Happy Reading :)
Jangan lupa Vote dan Komen.
Kritik dan Saran dipersilahkan :)
*****
S
uara kicauan burung menjadi nyanyian pagi pertama yang menyapa indra pendengaran. Sinar matahari mulai mengintip dari celah jendela. Senyum Kia ikut merekah. Ia begitu bahagia—hari ini ia diperbolehkan pulang setelah satu minggu dirawat di rumah sakit.
“Bundaaa!”
Maira masuk ke ruang rawat Kia dengan wajah sangat ceria. Di belakang putrinya, Ummi Salamah menyusul menemani.
“Assalamu’alaikum, Nak.”
“Wa’alaikumussalaam, Ummi.” Kia menatap heran. Biasanya Ummi Salamah akan diantar Tsaqib atau bersama Abah mertuanya jika ingin menemuinya.
“Ummi sendiri?” tanyanya.
“Ummi sama Abah, Nak. Tapi Abah masih ke kantin sebentar, lagi mencari makan,” jelas Ummi Salamah.
Kia ingin sekali menanyakan keberadaan Tsaqib, tetapi ia menahannya. Ia yakin, nanti suaminya pasti akan menyusul.
Beberapa menit setelah kedatangan mertuanya, Muh datang kembali, menepati janjinya pada Kia dan Maira.
“Assalamu’alaikum,” sapanya.
Maira yang senang dengan kedatangan Muh langsung menggandeng tangan pria itu.
“Wa’alaikumussalaam,” jawab Kyai Musthofa dan Bu Nyai Salamah bersamaan.
“Maaf, Pak Kyai,” ucap Muh sopan, “saya ingin izin membawa Kia dan Maira berjalan-jalan sebentar di taman rumah sakit.”
Kyai Musthofa tersenyum. “Apakah sudah diperbolehkan oleh dokter?”
“Alhamdulillah, sudah.”
“Kalau begitu, silakan.”
Ummi Salamah membantu Kia duduk di kursi roda yang telah disiapkan.
“Terima kasih, Ummi.”
“Sama-sama, Nak.”
Muh mendorong kursi roda Kia dan menggandeng tangan Maira menuju taman rumah sakit, sesuai janjinya.
“Tuan, kenapa kau harus merepotkan diri?” tanya Kia pelan.
“Tidak,” jawab Muh ringan.
“Aku mengajakmu dan Maira memang karena keinginanku sendiri. Jadi aku tidak merasa repot.”
Kia menghela napas lelah. Percuma saja berdebat dengan Muhammad—pada akhirnya, lelaki itu selalu menang.
Tsaqib yang memiliki jadwal ta’lim terpaksa berangkat ke rumah sakit bersama Anna. Abah dan Umminya sudah berangkat sejak pagi.
“Abi, kapan Bunda boleh pulang?” tanya Anna polos.
“Doakan secepatnya, ya, Sayang.”
Dengan tatapan nanar, Tsaqib mengemudikan mobil hingga tanpa terasa sudah tiba di parkiran rumah sakit.
Kia sungguh tak mampu menghentikan gelak tawanya. Muh selalu berhasil membuatnya merasa tak memiliki beban. Begitu pula Maira, bocah kecil itu tampak tak kalah bahagia bersama bundanya.
“Nona,” ucap Muh, “cobalah sesekali mengganti panggilan itu. Aku sudah bosan dipanggil ‘Tuan’.”
Kia tertawa renyah. “Bukankah kita sudah pernah membahasnya? Lagipula aku sudah terlalu nyaman. Panggilan ‘Tuan’ itu lebih estetik, tahu.”
Muh terkekeh. “Ya sudah,” pasrahnya.
“Atau kamu bisa memanggil Kakak. Sepertinya tidak buruk.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Amor
Roman pour AdolescentsBukan tentang memiliki atau dimiliki. Tapi, tentang ketetapan hati. ⚠ PLAGIAT GAUSAH MAMPIR! Highest Rank : 2 Kia ---- 12/ 06/ 2022 2 Ning -- 22/ 11/ 2022 1 Ning -- 26/ 11/ 2022 6 Poligami -- 02/ 12/ 2022 4 Poligami -- 05/ 12/ 2022 3 Poligami -- 06...
