Firasat

2.4K 201 17
                                        

Happy Reading :)

Jangan lupa Vote dan Komen.

Kritik dan Saran dipersilahkan :)

---

Pagi hari seperti biasa, setelah memasak untuk sarapan dan makan bersama, Kia membersihkan rumah. Sementara Tsaqib bersiap berangkat ke pondok putra untuk mengajar.

“Ki, Kakak berangkat dulu, ya,” pamitnya.

“Iya, Kak. Hati-hati. Jaga mata! Nggak boleh lirik-lirik,” ancam Kia, tapi wajahnya sama sekali tidak terlihat menakutkan.

“Kamu lupa kalau Kakak ngajarnya di pondok putra, hmm?” Tsaqib mencubit hidung Kia gemas.

“Kakak, lepas ih! Kia kan nggak bisa napas,” rajuknya.

Tangan Kia terulur menyalami suaminya, mengantarkannya sampai ke pintu utama.

“Kakak berangkat. Assalamu’alaikum.”

“Wa ’alaikumussalaam.”

Sepeninggal Tsaqib, Kia melanjutkan pekerjaan yang tertunda — membereskan rumah.

Ia lebih suka melakukannya sendiri tanpa bantuan santri.

Kedua putrinya kebetulan sedang tidak di rumah. Seusai sarapan, keduanya langsung berlari ke ndalem Jiddahnya yang tak jauh dari rumah Kia dan Tsaqib.

Rencananya, setelah selesai bersih-bersih, Kia ingin membaca sebentar untuk menghilangkan penatnya.

---

Senyum Tsaqib tidak pernah luntur sejak kembalinya Kia. Semua santri bersyukur karena gus mereka kini tak lagi sedingin dulu. Setiap salam yang mereka ucapkan dibalas Tsaqib dengan ramah dan senyum menenangkan.

Setengah hari ia habiskan mengajar di pondok. Tanpa berbelok ke mana pun, ia langsung pulang. Ia rindu putri-putrinya — dan istrinya.

“Assalamu’alaikum, Gus,” sapa seorang santri dengan takdzim.

“Wa ’alaikumussalaam, Mas. Kenapa?”

“Afwan, Gus, ini ada paket buat Gus Tsaqib.” Santri itu menyerahkan sebuah paket rapi kepada Tsaqib.

Tsaqib bingung. Ia merasa tidak pernah memesan apapun. Ia mengira mungkin itu milik Kia, tapi nama penerima jelas tertulis: Tsaqib.

“Terima kasih, ya.”

Santri itu menunduk hormat lalu berlalu.

Tsaqib menatap paket itu lama. “Nggak ada nama pengirim… apa mungkin lupa?” gumamnya.

Tidak mungkin Kia memberinya kejutan — hari ini bukan hari spesial.

Ia membuka kertas pembungkus, tersisa sebuah kotak berukuran sedang. Tidak ada surat di dalamnya.

“Apa ini?” Ia membuka kotak itu.

“Foto? Tapi foto siapa?”

Begitu ia membalik foto itu, wajahnya seketika berubah dingin. Tatapan ramahnya menghilang. Tangan Tsaqib meremas foto itu kuat-kuat, lalu melangkah pulang dengan rahang mengeras.

---

Ceklek.

Mendengar pintu rumah terbuka, Anna dan Maira berlari menghampiri. Mereka tak sabar ingin menunjukkan hasil belajar yang dinilai langsung oleh Jiddah mereka.

“ABIII!” teriak keduanya bersamaan.

Anna tiba lebih dulu dan menyodorkan kertas nilainya. “Abi, lihat! Anna dapat nilai bagus!”

AmorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang