Happy Reading :)
Jangan lupa Vote dan Komen.
Kritik dan Saran dipersilahkan :)
*****
40 hari kematian Ning Zira sudah berlalu. Tsaqib pun sudah mengikhlaskan kepergiannya. Sekarang fokus Tsaqib hanya mencari keberadaan Kia.
"Nak, kamu yakin mau pergi kesana?"
Raut khawatir jelas tercetak di wajah Ummi Salamah yang tidak lagi muda.
"Ummi hanya bisa mendoakanmu, berhati-hatilah perjalanan yang kamu tempuh cukup jauh," nasihat Ummi Salamah pada Tsaqib.
Anna kecil berdiri di samping Abinya sambil memegang erat tangan Tsaqib. Sejak mendengar rencana perjalanan itu, bocah mungil itu tidak mau ditinggalkan. Akhirnya, Tsaqib memutuskan untuk mengajaknya ikut serta. Baginya, meski perjalanan panjang menanti, keberadaan Anna justru menjadi penguat semangatnya.
Semuanya berawal dari dua hari yang lalu, Tsaqib kembali memohon pada mertuanya. Awalnya Bunda Rahma tetap keukeh tidak mau memberitahukan, tapi setelah mendengar penjelasan Tsaqib dan melihat Anna kecil yang polos, dia menyampingkan egonya. Bagaimanapun Anna masih membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu. Namun, keputusan untuk kembali pada Tsaqib, Rahma tetap menyerahkan sepenuhnya pada sang putri.
"Abah, doakan Tsaqib agar bisa membawa Kia kembali."
"Abah selalu mendoakanmu, Nak. Pergilah!"
---
Gelak tawa memenuhi ruang tamu rumah Kai Arul. Pelakunya bukan orang lain, melainkan cucu dan cicitnya sendiri.
", coba liat bunda, bunda culangg," adu Maira pada Muh.
"Nona, kau tidak boleh seperti itu, ayo Mai, kamu gelitik saja Bunda," ucap Muh memprovokasi Maira.
Menuruti perintah Muh, Maira menggelitik perut Kia tanpa ampun.
"Hahaha, sudah sayang, bunda menyerah, capek," keluhnya ngos-ngosan.
"Yeayyy bunda talahh," sorak Maira senang.
Muh yang memperhatikan dua perempuan di depannya juga ikut merasa bahagia.
"Ayah, ayo beli es!"
"No! Maira baru sembuh." Sergah Kia tak setuju.
Beberapa hari lalu Maira mengalami batuk dan pilek. Mungkin karena cuaca yang tidak menentu membuat imunnya terganggu.
"Ayahh," rengeknya meminta pembelaan Muh.
Kia memutar bola mata malas. Muh paling tidak bisa menolak permintaan Maira jika anak itu sudah merengek.
"Persis sifat kecilmu, Nak," celetuk Kai yang keluar dari dapur.
Kia kecil persis seperti Maira. Dia akan merengek manja pada Kainya saat ayahnya tidak membelikan apa yang diinginkan. Dan Bunda Rahma akan memarahinya.
"Biarkan saja dia pergi sama Muh, Nak. Kamu tetaplah di rumah," izin Kainya.
Muh tersenyum, "tenanglah aku tidak akan membelikan terlalu banyak," jawabnya menenangkan kekhawatiran Kia.
"Baiklah, terserah saja."
Maira bersorak bahagia. Seketika bocah kecil itu loncat ke gendongan Muh, yang untungnya berhasil ditangkap dengan sigap. "Hati-hati, sayang," tegur Kia.
Muh dan Maira pun bergegas keluar untuk membeli apa yang diinginkan bocah itu. Sesuai janjinya pada sang bunda, Muh tidak akan membelikan Maira banyak es krim seperti biasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amor
Fiksi RemajaBukan tentang memiliki atau dimiliki. Tapi, tentang ketetapan hati. ⚠ PLAGIAT GAUSAH MAMPIR! Highest Rank : 2 Kia ---- 12/ 06/ 2022 2 Ning -- 22/ 11/ 2022 1 Ning -- 26/ 11/ 2022 6 Poligami -- 02/ 12/ 2022 4 Poligami -- 05/ 12/ 2022 3 Poligami -- 06...
