Die?

4.7K 313 30
                                        

Happy Reading :)

Jangan lupa Vote dan Komen.

Kritik dan Saran dipersilahkan.

*****

Di tempat lain, kondisi Ning Zira masih sama. Ia begitu enggan untuk bangun. Bayinya sudah lahir melalui operasi caesar, dan kini anak itu telah berusia sembilan bulan.

“Ning, sampai kapan kamu mau terus tidur? Anna membutuhkanmu, pondok juga membutuhkanmu. Kamu terlalu lama tidur, Ning. Mas pun sekarang tidak tahu Kia ada di mana... Mas nggak tahu bagaimana keadaannya...”

Sudah cukup lama Tsaqib berada di ruang rawat Ning Zira bersama Anna, putri kecil mereka. Seperti biasa, ia selalu mengajak Anna bercerita di samping ibunya yang terbaring tak berdaya.

Anna menatap heran ketika melihat air mata menetes di wajah sang Abi. Dengan polos, tangan mungilnya menyentuh pipi Tsaqib yang basah.

“Abi nggak apa-apa, sayang. Anna tadi sudah makan?” tanyanya, berusaha tegar.

Anna mengerjap polos, seolah mengerti pertanyaan itu.

“Mam... mam...” gumamnya sambil menepuk-nepuk tangan Zira.

Mendengar panggilan itu, dada Tsaqib seperti dihimpit ribuan ton batu. “Sabar ya, Nak... Doakan Umma cepat bangun.”

Sudah sembilan bulan Ning Zira terbaring koma. Segala upaya dokter tidak mampu membangunkannya, hingga akhirnya semua alat penunjang kehidupan terpaksa dilepas. Tubuhnya yang dulu sehat, kini semakin kurus. Tsaqib dan orang tuanya hanya bisa menahan sedih.

Di tengah semua itu, Tsaqib tak pernah berhenti mencari Kia. Ia sering pergi ke Yogyakarta, meski mertuanya tetap enggan memberi tahu. Kepergian Kia bukan hanya membuatnya kehilangan istri, tapi juga membuat santri-santri di bawah didikan Kia terlantar.

---

Malam Minggu.
Kia, tanpa kesibukan, hanya duduk di teras rumah setelah menidurkan peri kecilnya yang baru berusia dua bulan. Ia menatap langit penuh bintang. Gelapnya malam justru membuat cahaya bintang semakin terang.

Namun pikirannya berulang kali kembali pada ucapan sang Bunda lewat telepon siang tadi.

“Nak, sampai kapan kamu bersembunyi? Maira juga butuh sosok ayah. Apa kamu tidak memikirkan anakmu?”

Hatinya tercekat. Ia sedih melihat putrinya tumbuh tanpa sosok Abi.

Apa aku terlalu egois? batinnya.

Srekk— suara kursi ditarik membuatnya tersadar. Muh duduk di kursi sampingnya.

Setiap malam Minggu, lelaki itu selalu mengajak putrinya ke pasar malam. Tapi kali ini, putrinya sudah tidur lebih cepat, sehingga ia hanya menemani Kia.

“Tuan...” panggil Kia.

“Iya, sayang,” jawab Muh santai.

Kia mendengus geli. Lelaki itu selalu punya cara membuatnya tertawa, meski dalam hatinya Kia hanya menganggap Muh sebagai teman.

“Apa menurutmu aku terlalu egois?” tanyanya lirih.

“Hm... sedikit,” jawab Muh apa adanya.

Kia terdiam. Otaknya menolak untuk mempertemukan Maira dengan Tsaqib, namun hatinya ingin putrinya mengenal sang Abi.

“Oekkk... oekkk...” tangisan bayi memecah suasana. Kia dan Muh serentak menoleh. Kia segera masuk ke kamar, menenangkan Maira.

“Cup... cup... sudah sayang. Kenapa terbangun, hm?” ucap Kia sambil menggendong.

AmorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang