*
**
Versi pdf atau ebook sudah tersedia ya, di kbm aplikasi juga ada...
Yang minat baca cepat bisa order via wa di 089633021705 (klik link wa di bio agar langsung terhubung)
Harga Pdf Bittersweet 50k sajaa..
Makan malam berlangsung dalam hening. Liana bahkan sulit menelan makanannya karena baru mendapatkan kabar yang tidak mengenakan. Berbeda dengan Melinda yang membahas banyak hal bersama Andini dan Wulandari.
Liana justru melemparkan tatapan prihatin pada Arini yang nampak tidak berselera makan. Pasti karena pembahasan yang memuakan di meja makan ini. Apalagi alasan Rio yang akan menikahi Andini karena wanita itu tengah berbadan dua, membuat Liana merasa muak.
Bagaimana bisa perempuan selembut Arini dan secantik ini di sia-siakan? Tidak peduli bagaimana latar belakang kehidupan wanita itu, Arini tidak pantas di perlakukan semacam ini. Tapi, Liana sama sekali tidak memprotes, wanita itu memilih bungkam. Entahlah karma apa yang akan di dapatkan Melinda karena sikap dzalimnya itu. Ia akan melihatnya nanti.
Makan malam selesai, Arin memilih berkutat dengan dapur karena ingin melewatkan perbincangan di antara mereka. Rio justru tetap berada di sisi istrinya, sesekali membantu Arini. Sikap Rio yang seperti itu justru membuat Andini gelisah. Jelas sekali, Rio menghindarinya.
Apa berita itu sama sekali tidak mempengaruhinya? Padahal jelas-jelas beritanya masih menjadi perbincangan hangat.
"Kamu bisa ke depan, Mas..." pinta Arin yang merasa risih karena Rio terus saja membuntutinya.
"Aku akan kesana kalau kamu juga ada disana, kamu juga nampak nggak sehat. Makanmu sedikit sekali..."
Arini tersenyum kecut atas perhatian kecil yang di berikan suaminya. Bagaimana bisa ia berselera makan dengan kondisi hatinya yang remuk redam?
"Kamu ke depan saja, ya? Temani Dokter Rangga sebentar aja."
Rio menggeleng. "Nggak mau. Kalau aku disana, Andini akan mendekatiku!"
Arin menatap Rio dengan kening mengernyit. "Kenapa? Bukankah kamu menyukainya?" Alih-alih menunggu jawaban dari suaminya, Arin meraih buah potong yang sudah di kupas sebelumnya oleh pembantu dan membawanya ke depan di ikuti oleh Rio.
"Aku nggak seperti apa yang kamu tuduhkan."
"Diam, Mas. Aku takut kamu menyinggungnya," desis Arin ketika mereka hendak sampai. Wanita itu menyuguhkan buah di meja yang hanya di sambut oleh Liana.
"Makasih ya, Rin..."
"Sama-sama, Tan..."
Baru saja Arin duduk, entah aroma parfume siapa yang mengusiknya hingga Arin tiba-tiba merasa mual sampai menutup hidungnya. Karena tak tahan dengan gejolak di perutnya, Arin berlari menuju kamar mandi dan langsung memuntahkan isi perutnya akibat aroma parfum yang ia hirup.
Rio yang merasa cemas langsung menyusul Arin sambil mengetuk-ngetuk pintu. "Sayang, kamu nggak apa-apa 'kan?"
Tidak ada jawaban meski Rio menempelkan telinganya di permukaan pintu, hanya suara air mengalir pada keran saja yang pria itu dengar.
Dengan gelisah Rio menunggu di depan pintu sampai Arin membukanya. Wajah pucat wanita itu menyambut penglihatan Rio.
"Ya ampun, Rin. Ini pasti karena makanmu nggak banyak, iya kan?" Rio membingkai wajah istrinya yang terpaksa mengulas senyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet Marriage
रोमांसRio Dewangga yakin bahwa ia tidak pernah berkhianat, meski nyatanya seorang Andini hadir di kehidupan rumah tangganya bersama Arin untuk memporak-porandakan hidup pasangan itu. Wanita itu mengaku hamil anaknya saat Arin-wanita yang dia nikahi selam...
