Teror 2

2.5K 199 5
                                        

Happy Reading :)

Jangan lupa Vote dan Komen.

Kritik dan Saran dipersilahkan :)

---

Kegiatan Kia kembali seperti dulu, sebelum ia pergi ke Kalimantan. Ia kembali mengurus santri tim redaksi. Santri-santri pun senang karena kegiatan mereka akhirnya aktif lagi.

“Jadi, kita akan aktif nerbitin majalah lagi, Ning?”

“Iya. Bukannya kalian sudah lama nggak jalanin kegiatan ini, kan?”

“Iya, Ning. Sejak Ning Kia pergi, tim redaksi terbengkalai. Kami nggak ada semangat, nggak ada motivasi buat nulis atau nyari berita.”

“Oke, sekarang saya sudah kembali. Dan kita akan produktif lagi,” tutur Kia mantap.

Semua santri yang mengikuti kegiatan redaksi mengangguk setuju. Mereka mulai menyusun kembali jadwal kegiatan mereka.

Biasanya tim redaksi bekerja di perpustakaan, tapi hari ini Kia sengaja mengajak mereka bekerja di gazebo taman pondok.

Semua anggota tim adalah santri perempuan. Untuk santri laki-laki, Kia sudah menunjuk ketuanya sendiri melalui Tsaqib.

Kia memang tidak bisa memantau kegiatan santri putra secara langsung, tapi Tsaqib membantu menjalankan tugas itu.

Para santri putra diminta mengabadikan setiap momen penting pondok, lalu mengunggahnya menjadi berita di majalah yang akan terbit, atau di media sosial pondok.

Menjelang waktu zuhur, Kia menyudahi kegiatan bersama para timnya. Ia meminta mereka kembali ke aktivitas berikutnya: shalat berjamaah.

Kia pun kembali ke rumah untuk menemui kedua putrinya.

---

“Assalamu’alaikum, putri-putri Bunda…”

Cettakkk!

Langkah Kia terhenti mendengar suara benda terlempar.

“Siapa yang nggak sopan seperti ini?” ucapnya, sedikit kesal.

Sebuah botol air mineral besar tergeletak di depannya. Seseorang sengaja melemparkannya, nyaris mengenai kepala Kia.

Botol itu dibalut kertas putih. Kia yang penasaran tidak langsung membuangnya.

“Sedikit berat,” gumamnya.

Ia membuka balutan kertas itu, lalu seketika menjatuhkannya.

“Innalillahi…” serunya, menutup mulutnya kaget.

Seekor bangkai tikus kecil berlumuran darah ada di dalam botol itu. Tangan Kia yang gemetar memungut kertas yang ikut terlempar.

You Must Die!

Lagi-lagi ada kode HAI32! di bawah tulisan itu.

Kia menatap sekeliling, mencari sosok yang mungkin menerornya. Tapi nihil. Halaman rumahnya sepi.

“Ki, kenapa nggak masuk, Sayang?” tanya Tsaqib heran, melihat istrinya yang terdiam di teras.

Kia terkejut. Ia cepat menyembunyikan kertas itu. “Emm, lagi nyari angin, Kak. Lagi gerah,” bohongnya.

Alasan itu jelas tak masuk akal bagi Tsaqib — di rumah mereka sudah ada pendingin ruangan. Ia mendekat, meneliti wajah Kia. Kia mendadak canggung, meremas tangannya gugup.

Tsaqib mengangkat dagunya lembut. “Lihat Kakak.”

Tatapannya lekat. “Kamu pucat. Sakit?” tanyanya, menempelkan telapak tangan ke dahi Kia.

AmorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang