Habib Basirih

4K 261 18
                                        

Happy Reading :)

Jangan lupa Vote dan Komen.

Kritik dan Saran dipersilahkan :)

******

Sesuai ucapannya, Muh benar-benar meminta waktu sepekan pada Kia untuk menulis sebuah kisah bersama.

Awalnya Kia menolak mentah-mentah permintaan itu. Baginya, apa yang Muh minta terlalu berlebihan. Namun lelaki itu tidak menyerah, ia kembali memohon dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya Kia luluh. Meski begitu, Kia tetap memberi syarat: Maira harus ikut serta dalam perjalanan tujuh hari itu.

Dia tidak mau jika hanya berdua dengan Muh.

Pagi-pagi sekali, Muh sudah berdiri di depan rumah Kai Arul. Dengan sabar ia menunggu Kia dan Maira yang sedang bersiap.

"Ayahhh!" seru Maira riang begitu melihat Muh.

Lelaki itu langsung sigap menggendong bocah mungil itu. Maira tampak begitu menggemaskan dengan gamis kecil berwarna pastel yang dipadukan hijab instan khusus anak-anak.

"Kenapa kamu cantik sekali sih?" pujinya dengan suara penuh gemas.

Kia tersenyum tipis menyaksikan interaksi keduanya. Namun jauh di dalam hati, ada rasa getir yang sulit ia sembunyikan.

"Ayo berangkat!" ucapnya singkat.

Muh bergegas membuka pintu depan mobil, tepat di samping kemudi. "Masuklah."

"Biarkan aku duduk di belakang saja, Tuan."

Muh menoleh dengan seringai kecil. "Maaf, Nona. Aku bukan supirmu. Jadi duduklah di depan, hmm."

Kia menghela napas panjang, memutar bola mata dengan kesal. Akhir-akhir ini, Muh memang semakin sering mencari celah untuk menggodanya.

Dengan gerutuan dalam hati, Kia terpaksa duduk di kursi depan. Maira ditempatkan di antara mereka berdua.

---

Sepanjang perjalanan, Kia hanya diam sambil menatap lurus jalanan yang asing baginya. Ia benar-benar merasa jauh dari Loksado.

"Sebenarnya kau akan membawa kami ke mana, Tuan?" tanyanya akhirnya.

Muh melirik sebentar dengan senyum iseng. "Apa kau takut aku menculik kalian, hmm?"

"Huh! Bukan begitu. Hanya saja... kurasa ini sudah jauh sekali dari Loksado," bantah Kia.

"Tenanglah. Aku sudah meminta izin pada Kai Arul. Bahkan kalau aku membawamu ke Turki, beliau tetap akan mengizinkan," jawabnya enteng.

"Tuan! Jangan bercanda. Fokuslah menyetir!"

Muh terkekeh, tawa kecilnya memecah suasana hening. Sementara Kia kembali menatap jalanan, tangannya sesekali mengelus lembut kepala Maira yang sudah tertidur pulas di pangkuannya.

Kriuk... kriuk...

Suara perut yang lapar membuat Muh menoleh. Seketika tawanya pecah.

"Sepertinya ada yang memanggilmu dari dalam sana, Nona."

Pipi Kia memanas di balik cadarnya. Malu sekali.

AmorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang