14 🍒

8.2K 697 83
                                        

Lukman melihat majikannya berjalan gontai saat keluar dari kediaman Wulandari Putri. Raut sedihnya menghiasi wajah Arini, tapi meski begitu—Arin tetap terlihat tegar. Pria itu gegas membukakan pintu mobil untuk majikannya. Setelahnya, Lukman langsung memutari mobil untuk duduk di kursi kemudi. 

"Nunggu Bapak, Mbak?" 

Dari kaca spion, Lukman bisa melihat Arin menyandarkan kepalanya pada jok mobil sambil memejamkan matanya lelah. Terlihat jelas di wajah wanita itu. Lukman tahu, Arini harus berpura-pura tegar agar tidak di tindas. Selama ini, Arin berhasil memerankan istri yang baik. 

"Kita pulang saja, Man..." ucap wanita itu memberi perintah tanpa membuka matanya. 

"Terus Bapak gimana, Mbak?" Hanya Lukman yang di izinkan memanggil namanya dengan sebutan Mbak karena mereka berasal dari panti yang sama. Selama ini, Arin banyak membantu orang-orang terdekatnya mencarikan lowongan pekerjaan, termasuk Lukman dan juga Mbok Siti. 

"Bapak bisa pulang sendiri. Dia bisa pulang bersama mamanya." 

Lukman bisa melihat gurat keputus asaan dari wajah Arini. Pria itu mengangguk lantas mulai menyalakan mesin mobil. Ia ingat betul hari itu, dimana Arini mengajaknya bicara empat mata padanya. 

"Man, kamu mau bantu saya 'kan?" 

"Ada apa, Mbak?" Lukman sama sekali tidak menaruh curiga, hanya saja gelagat Arin sedikit berbeda. Wanita itu mendatanginya dengan mata yang sedikit sembab, apa Arin dan bossnya bertengkar? Tapi sejauh ini, mereka baik-baik saja. Tapi Lukman yakin, ada sesuatu yang menganggu Arini. 

"Mau atau enggak?" Desak Arin saat di lihatnya Lukman hanya menatapnya tanpa arti. 

"Ya mau lah, Mbak. Gimana sih? Saya kan kerja buat Mbak Arin, masa nggak mau bantu padahal yang bayar juga Mbak!" 

"Oke, tapi kamu janji bisa jaga rahasia, kan?" 

Lukman mengangguk. 

"Antar aku ke rumah sakitnya Dokter Rangga. Buruan." Arin menepuk pundak Lukman, setelah wanita itu membuka pintu mobil. 

Lukman langsung bergerak cepat. Pagi itu sekitar jam 9-an, mereka berdua pergi ke rumah sakit dimana Arin dan Rio melakukan inseminasi buatan. 

Lukman seperti biasa menunggu di parkiran sambil merokok. Ketika Arin keluar dari pintu utama, Lukman segera mematikan rokoknya yang tinggal setengah untuk menghampiri wanita itu. 

"Pulang sekarang, Mbak?" 

Arin mengangguk. Setelah keduanya duduk di kursi masing-masing. Dari balik kaca spion, Lukman mengamati Arini yang termenung menatap selembar kertas. 

"Gimana, Mbak?" 

Bukan jawaban yang terdengar dari mulut Arin namun suara isak tangis yang keluar dari bibir wanita itu. Lukman gelagapan, namun tak bisa berbuat banyak selain menyodorkan tisu pada wanita itu. 

Setelah tangis Arin mereda, wanita itu baru bicara. "Saya hamil, Man..." 

Hening 

Lukman tidak bereaksi banyak. Bukankah seharusnya Arin senang? Bukankah seharusnya kabar ini membuat wanita itu bahagia? Tapi kenapa Arin justru menangis? 

"Alhamdulillah," ucap Lukman penuh syukur.

Ucapan syukur Lukman di tanggapi dengan anggukan di kepala Arini, wanita itu menyeka air matanya berulang kali, dan terlihat menarik nafasnya sesak. 

"Tapi, Man... tolong rahasiakan ini dari Bapak, ya?" 

Lukman tidak ingin bertanya, kenapa? Sebab, ada alasan yang membuat Arin melarangnya bukan? 

Bittersweet Marriage Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang