Happy reading, All! Jangan lupa vote 'n komenmya, teman-teman ☺🥰😉.
.
.
.
.
.
.
Seminggu setelah kejadian itu berlalu. Abimanyu dan Eun Woo sudah berusaha keras menyelidiki dalang di balik insiden tersebut. Namun, hasilnya nihil. Mereka sengaja tidak memberitahu para orang tua agar mereka khawatir. Apalagi mereka sedang mengurus bisnis di Seoul. Ya, dua hari sesudah kejadian itu, keluarga Kim kembali ke Seoul. Hanya Jun dan Eun Woo yang tinggal. Kara tentu tidak ikut karena dia pasti memilih keluarga Bumi. Maka dari itu, Jun dan Eun Woo memutuskan untuk menemani adik mereka.
Orang tua Selatan dan Utara pergi ke China bersama Ayah Bagas. Mereka ada urusan yang di negara tersebut. Untuk itu, Selatan dan Utara memilih tinggal di rumah keluarga Bumi. Bunda Nila tidak ikut, karena pekerjaannya masih banyak disini.
Jam 06.15, Kara bangun. Dia melihat ke arah jam dinding. Kara mengerutkan dahinya. Dia berpikir, kenapa tidak ada yang membangunkannya? Kara lantas beranjak dari tempat tidur untuk mencuci mukanya di kamar mandi.
Di dapur, Jun dan Selatan sibuk berjibaku dengan peralatan masak. Mereka terlihat serius. Abimanyu mencuci piring. Eun Woo membersihkan rumah dibantu oleh Selatan. Mengenai Satria, pemuda itu memilih tinggal di rumah keluarga Digital.
"Abang, Abang dimana? " Kara berjalan dengan langkah terhuyung- huyung menuruni anak tangga. Setibanya di anak terakhir, dia melihat Utara sedang mengepel lantai dan Eun Woo merapikan sofa dan meja.
"Bang Wowo nggak sekolah? " tanyanya bingung.
Eun Woo menoleh. " Nggak, Dek. Ini kan hari minggu. Masa adek lupa, " jawabnya. Oh, ya mereka sepakat untuk memanggil Adek pada Kara. Kara mengangguk. Anak itu berjalan ke arah dapur dengan piyama putih bermotif kelinci yang kebesaran di badannya.
Jun yang baru selesai memasak ayam goreng langsung membuat susu untuk si bungsu. Dia meletakkan segelas susu di atas meja. Kara menghampiri meja dan meminum susu itu sampai tandas tak bersisa.
"Abang, masak apa? " tanyanya. Dia mengintip apa yang dimasak oleh Selatan.
"Sayur bening dan Omelet. Kita akan sarapan bersama dengan ini, " jawab Selatan. " Adek suka? " tanya Selatan sambil melirik sekilas.
"Uum, " jawab Kara. Dia membantu Abimanyu membawakan piring dengan kesusahan karena badannya yang kecil. Sesudah itu, Kara duduk anteng di kursi sambil menatap aneka lauk pauk di meja beserta nasi. Dia sudah tidak sabar untuk mencicipi ayam goreng buatan Jun.
Mereka sudah duduk di kursi masing- masing. Sebelum menyantap hidangan, mereka berdoa dulu. Kara mengambil dua potong ayam goreng dan menggigitnya. Matanya berbinar saat merasakan daging lembut dan gurih di lidahnya. Ini lebih enak daripada ayam goreng yang biasa ia makan. Dia akan meminta Jun untuk membuatkan ayam goreng lagi.
*****
Minggu ini Kara luangkan waktu dengan bermain layang- layangan yang dia beli kemarin bersama Satria. Dia di temani oleh Eun Woo yang hanya mengawasi sambil memakan cemilan. Selatan kembali sibuk bekerja. Dia sudah berangkat tadi bersama Jun yang kebetulan ada urusan di luar. Sedangkan Utara, pemuda itu tidak tahu apa yang dia lakukan di dapur. Untuk Abimanyu, lelaki itu sibuk di kamar menyelesaikan makalah kampusnya.
"Aaaa, kok nggak bisa terbang sih?! " rungut Kara kesal. Dia sudah lelah sejak tadi.
Eun Woo menghampiri adiknya. " Lihat arah anginnya, Dek. Adek salah menerbangkannya. Lihat abang nih! " Dia mengangkat layang- layang ke atas, lalu melemparnya. Layang- layang itu terbang ke udara dan Eun Woo menahan benang layang- layang agar tidak ikut melayang.
"Waaaah! Sini, sini. Biar Adek yang pegang! " seru Kara nggak sabar. Dia mengambil alih posisi Eun Woo. Eun Woo kembali ke tempat seraya mengawasi sang adik.
Seorang pemulung yang kebetulan melewati gerbang mansion berhenti. Dia memandang dua orang remaja itu. Tangannya mengepal dengan pandangan membunuh ke arah salah satu dari mereka.
'Apa itu dia? Gara-gara dia, Aku menjadi seperti ini. Lihat saja, Aku akan membalasnya nanti! ' Pemulung itu meninggalkan tempat tersebut. Di tengah perjalanan, dia dihadang oleh seseorang.
"Minggir! Jangan menghalangi jalanku! " sergahnya.
"Kau ikut aku! " Orang itu menarik lengannya. Tentu saja dia memberontak.
"Tidak mau! Lepaskan aku! "
"Ikut aku sebentar! Ada yang mau kubicarakan denganmu. Kau akan tertarik mendengarnya, " ucap orang misterius itu. Dia terdiam dan mengangguk dengan mantap ketika melihat mata dari orang tersebut.
'Siapa pria ini? Seperti pernah mengenal, tapi dimana ya? ' tanyanya dalam hati.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Namaku kara
Teen FictionKara itu hitam manis tapi imut. Banyak orang ingin mendekatinya karena merasa gemas dengan tingkah lucunya. Kara yang tidak punya siapa- siapa selain kucing peliharaannya bernama Mumu. Suatu ketika, Kara bertemu dengan seseorang. Orang itu lalu men...
