Happy Reading :)
Jangan lupa Vote dan Komen.
Kritik dan Saran dipersilahkan :)
*****
Flashback On
"Sebenarnya, siapa dia?" tanya Muh dengan suara tenang namun penuh tekanan. Matanya tak lepas dari Kia yang sudah berada di rumah Kai Arul.
Dia mengejar Kia dengan sepenuh hati, bahkan sampai mengikuti taksi yang ditumpangi Kia. Sama seperti Tsaqib yang juga berusaha mengejar, hanya saja Tsaqib terlambat—dia hanya sempat melihat di mana Kia tinggal.
"Dia… Kak Tsaqib," jawab Kia pelan.
Muh tersenyum getir, senyum yang lebih mirip luka daripada kebahagiaan. Saat itu juga dia mengerti alasan Kia menjauh, alasan Kia memilih pergi.
"Apa Maira tahu tentangnya?" tanyanya lagi.
Kia terdiam. Keheningan itu cukup menjadi jawaban.
"Nona," Muh menatapnya dengan mata teduh, "kutahu kau kecewa, tapi tidakkah kau berpikir kalau Maira akan lebih kecewa bila terus disembunyikan dari kebenaran?"
Kata-kata itu membuat dada Kia sesak. Muh bukan hanya mencintai dan menyayanginya, tapi juga berusaha bijak. Dia rela menahan rasa, meski jelas terlihat ada cinta di balik matanya. Muh tahu, tatapan Kia pada Tsaqib masih menyimpan rindu yang dalam.
"Cobalah berdamai, Nona. Kembali atau tidak, itu tetap keputusanmu. Tapi ingat… Maira juga membutuhkan sosoknya." Suaranya melemah, namun penuh ketulusan.
"Sebaiknya, kau juga menceritakan pada Maira tentang keberangkatanku," lanjutnya.
Kia menoleh, menatap Muh dengan mata berair dan penuh rasa sakit. "Andai kau tahu… ternyata kau sama saja, Tuan. Sama jahatnya."
Muh hanya bisa menunduk. Dia tak kuasa menatap balik mata Kia yang penuh luka. Tanpa sepatah kata lagi, dia melangkah pergi, meninggalkan gadis yang selama ini menjadi pusat debar di hatinya.
Flashback Off
"Nak…" suara lembut Kai Arul memecah lamunannya. Beliau menepuk pundak cucunya pelan.
Kia terlonjak kecil, lalu tersenyum simpul. "Kai…"
Ia sedang duduk di gubuk belakang rumah, seorang diri. Maira sedang bersama Nini di ruang makan, menikmati sarapan. Sedang Kia, enggan menyentuh makanan apapun.
Kai Arul duduk di sampingnya, lalu Kia menyandarkan kepala manja di bahu sang kakek.
"Kenapa ndak makan?" tanyanya pelan.
Kia menggeleng. "Kia nggak lapar, Kai…"
Kai menghela napas. "Nak, jangan sampai karena masalah yang kamu alami, kamu mendzalimi tubuhmu sendiri. Kalau lapar, makanlah. Jangan mogok makan."
Kata-kata itu terasa menampar Kia. Benar. Luka hati pun butuh tenaga untuk dihadapi.
"Iya, Kai. Sebentar lagi Kia makan. Kai sudah makan?"
"Sudah, Nak."
Kia memejamkan mata, membiarkan angin pagi menyapu wajahnya.
Tiba-tiba Kai menyodorkan sebuah amplop. "Ini, dari Nak Muh. Dia menitipkan semalam sepulang dari masjid."
Kia menatap bingung. Setelah menerima amplop itu, ia mengangguk pelan. "Terima kasih, Kai."
Kai tersenyum menenangkan. "Nak, apapun yang terjadi, yakinlah… itu yang terbaik menurut Allah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Amor
Fiksi RemajaBukan tentang memiliki atau dimiliki. Tapi, tentang ketetapan hati. ⚠ PLAGIAT GAUSAH MAMPIR! Highest Rank : 2 Kia ---- 12/ 06/ 2022 2 Ning -- 22/ 11/ 2022 1 Ning -- 26/ 11/ 2022 6 Poligami -- 02/ 12/ 2022 4 Poligami -- 05/ 12/ 2022 3 Poligami -- 06...
