Happy Reading :)
Jangan lupa Vote and Komen.
Kritik dan Saran dipersilahkan :)
---
Perpustakaan yang sepi membuat Kia betah berada di sana. Hari ini, ia ingin memecahkan kode itu. Beberapa buku sudah ia telusuri untuk mencari jawaban. Nihil. Belum ada titik terang.
Ia memejamkan mata, berusaha mengistirahatkan pikirannya. Sikap dingin Tsaqib padanya — dan pada Maira — benar-benar mengganggunya. Kia lelah.
Seseorang tersenyum sinis dari balik jendela, menatap ke arahnya. “Sampai kapanpun kau tak akan menemukan buku ini, Ning…” bisiknya.
Kia beranjak, meletakkan buku-buku yang ia baca ke tempat semula. Ia butuh menyegarkan pikiran. Ia berjalan-jalan di sekitar pondok.
“Assalamu’alaikum, Ning.”
“Wa ’alaikumsalaam, ada apa, Mbak?”
“Ning Kia dipanggil Kyai di ndalem utama.”
Tumben Abah memanggil, batin Kia.
Kyai Musthofa jarang memanggilnya lewat santri kecuali untuk hal penting. Sebagai bentuk ta’dzim pada Abah mertuanya, Kia segera bergegas menuju ndalem utama.
---
“Jangan terburu-buru menyimpulkan, Nak. Abah dan Ummi tidak mau kamu salah mengambil keputusan lagi,” tutur Abahnya tegas.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa ’alaikumussalaam. Masuklah, Nak.”
“Abah memanggil Kia?”
Kyai Musthofa tersenyum teduh. Tapi Kia justru kebingungan. Ternyata bukan hanya dia di sana — Tsaqib juga ada, duduk diam.
“Duduklah. Bukan Abah yang mau bicara, tapi suamimu.”
Kia menuruti. Ia menatap Tsaqib yang tampak enggan menoleh padanya.
“Kakak, kenapa?” tanyanya pelan.
Tsaqib meliriknya, tapi tatapan itu penuh muak. Semua nasihat dari Abah seakan masuk telinga kanan keluar kiri. Ia berdiri dan berjalan pergi.
“Kakak, tunggu!” Kia mengejarnya. Ia tak tahu persoalan apa yang sebenarnya ingin diluruskan suaminya.
Tsaqib tetap tak menghiraukannya. Hingga di ruang tamu, Kia berhasil meraih tangannya.
“Kakak, sebenarnya apa salah Kia? Kenapa Kakak marah?”
Tatapan tajam Tsaqib membuat nyali Kia menciut.
“Kamu tanya apa salahmu, Ki?” katanya dingin.
Ia melempar beberapa lembar foto ke arah Kia. Foto-foto itu bertebaran di lantai.
Kia menunduk, mengambil satu. Napasnya tercekat. Itu foto dirinya bersama Muh.
“Kia bisa jelaskan foto ini?”
“Kalau begitu jelaskan!” bentaknya.
Kia menghela napas berat. “Sepertinya foto ini diambil waktu kita tabarrukan, Kak. Aku—”
Tsaqib menunjukkan satu foto lagi. Kali ini tubuh Kia kaku. Di foto itu tampak Muh seperti sedang menciumnya.
“Lalu yang ini? Apa kamu bisa jelaskan juga?”
Kia terdiam.
“Kenapa, Ki? Terkejut?”
Kia menatap Tsaqib, melihat jelas luka dan kecewa di matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amor
JugendliteraturBukan tentang memiliki atau dimiliki. Tapi, tentang ketetapan hati. ⚠ PLAGIAT GAUSAH MAMPIR! Highest Rank : 2 Kia ---- 12/ 06/ 2022 2 Ning -- 22/ 11/ 2022 1 Ning -- 26/ 11/ 2022 6 Poligami -- 02/ 12/ 2022 4 Poligami -- 05/ 12/ 2022 3 Poligami -- 06...
