Happy Reading :)
Kritik dan saran dipersilahkan :)
Jangan lupa VOTE dan Komen
*****
"Dan, Imam Ghozali dalam salah satu kitabnya yang bernama, Majmu'ah Rasail beliau menyebutkan adab kita pada sesama teman itu ada tujuh. Diantaranya, menunjukkan rasa gembira saat bertemu, mendahului berunjuk salam, bersikap ramah dan lapang dada ketika duduk bersama, turut melepas saat teman berdiri,
memperhatikan saat teman berbicara dan tidak mendebat ketika sedang berbicara, menceritakan hal-hal yang baik, tidak memotong pembicaraan dan memanggil dengan nama yang disenangi,"
"Jadi....," belum sempat Ning Zira menyelesaikan keterangannya, tangannya reflek membungkam mulutnya. Menahan sesuatu agar tidak keluar dari mulutnya. Perutnya terasa sangat bergejolak.
Dia pergi begitu saja meninggalkan para santri dan membuat para santri kebingungan.
"Loh, Ning Zira kenapa ya?" tanya salah satu santri bingung.
"Mana kutau, mungkin masuk angin kali,"
"Bisa jadi sih," sahut yang lainnya.
"Terus kita ta'limnya gimana? Siapa yang mau badalin beliau?" tanya Sofia salah santri teladan di kelas.
"Ga mungkin juga Ning Kia, dia kan ga bisa ngaji kitab," nyinyir salah satu santri yang tidak suka dengan Kia.
"Hustt, gaboleh ngomong gitu, qolil adab itu namanya. Bagaimana pun juga, Ning Kia tetep istrinya Gus Tsaqib. Jaga omongan kamu," sahut Syila yang sedari tadi diam.
"Kenyataan kan Syil?" Syila menggeleng tak habis pikir dengan temannya. Dia lebih memilih diam saja.
Sedang diluar kelas, Gus Tsaqib yang melihat Ning Zira keluar dengan tergesa pun mengikutinya.
"Gus, itu Ning Zira kenapa?"
"Tidak tau Kang, saya tinggal dulu ya, nanti kita lanjut lagi," pamitnya pada Kang Mufti, supir abahnya.
"Inggih Gus,"
Dengan tergesa, Tsaqib menyusul Ning Zira ke ndalemnya. Ning Zira yang sudah tidak bisa menahan gejolak di perutnya memuntahkan semua isinya.
"Allah, kenapa gini ya, kayanya Zi makan tepat waktu,"
Tok tok tok
"Ning, kamu di dalam?"
Ning Zira tersentak kaget, "iya Mas, Zi lagi di dalem,"
"Kamu kenapa, Ning?"
Ceklek
"Zi gapapa Mas, mungkin asam lambung Zi naik, jadi muntah,"
"Tapi, wajahnya pucat Ning, panggil dokter ya,"
"Gapapa, Mas,"
"Mas ga nerima penolakan Ning." Ucap Gus Tsaqib tak terbantah.
Ning Zira tersenyum. Dia senang dengan panggilan Tsaqib menyebut dirinya sendiri dengan sebutan 'Mas'.
"Yasudah, terserah Mas saja, Zira nurut,"
Karena istrinya setuju, Tsaqib segera memanggil dokter keluarganya.
*****
"Tanam-tanam ubi, tak perlu dibaja, orang berbudi kita kan berbahasa,"
"Keliatannya mantu Umi seneng banget,"
"Umii, engga kok, Kia biasa aja,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Amor
Fiksi RemajaBukan tentang memiliki atau dimiliki. Tapi, tentang ketetapan hati. ⚠ PLAGIAT GAUSAH MAMPIR! Highest Rank : 2 Kia ---- 12/ 06/ 2022 2 Ning -- 22/ 11/ 2022 1 Ning -- 26/ 11/ 2022 6 Poligami -- 02/ 12/ 2022 4 Poligami -- 05/ 12/ 2022 3 Poligami -- 06...
