Teror 1

3.5K 233 8
                                        

Happy Reading :)

Jangan lupa Vote & Komen.

Kritik dan Saran dipersilahkan :)

---

Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya Kia mau ikut Tsaqib kembali ke Cirebon. Kedua orang tua dan mertuanya begitu bahagia mendengar kabar itu, mereka pun antusias menyambut kedatangan menantu serta cucu-cucunya.

Di ndalem utama, Ummi Salamah dan Bunda Rahmah sibuk mempersiapkan banyak hidangan — mulai dari makanan kesukaan Kia hingga menu favorit cucu-cucu mereka.

“Saya bahagia, keluarga kita akhirnya bersatu lagi. Ini semua karena kebaikan Kia,” ungkap Ummi Salamah tulus.

Bunda Rahmah hanya tersenyum mendengarnya. Ia yakin, Kia tak akan mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang.

---

Suara deru mesin mobil memasuki pekarangan pondok. Para pengurus dan tim redaksi sudah menunggu dengan wajah sumringah. Sebuah spanduk bertuliskan ahlan wa sahlan dibentangkan oleh beberapa orang.

Kia terharu melihat itu.

“Ning, ahlan wa sahlan,” sambut Syila sambil menyerahkan sebuket bunga. Dengan bahagia Kia menerimanya.

Kia memeluk erat sahabatnya. “Syilaaa, aku kangen,” serunya.

“Sama, Ning. Syila juga kangen,” balasnya lembut.

Setelah lama bertegur sapa, Kia, Tsaqib, dan kedua putrinya pun masuk ke ndalem.

Tanpa disadari siapa pun, seseorang di kejauhan tersenyum tipis melihat kedatangan Kia.

“Selamat datang,” ucapnya dingin, lalu berlalu pergi.

“Assalamualaikum,” sapa Kia begitu tiba di ndalem.

“Wa ’alaikumussalam,” jawab Bunda Rahmah sembari memberikan pelukan hangat.

“Bunda.”

“Iya, Sayang. Bunda di sini,” balasnya lembut.

Kia memeluk bundanya erat. “Bunda, maafkan Kia,” ucapnya di sela tangis yang tiba-tiba luruh.

“Tidak apa-apa, Sayang. Bunda ngerti kok. Itu ujian hidup buat kamu, dan kamu berhasil melewatinya. Anak bunda hebat.”

“Kia.”

Ummi Salamah memanggil pelan, membuat Kia melepaskan pelukan pada bundanya. Ia berganti memeluk sang mertua.

“Ummi.”

“Maafkan Ummi, Nak… Maaf, Ummi sudah menyalahkanmu.”

“Tidak, Ummi. Ummi tidak salah.”

Sifat pemaaf Kia membuat Ummi Salamah kian bangga. Selain lembut dan sabar, Kia juga berhati lapang.

---

“Kau sudah melakukan sesuatu?” tanyanya pada seseorang di seberang.

“Belum.”

“Kapan kau akan bertindak? Jangan terlalu lama!” geramnya.

“Sabarlah, dia baru tiba.”

Tanpa menanggapi lebih lanjut, orang itu langsung mematikan sambungan telepon. Senyum licik mengembang di wajahnya, diselimuti gelap malam.

“Tunggu. Aku akan sedikit bermain denganmu,” ucapnya penuh tekanan.

---

“Anna, kembalikan bonekaku!” teriak Maira dengan suara cempreng.

AmorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang