daritadi. Kayanya dia muak lihat Lo, " ucap Andre.

Raka melihat kedepan. Dia juga tidak melihat Kara dan Eun Woo. " Pasti Kara yang menculik Bang Satria. Nggak bisa dibiarin nih, " gumam Raka dengan tangan mengepal. Ketika hendak berdiri, tiba-tiba Andre menyuruhnya duduk kembali.

"Mau kemana Lo?! " tegur Andre dengan mata tajamnya. Raka tersentak kaget. Baru kali ini ia melihat wajah serius Andre.

"Ma- mau cari Bang Satria, " cicitnya gugup. Dia menjadi takut melihat tatapan Andre yang menyeramkan itu.

"Duduk! Lo nggak boleh pergi sebelum gue selesai makan. Enak aja Lo tinggalin gue. Maju satu langkah, kaki Lo gue potong! " ancam Andre.

Mendengar itu membuat Raka bergidik ngeri kalau membayangkannya. " I- iya, Bang, " jawabnya dengan bulir- bulir keringat yang membasahi wajahnya.

Andre tersenyum miring. " Nah, gitu dong. Jadi orang yang lebih muda itu harus patuh sama yang tua, kalau Lo mau selamat! "

Dalam hati Andre. ' Keren juga gue. Bisalah nakutin anak orang. Cocok jadi calon psikopat. Eh?? '


🌿🌿🌿

Pulang dari sekolah, Kara dan Eun Woo langsung ke rumah mereka. Jun sudah menghubungi Eun Woo untuk mampir ke apartemen keluarga Kim yang sudah dibeli oleh Daddy Kim beberapa hari yang lalu. Katanya ada yang rindu sama Kara.

"Kira-kira siapa yang kangen sama adek ya, Bang? " tanya Kara berusia mengira- ngira orang yang merindukannya. Apa itu Daddy atau Mommy? Ah, mana mungkin. Mereka kan orang sibuk. Lagian dia belum  terlalu dekat dengan keluarga Kim, kecuali Eun Woo dan Jun.

"Nggak tahu, Dek. Kita lihat saja, " jawab Eun Woo. Dia menggengam tangan adeknya supaya tidak hilang nanti.

Mereka masuk ke dalam apartemen dan tidak siapapun di dalamnya. Kara juga tidak melihat Jun. Hanya para maid yang berjalan lalu lalang di sekitar mereka dan juga para bodyguard yang menjaga dari berbagai sisi.

"Dimana Bang Jun? Kok nggak ada? " tanya Kara pelan. Dia memilih pergi ke kamarnya karena Eun Woo sudah pergi duluan ke kamar. Kara memilih berjalan menggunakan anak tangga karena kamarnya tidak begitu jauh. Sedangkan Eun Woo memilih naik lift. Soalnya kamar Eun Woo berada di lantai 5.

Kara membuka pintu dengan hati- hati. Kamarnya sangat gelap. Dia jarang sekali tidur disini. Kebanyakan tidur di kediaman keluarga Bumi.

Klek!

Begitu lampu dihidupkan, tiba- tiba dia dikagetkan dengan pelukan seseorang dengan tiba-tiba. Semula ia ingin memukul orang tersebut, tetapi tidak jadi karena mencium aroma yang tidak asing di tubuh orang ini.

"Mommy, " gumamnya lirih.

"Yes, Baby. Mommy kembali, " balas Aina.

Seketika mata Kara berkaca- Kara. Dia langsung memeluk mommynya dan menangis dalam dekapan hangat mommynya.

"Boy, kau tidak merindukan daddy? " tanya suara berat seseorang dari belakang.

Kara melirik. Dia langsung menggeleng. " Nggak, " jawabnya tanpa melepaskan pelukan hangat mommynya. Daddy Kim mengerucutkan bibir dengan muka cemberutnya. Aina terkekeh melihat Kara yang tengah menggoda suaminya.

"Daddy nggak usah sok imut deh. Muka Daddy nggak cocok, jelek! " ejek Kara.

"Hei, Daddy ganteng ya. Kalau nggak ganteng, bukan daddy namanya. Mommymu saja sampai terpesona lihat daddy, " timpal Daddy Kim dengan narsisnya.

"Apa itu benar, Mom? " tanya Kara.

"Hm, sebenarnya Mommy terpaksa sih. Mommy hanya mencintai harta daddymu," aku Aina. Dia ikutan menggoda suaminya.

Kara tersenyum mengejek ke arah Daddy Kim. " Tuh kan, dengar tuh apa yang mommy bilang. Kalau daddy nggak kaya, mungkin mommy nggak mau nikah sama daddy, " ucap Kara.

"Kalau mommy tidak mau menikah dengan daddy, mungkin kamu tidak lahir di dunia ini, " balas Daddy Kim dengan mata mengejek.

Bibir Kara mencebik dan matanya berkaca- kaca. " Mommy, lihat tuh daddy!" rengeknya sambil terisak- isak.

Aina langsung menatap Daddy Kim tajam membuat Daddy Kim menciut seketika. Aina lalu memeluk Kara. " Nanti Mommy marahin daddy. Jangan nangis, nanti kamu digigit sama daddy, " ujar Aina.

"Hum, Kara nggak nangis lagi. Janji ya, Mom. Mommy harus marahin daddy. Daddy, pokoknya Kara nggak mau bicara sama daddy. Kara ngambek! "

"Ngambek kok bilang- bilang, " ledek Daddy Kim.

"MOMMYYY!"

"KIM JUNG- KOOK, KAMU TIDUR DILUAR NANTI MALAM! "

"Eh, jangan dong sayang! Sayang, tunggu!! " Daddy Kim mengejar istri dan anaknya yang sudah keluar lebih dulu. Mereka tidak ingat kalau Jun masih ada di kamar Kara.

"Lha, gue ditinggal nih ceritanya. Gimana sih ending dari drama tadi. Padahal lagi seru- serunya malah selesai begitu saja tanpa akhir yang jelas, " gerutu Jun kesal sambil keluar dari kamar menyusul mereka.

Tbc.



Namaku karaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang