Penjelasan

4.6K 295 26
                                        

Happy Reading :)

Jangan lupa Vote dan Komen.

Kritik dan Saran dipersilahkan :)

*****

Sejak Kai Arul menyarankan, Kia tahu ini saatnya menghadapi Tsaqib. Saatnya berdamai, jika memang masih ada jalan. Perceraian memang diperbolehkan, tapi hatinya, entah mengapa, masih berusaha menyelamatkan cinta yang tersisa.

Udara sore itu terasa berat. Angin berhembus membawa aroma tanah basah, sisa hujan tadi siang. Suara jangkrik mulai terdengar dari balik semak-semak. Dari kejauhan, perbukitan hijau berdiri kokoh, bagai saksi bisu yang menatap pertemuan mereka.

Di belakang rumah, Tsaqib sudah menunggu. Anna sempat berada di gendongannya, tapi kini anak itu lebih memilih bermain bersama Maira. Kedua bocah itu berlari-lari kecil, tawa mereka sesekali pecah meski ada tangis yang menyusul. Sementara itu, keheningan di antara Kia dan Tsaqib semakin menekan.

“Maaf menunggu,” Kia akhirnya membuka suara.

Tsaqib menoleh, bibirnya melengkung tipis, tapi mata itu menyimpan ribuan rasa. “Tidak apa. Kakak juga tidak bosan. Sekalian tafakkur.” Tatapannya mengarah ke bukit, seakan mencari kekuatan dari hamparan hijau itu.

Kia mengikuti arah pandangnya. Langit sore berwarna jingga, awan tipis bergerak perlahan. Di hatinya, ia bertanya lirih, Bagaimana kabarmu di sana, Muh? Apakah kau bahagia? Senyum Muh yang hangat, tatapan lembutnya pada Maira, semua berkelebat tanpa diundang.

“Kia…” suara Tsaqib memecah lamunannya. “Apa yang kau pikirkan? Ragamu ada di sini, tapi jiwamu berkelana entah kemana.” Ucapannya lembut, tapi tajam, seakan menembus lapisan batin Kia yang paling dalam.

Kia menunduk, jemarinya saling meremas. “Tidak ada yang penting…” jawabnya singkat.

Tsaqib menghela napas panjang. “Baiklah. Tapi sebelum Kakak bicara panjang… kau tidak ingin tahu kabarku? Tentang Ummi, Abah, tim redaksi… tentang keadaan setelah kau pergi?”

Hati Kia bergetar, tapi ia menutupinya dengan lirih, “Tidak. Aku yakin kalian baik-baik saja.”

Sejenak Tsaqib menatapnya, matanya menyipit, seakan membaca sesuatu di balik kata-kata Kia. “Baiklah… sekarang giliran Kakak bertanya. Siapa lelaki itu?”

Kia mengangkat wajah, mengernyit. “Lelaki siapa? Muh?”

“Iya,” jawab Tsaqib singkat, tapi nadanya menyimpan badai.

Kia menghela napas, lalu tersenyum hambar. “Kalau begitu, jelaskan dulu tentang Ning Zira. Jangan mengalihkan tujuan kedatanganmu.”

Tsaqib terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. Sabar. “Baiklah. Akan Kakak jelaskan…”

---

Flashback – Istanbul

Langkah Muh menyusuri jalanan berbatu Istanbul terasa berat. Di sampingnya, Aiyla Defne Sezen berjalan anggun dengan kerudung krem yang sederhana. Di depan mereka, Hagia Sophia berdiri megah, seakan menyimpan ribuan rahasia zaman.

“Jadi… kau benar-benar mencintainya?” tanya Ai, suaranya pelan tapi menusuk.

Muh tersenyum miris. “Hmm… iya. Tapi sayangnya, cintanya sudah habis pada yang pertama.”

AmorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang