Happy reading ya, all! Jangan lupa vote dan komen ya, teman-teman 🥰😉.
Para perempuan menjerit ketika dua lelaki itu sedang adu jotos, dimana yang satunya tidak menyerang hanya diam menerima pukulan dari sang lawan. Kara yang menyaksikan itu bukannya melerai. Dia malah bertepuk tangan dan menemani pertunjukan tersebut.
"Dek, itu abangmu kan? " tanya salah satu pria yang memang tidak sengaja memperhatikan Kara sebelumnya. Dia ingat anak ini memanggil Abang pada salah satu dari mereka.
"Iya, Om, " jawab Kara.
"Kenapa tidak di lerai, Dek? Nanti abangmu habis sama tuh orang, " ucap pria tersebut.
"Kara percaya sama Bang Tara. Dia pasti menang! " seru Kara semangat.
"Aduh, Dek. Mereka itu kelahi, bukan lomba silat, " beritahu pria itu greget. Dia tidak mengerti dengan pikiran anak ini.
"Ha? Kelahi? " beo Kara ngelag. Sebelum dia menyadarinya, tiba- tiba suara bariton seseorang menghentikan perkelahian itu.
Tiga orang pria tampan berjalan berdampingan. Di sisi mereka ada tiga bodyguard dan satu asisten yang selalu di sisi pria berkacamata hitam.
Seketika yang tadinya berisik makin berisik. Para perempuan menjerit histeris seperti orang kesurupan.
"Kyaaa! Sugar daddy gue!! "
"Eh, pria itukan pemimpin perusahaan KH Group yang di Seoul itu? "
"Kok Lo tahu? "
"Ya, taulah. Gue sering update soal beginian. "
Suara ribut terdengar di mana-mana. Pria berkacamata hitam itu membuka kacamatanya dengan gerakan slow motion. Spontan para betina berteriak histeris. Ada yang tiba-tiba kejang- kejang di tempat dan juga pingsan.
"Papi/ Daddy!!! " Jun dan Utara sama- sama terkejut. Mereka berpikir apa yang dilakukan oleh ayah mereka di tempat ini.
Mata Kara langsung berbinar cerah. Dia berlari menghampiri Papi Barat.
"PAPIII!!! " teriak Kara.
Deg!
Pria bernama Kim Jung-Kook yang dikenal dengan sebutan Presdir Kim itu terkejut melihat Kara.
'Baby, ' gumamnya lirih.
Papi Barat dan Ayah Bagas langsung panas dingin. Mereka tidak menduga Kara ada disini. Sebelum Kara menggapai Papi Barat, Presdir Kim langsung menggendongnya membuat Kara kaget.
"Om, lepasin Kara. Kara mau sama Papi! " rengek Kara dan mencoba memberontak, tetapi rengekannya tidak digubris oleh Presdir Kim.
"Tuan Desmond dan Tuan Bumi, mari kita selesaikan ini, " ucap Presdir Kim dengan senyum menyeramkan membuat kedua pria itu bergidik ngeri.
Mereka meninggalkan tempat itu. Tinggallah Satria yang sedang mencari Kara. Seingatnya Kara sedang menonton pertunjukan dancenya. Sekarang anak itu menghilang kemana? Dia tidak peduli dengan kerumunan di depan sana. Pikirnya mungkin ada pertunjukan lainnya.
"Aish, kemana tuh anak? Apa dia ngumpet lagi? Bisa menjadi masalah kalau dia hilang, " gumam Satria.
"Woi, Sat!! "
Satria menoleh. Dia memandang orang itu dengan heran. " Ngapain Lo kesini? " tanya Satria.
"Lo juga ngapain? " Andre balik bertanya.
"Gue cari anak hilang, " jawab Satria tak acuh. Dia malas meladeni sepupunya ini.
"Ngapain Lo cari anak hilang? Nggak ada kerjaan aja, " ujar Andre heran.
"Gue cari Kara, Lo liat nggak? " tanya Satria.
"Kara? Kalau tak salah gue lihat Kara sudah pergi sama Om Bagas, Om Barat dan satunya Presdir Kim. Gue nggak tahu mereka mau kemana. Dari wajah mereka terlihat serius, " beber Andre.
"Lo nggak salah lihat kan? " tanya Satria nggak yakin.
"Nggak. Gue benar- benar melihat mereka, " jawab Andre.
"Baguslah. Gue pikir anak itu hilang, " ucap Satria.
"Lo mau kemana, Sat? " tanya Andre ketika Satria berjalan ke arah lain.
"Pulang! " sahut Satria.
"Tunggu gue, Sat! " Andre berlari kecil mengejar langkah lebar Satria.
******
Suasana di rumah keluarga Bumi tampak mencekam. Presdir Kim ,istrinya dan keluarga Desmond berkumpul. Presdir Kim menatap mereka bagaikan seekor elang. Kara, anak itu berada dalam pelukan istri Presdir Kim, Aina.
"Kenapa Kalian menyembunyikan hal sebesar ini pada kami? " tanya Presdir Kim geram. Dia berusaha menahan emosi mati- matian untuk tidak mencincang dua pria di depannya yang dulu pernah menjadi temannya semasa kecil.
"Santailah, Jung. Lagian salah kalian sendiri yang tidak memeriksanya lebih dahulu, " celetuk Ayah Bagas.
Presdir Kim menghela kasar napasnya. "Kalau begitu, kenapa tidak memberitahuku? " tanya Presdir Kim yang mulai sedikit lunak. " Kau bisa menghubungiku, Barat. " Dia menatap Barat dengan dingin.
"Ya, sorry. Lagian bagus juga Kara sama kami. Musuh - musuhmu tidak akan mengetahui kalau dia adalah bungsu keluarga Kim. Kau tidak lupa kan kejadian itu. Kalau aku tidak datang tepat waktu, mungkin Eun Woo ikut dibunuh juga. Ngomong- ngomong bagaimana kau tahu kalau kembaran Eun Woo masih hidup ? " tanya Papi Barat penasaran.
"...." Presdir Kim diam. Dia tidak tarus menjelaskan darimana. Soalnya, Dia adalah orang yang malas bicara panjang lebar. Menurutnya buang- buang energi saja.
"Biar Aku yang menjelaskannya, Daddy! "
Seketika mereka semua menoleh. Kara menyipitkan mata. Dia seperti mengenal orang itu. Matanya langsung membelalak.
"UDIN!! "
"??? "
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Namaku kara
Teen FictionKara itu hitam manis tapi imut. Banyak orang ingin mendekatinya karena merasa gemas dengan tingkah lucunya. Kara yang tidak punya siapa- siapa selain kucing peliharaannya bernama Mumu. Suatu ketika, Kara bertemu dengan seseorang. Orang itu lalu men...
